"Dokter, dokter, ia mulai membuka matanya. Ia mulai sadar dok," suara tangisan Ibu Nina terdengar di telinga gadis yang terbaring lemah di ranjang. Nina segera membuka matanya lebar, terkejut melihat infus di tangan kirinya. Ibu dan adiknya menangis, ayahnya cemas, mereka semua berdiri di sekitar ranjangnya.
"Kenapa aku ada di sini, Bu?"
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa kalian semua menangis?"
Ibunya menangis lebih kencang, ayahnya yang tampak lebih mampu mengendalikan emosi, mulai menjawab.
"Nina, kamu sudah tidak sadar semenjak malam ulang tahunmu yang ketujuh belas, ini hari ke 3 kamu berada di rumah sakit," Nina terkejut.
Ia berusaha bangkit dan menyusun banyak pertanyaan di kepalanya, tapi ada yang mengganggu perasaannya. Tangan kanannya yang berada di dalam selimut terasa menggenggam sesuatu. Dia ingat apa itu, dengan cepat ia sibakkan selimutnya, lalu mengangkat apel merah yang tergenggam di sana.
Apel yang masih segar itu, dalam hitungan detik langsung mengalami oksidasi dan pembusukan. Membuat mereka yang menyaksikan terkejut, karena sudah mengeluarkan aroma busuk yang menyengat, Nina melemparkannya ke lantai dan langsung muntah.
(1 tahun yang lalu)
Suasana sedih yang masih menyelimuti villa Sinyo Sunyoto berubah menjadi tegang. Hal ini dimulai ketika putra tertua dari Sinyo Sunyoto, Purwoto mengumpulkan ketiga adiknya Dwi, Tri dan Hadi, beserta istri mereka di ruang tengah. Anak-anak bersama para pembantu di ruangan lain.
"Bapak dan Ibu sekarang sudah tiada, aku sebagai Kakak tertua akan menyampaikan sebuah rahasia keluarga kita yang harus kalian ketahui," ujar Pakdhe Purwo.
"Seperti yang kalian ingat cerita bapak kita, betapa susah ekonominya dulu. Kisah yang sebenarnya jauh lebih parah, aku tahu karena mendiang Kakek kita, Broto Sunyoto sering menceritakannya kepadaku ketika beliau masih hidup. Bapak dulu dari keluarga kaya dengan banyak sawah, hidup mereka makmur, tapi karena peristiwa politk 65, keluarga bapak difitnah, mereka semua di penjara dengan menunggu giliran akan ditembak mati di lapangan seperti warga sedesanya. Mereka semua yang divonis mati oleh para tentara saat itu, hanyalah para petani, peternak dan tukang pemecah batu biasa yang tak pernah ikut dalam gerakan politik apapun. Tanpa sidang resmi semua dibantai. Seluruh harta, rumah, tanah sawah mereka dirampas oleh tentara. Kakek kita, Broto Sunyoto berhasil kabur membawa keluarganya dari penjara setelah berhasil mengelabui tentara yang berjaga. Mereka hidup di hutan untuk beberapa waktu, bertahan dengan air hujan, dedaunan dan buah yang mereka dapat di sana. Singkat cerita setelah beberapa bulan menjadi orang hutan, mereka memberanikan diri keluar dan menjadi pengemis di jalanan hingga mereka mampu menumpang truk sayur ke kota. Kehidupan sangat sulit, mereka tidur di emperan toko, bekerja serabutan, hingga ayah kita sebagai putra sulung tak tahan lagi, apalagi melihat Bapak dan Ibunya sakit-sakitan. Bapak yang beranjak dewasa menemukan banyak kesulitan hidup terutama ketika hendak menikahi anak juragan bakso, ibu kita, Ratri. Dia yang putus asa, mencari jalan lain untuk mendapatkan kesuksesan, yaitu dengan perjanjian setan."
"Pesugihan yang dilakukan Bapak mulanya tidak pernah meminta tumbal manusia sebagai perjanjiannya, hanya kepala kambing hitam pada tahun-tahun awal. Aku ingat sewaktu kecil, aku sering diajak Bapak pergi membeli 7 ekor kambing yang tidak pernah kita makan dagingnya. Ia juga pergi menemui beberapa dukun melakukan entah apa. Namun namanya setan pasti akan berusaha menjebak dan menyesatkan kita. Setelah beberapa tahun, mereka malah meminta tumbal manusia, Bapak tak kuasa menolak jika yang diancam akan diambil adalah keluarganya sendiri, akhirnya Bapak mencari manusia lain untuk ia tumbalkan. Seluruh orang yang dulu bertugas melakukan pembantaian di desanya. Satu persatu mati hingga tak bersisa. Bapak hendak memutus kontrak itu, tapi syaratnya sangat mahal. Secara spesifik, iblis itu meminta salah satu dari cucunya sebagai tumbal,"
"Ini semua sudah dirangkum dalam surat wasiat yang Bapak Ibu tulis dan tanda tangani, aslinya saya pegang, kalian bisa melihatnya sekarang, yang saya katakan semua ada dalam surat ini, Nina harus menjadi tumbal terakhir guna mengakhiri kontrak pesugihan ayah kita Sinyo Sunyoto dengan Danyang alas Pati Jiwo" ujar Pak Purwo sambil menyerahkan surat tersebut.
Adik-adik Purwo berkumpul dan membaca surat tersebut bersama dengan seksama. Tak lama kemudian Rahma menjerit, Hadi berseru menolak. Perdebatan dengan Purwo pun tak terhindarkan.
"Tidak bisa! Tidak akan...!" seru Bu Rahma kencang.
"Maaf ya Di," ujar Purwo Sunyoto tulus.
"Mas Purwo! Ini tidak mungkin! Aku tidak akan menyetujuinya! Ini keterlaluan!" lontar Hadi Sunyoto.
"Syarat terakhir untuk memutus dan mengakhiri perjanjian sesat ini Di, kamu dan istrimu harus ikhlas, dia tidak akan mati, hanya-"
"Sama saja! Saya menolak keras! Dia, bahkan kami sekeluarga, tak ada kaitannya dengan perjanjian ini, Mas! Kami rajin beribadah, bersedekah dan bekerja sendiri hingga mendapat hidup layak! Tak sekalipun pernah bersentuhan dengan hal-hal sesat! Kenapa kami yang harus membayarnya?"
"Kamu pikir aku dan kakak-kakakmu yang lain turut bersekutu dengan setan seperti Bapak, Di? Tidak! Aku, kita semua sama, tidak terkait sedikit pun dengan laku pesugihan ini. Sama sepertimu, kita semua menjalankan pabrik kopi Sunyoto tidak dari nol, tapi bertahun-tahun setelah pabrik itu berdiri, bertahun-tahun setelah Bapak melakukan pesugihan! Namun kita harus menjalankan ritual terakhirnya guna memutus perjanjian sesat ini, Hadi! Lagipula hasil pesugihan Bapak itu sudah menjadi darah dan daging dalam tubuh kita. Ini memang tidak adil untuk kamu, tapi ini satu-satunya jalan! Bapak sudah berkonsultasi dengan banyak orang pintar setelah Nina lahir dan iblis jahat Bhimo itu mengajukan syarat tak terbantahnya. Percayalah, Bapak, sampai detik terakhir tidak ingin menyerahkan Nina kepada mereka! Pada saat Nina berumur 17 tahun, dia harus ditumbalkan kepada Bhimo, iblis yang memberikan pesugihan kepada Bapak. Aku sudah bertemu dengan banyak paranormal lain, merekapun semua angkat tangan. Ini satu-satunya cara, Di," lontar Purwo putus asa.
(masa kini)
Nina sudah pulang kembali ke rumah, tetapi tiap malam dia susah tidur karena stress. Ketika tidur pun ia sempat beberapa kembali ke hutan itu, tapi untungnya ia hanya bertemu wanita berkebaya hitam yang dipanggil Nyi Ireng itu yang mencengkeram tangannya lalu membuatnya terbangun. Nina jadi takut untuk tidur sekarang. Sudah 3 hari dia sengaja tak tidur, ini membuat keluarganya khawatir.
"Sampai kapan pun, aku tidak rela mas, menyerahkan anak kita kepada iblis yang dipuja ayahmu! Anak-anak kita tidak berdosa!"
"Aku juga terlambat mengetahui ini Bu, aku sama sekali tidak tahu sebelum kakak ku menceritakannya. Kamu sendiri ada di sana kan ketika Mas Purwo bercerita? Jika sedari kecil aku tahu, aku tidak akan pernah berani untuk menikah apalagi menjadi seorang ayah!" ujar Hadi getir.
"Siapa yang bisa membantu kita sekarang, Mas? Semua kenalan dokter ku tidak ada yang bisa membantu, begitupun paranormal, Pak Kyai juga gagal, kemana lagi kita harus meminta bantuan?"
"Ada sepupuku yang mungkin bisa membantu,"
"Halah, sepupu yang mana? Aku sudah muak kalau menyangkut dengan keluargamu itu, gak beres semua" lontar Rahma muak.
Hadi sudah lelah menjelaskan bahwa semua saudaranya sama seperti dirinya. Tidak tahu apa-apa sampai Mas Purwo menceritakan kisah kelam itu. Ia bergerak sendiri mencari bantuan tanpa Rahma tahu.
"Sepupu dari adiknya mendiang ayahku Bu, sebenarnya aku juga sudah lama tak bertemu dengannya karena ia sibuk bekerja di bank. Kita beberapa kali pernah bertemu dengannya di beberapa pesta, perkumpulan keluarga besar atau acara pejabat penting, mungkin kamu tidak ingat. Rano sekarang menjemput putranya dari stasiun untuk membantu kita."
Hadi sengaja merahasiakan nama sepupunya itu, dia cukup membuat heboh negara ini karena kasus skandal korupsinya dan kini di penjara. Rahma akan semakin marah, keluarganya yang sudah jatuh namanya ini akan semakin terinjak-injak. Jujur, Hadi pun tak habis pikir kenapa keluarganya bisa seperti ini. Dia setuju dengan Rahma bahwa mendiang ayahnya salah, tapi jika mendengar hujatan terhadap keluarganya terus tentunya Hadi kesal. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan Rano menyapa.
"Ayah, Ibu, ini Sore sudah datang,"
"Selamat siang om Hadi, tante Rahma,"
Sore Tentrem Atmojo, remaja berumur 19 atau 20 tahun ini adalah putra satu-satunya Tedjo Atmojo. Ia bertemu dengan Sore dan orang tuanya mungkin beberapa tahun lalu, sebelum Tedjo di penjara. Pria berusia 40 tahun itu mengunjungi Tedjo di sel dan bertanya-tanya tentang banyak hal. Hadi tahu dari bisik-bisik yang ia terima bahwa Tedjo pun dicurigai memakai pesugihan untuk menunjang karirnya. Gosip itu tersebar luas di masyarakat hingga Sore harus keluar Sekolah dan pindah ke desa karena tak kuat menahan hujatan yang diterimanya. Tedjo banyak bercerita tentang rahasia kelamnya dan memberikannya kontak Sore. Ia dengar Sore merupakan tumbal terakhir yang diminta iblis. Sore harusnya mati ketika ia berumur 17 tahun. Sore sekarang berdiri di hadapannya dalam kondisi sehat, waras dan bugar. Hadi merasakan secercah harapan, langsung memeluk Sore yang terkejut.
"Tolong ya nak Sore, tolong Om dan Tante, tolong adik sepupumu"
"Iya Om, iya, saya akan bantu, maaf boleh diceritakan lebih detail lagi, bagaimana dia bisa seperti ini?"