Tidak terasa sudah tiga bulan aku bergabung di sekolah ini. Dan kalian tahu ? aku dan fino sekarang berada di deretan bangku depan, dan .. teman sebangku ku sekarang bukanlah diyah, tapi mareta. Yaa, aku memutuskan untuk berpindah ke bangku depan karna aku benar benar tidak nyaman duduk dibelakang. Alhamdulillah diyah tidak keberatan dan bisa memakluminya.
"Gapapa kan diy aku pindah depan, mumpung ada kursi kosong tuh. sumpah aku bener bener gak nyaman duduk di belakang, pliiiisssss ..." pintaku dengan memelas. "okee lahh dew, biar aku duduk dengan mei aja. maaf yaa kalau aku udah maksain duduk belakang" tanggapnya.
Dan benar benar kebetulan karna teman sebangku ku dideretan depan sekarang adalah tetangga dari fino, anak laki laki yang dari awal masuk sudah mencuri perhatianku.
"Dew dia itu kasihan loh, kelihatannya aja tengil tapi dia memendam kesedihan dari semasa dia kecil" mareta membuka perbincangan tentang asal usul fino sambil sesekali memandang ke arah fino yang sedang asyik bercanda. "kesedihan gimana maksutnya mar ? emang dia punya masalah apa?" tanyaku penasaran.
"emmm sebenarnya keluarga dia berantakan dew, orang tuanya bercerai. dia tinggal dengan ibunya .. sedangkan ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. parahnya lagi, waktu khitanan pun ayahnya sama sekali gak dateng" jelasnya panjang lebar. Aku tersentak, entah bagaimana aku kaget karna selama ini dia seperti anak lain yang terlihat bahagia dan tidak punya masalah berat.
"terus sekarang dia tinggal sama siapa mar ?". "sama neneknya dew, dari orang tuanya berpisah dia langsung diurus oleh neneknya. kasihan deh"
Seketika muncul rasa empati, apalagi dengan sikapnya selama ini yang tengil dan suka bercanda seakan semua baik baik saja. "ohh okee okee makasih ya mar infonya, jadi kasihan aku .." tanggap ku. "kasihan apa kasihan nih hayooo.." goda mareta. Aku hanya menggeleng geleng dan tersenyum menanggapi godaan mareta.
Tiba tiba disaat yang sama mata ini beradu pandang dengan seseorang yang sedang aku bicarakan dengan mareta. Yups! fino. Namun kali ini dia hanya menatap tanpa senyum, tapi berhasil membuat aku salah tingkah. 'Ya ampun, tatapanmu bikin deg deg an fin' iissshh segera aku alihkan pandangan kedepan yang sepi tanpa guru dan papan tulis yang masih bersih.
Yaa .. hari ini ada rapat guru dan komite sekolah, jadi ada jam kosong sampai waktu istirahat nanti. "eh dew mau ke perpus gak ?? aku bosen di kelas, mau tidur juga anak anak rame banget" ajak mareta. "isshh kamu nih, ke sekolah malah buat tidur. Jadi ke perpus buat numpang tidur nih ?".
"he he he .. habisnya jam kosong juga, ngantuk deh" jawabnya dengan senyum nyengirnya. Akhirnya aku putuskan ikut ke perpus, tapi aku tertahan saat ada suara menyapaku.
"kemana dew ?" yups, suara fino. 'astagaa jantungku .."
"ehh, emm i-ini mau ke perpus" jawabku gugup. "ohh .. kirain mau ke kantin, aq mau nitip he he" jawabnya sambil nyengir dan berlalu. Aku masih mematung karna berfikir dia akan basa basi ngajak ngobrol, ternyata hmmm mungkin aku terlalu percaya diri.
"dew ? haloo ? dewiii ?? jadi ke perpus gak, kok malah bengong disini ??" sapaan mareta membuyarkan fikiran ku. "ehh iyaa mar, ayuk" ku seret tangan mareta segera. "ehh dew, dew, haduh .. ini anak kenapa sih. tadi bengong, sekarang main seret seret aja!" protes mareta, aku hiraukan protesannya dan terus ku seret.
Di perpustakaan
"emmm mar, boleh cerita sesuatu ?"
"cerita apa ? masalah fino ? wahhh kamu beneran jatuh cinta nih ya ?" telisik mareta. "gimana yaa .. awalnya aku cuman salting salting aja sih, tapi semakin kesini gak tau yaa kok makin gimana rasanya" jelasku sambil memandangi buku yang hanya aku bolak balik saja daritadi. "fino itu baik kok dew aslinya walaupun agak tengil tingkahnya, mungkin itu cuman buat melampiaskan apa yang dialaminya di rumah".
"tapi ...", "tapi apa sih dew? gapapa coba dekati aja, barangkali dia juga ada perasaan sama kamu" belum selesai aku bicara mareta sudah menimpali dengan mendukungku untuk dekat dengan fino.
Sebenarnya ada hal lain yang aku takutkan, aku takut ini hanya perasaanku saja. Aku takut fino tidak memberikan balasan perasaan seperti yang aku harapkan. Aku takut patah hati. Ku urungkan niatku bercerita tentang ketakutanku, ku coba berfikir secara logika lagi.
Jam istirahat sudah selesai, dan sekarang ada guru fisika yang menerangkan di depan. Sekilas kulirik arah kanan ku, aku merasa ada yg memperhatikan. Aku beranikan untuk menoleh, dan aduhh benar. Fino, entah sejak kapan dia memandang kearahku. Yang pasti aku tersentak dan langsung memalingkan wajah kedepan seolah tidak sengaja menoleh.
'aduhh kenapa sihh tuh anak, suka banget bikin jantungan. ngapain juga tadi aku nengok? bego banget' aku merutuki diriku sendiri sambil terpejam malu.
Jam pulang sudah tiba, seperti biasa aku berjalan menuju tikungan untuk mencari angkot pulang. Dan disitu aku bertemu fino mengendarai sepedanya melewati hadapanku, aku tidak berani memandang. Aku hanya menunduk sampai dia melewatiku baru aku berani menatap dari belakang.
Sesampainya di rumah mareta mengirimiku sebuah sms.
[ini nomornya fino dew, 085+++++ buruan di sms, gak ada salahnya di coba]
[terimakasih mar]
"Melihat nomor telfonnya saja jantungku deg deg an, gimana mau sms" gerutuku
Bolak balik ku ketikkan sms yang akan kukirim pada nomor fino, namun aku hapus lagi. begitu seterusnya, saking deg deg annya.
Nekat, yaa akhirnya kukirim sms berisi sapaan.
[haii, fino ??]
[yaa. siapa] kelihatan cuek banget nih anak
[dewi, dewi ratna. sorry aku dikasih nomor kamu sama mareta] aduhh terlanjur malu sms duluan, sekalian sajalah
[ohh dewi, iyaa gapapa. Ada apa dew ?]
Nah disini aku bingung harus balas apa, masak iya harus ketahuan sms duluan dan hanya buat basa basi saja
[ohh enggak, kebetulan semua teman dikelas aku mintai nomor agar kalau ada apa apa enak mau hubungin] elakku, huhh untung otak ini bisa berputar mencari alasan.
[ohh iyaa iyaa, aku save nomor kamu yaa] jawabnya.
Ada perasaan lega dan senang dikala melihat balasan sms itu. sengaja tidak ku balas agar terkesan niat sms tadi benar benar hanya itu. "Okelah bisa tidur nyenyak malam ini" gumamku
Besoknya, kasak kusuk tersebar berita yang tidak mengenakkan tentangku. tentang seorang murid perempuan yang mendekati murid laki laki. Hah ? apa yang menyebarkan ini fino ? atau anak anak lain ?? tapi apa alasan mereka membicarakanku seperti itu, dan darimana pula mereka bisa memperoleh gosip seperti itu. 'aku harus tanya mareta' pikirku.
"mareta, mar, aku mau cerita"