Mareta yang sudah datang lebih pagi kaget saat aku bertanya seperti dikejar hantu. "ada apa sih dew ? baru dateng bukannya nyapa pakek salam hmmm".
"he hee maaf mar .. ini darurat sumpah, ada hal penting banget yang harus aku tanyain ke kamu".
"okee, ada apa ?? soal fino ?" sepertinya mareta langsung mengerti arah pertanyaan ku. "iyaa mar, tadi aku gak sengaja denger dira sama dini ngomongin aku. katanya aku lagi deket sama fino, dan katanya aku yang ngebet deketin fino. gilak gak tuh, apa gak panas kupingku" jelasku sambil bersungut melipat tangan. "hah?? terus kamu gak cobak langsung tanya kenapa mereka berdua bisa nuduh gitu ke kamu dew?".
"enggg, enggak he he .. aku denger pas lagi di dalam toilet. Habis mereka pergi aku baru keluar, yang paling penting dan gawat sekarang gimana nama baik ku mar ? gengsi dong masak cewek yang ngejar ngejar cowok"
Mareta tampak berfikir sejenak, semoga dia ada jalan. "gimana kalau kita tanya langsung ke fino ? apa bener dia yang nyebarin kalo kamu deketin dia. ehh bentar, kamu udah coba buat sms fino dew?". Ide gila mareta buat aku kaget, kalau tanya ke fino bisa bisa malah aku yang tambah malu. "gilakkk!! enggak enggak, aku gak mau tanya ke fino. bisa malu aku mar, dia makin ke PD an nanti kalau benar dia yang nyebarin. emmm kalau soal sms, iya kemarin malam aku coba sms dia. tapi aku alasan kalau semua anak dikelas aku sms kok buat jaga jaga kalau ada apa apa biar enak menghubungi siapa aja, masak karna sms itu dia nganggap aku coba deketin dia mar?" jawabku cemas. Mareta menepuk jidat sambil menggigit bibir iku cemas.
Sekarang aku benar benar cemas, aku takut di bully teman temannya. Apalagi geng cewek cewek centil itu, haduhhh entahlah kepala ini mendadak pusing.
Hari ini selama pelajaran berlangsung aku tidak berani menoleh ke arah fino, padahal biasanya aku selalu curi curi pandang ke arahnya. Aku tidak mau fino semakin ke PD an mengira aku sedang mendekatinya, yaaa padahal sih iya he he. Tapi gengsilah..
Jam istirahatpun aku lewati di kelas karna aku dan mareta sepakat membawa bekal dari rumah, sampai akhirnya fino berjalan ke arah meja kami berdua dan berhenti di depan kami.
"wahh bawak bekal nih, tumben kalian" sapa dia basa basi. "ehh iyaa fin, daripada jajan terus mending ditabung yaa dew" jawab mareta seraya menyenggolku. "ehh, emm iyaa .." aku menjawab tanpa melihat ke arah fino, aku gugup, malu, dan takut akan semakin jadi omongan teman teman.
"ciieee finooo, deketin terus fin .. dew dicari fino tuh, katanya kangen ha ha ha ..." ledek rizky teman sebangkunya. Teman teman lain pun ikut meledek, namun ada 2 mata yang tidak enak melihat kami berdua di sorak'i. yaa .. dira dan dini, entah apa yang ada difikiran mereka sekarang. Aku tidak menanggapi ledekan teman teman dan langsung berjalan ke luar kelas untuk menuju toilet. Sedangkan mareta dan fino hanya tertegun melihat ku yang tiba tiba keluar.
Di dalam kelas.
"mar, kenapa dewi ? kok tiba tiba keluar. dia merasa keganggu ya sama ledekan anak anak ? tolong bilangin aku minta maaf yaa soal ledekan anak anak. lagian tau sendiri tuh rizky mulutnya ember banget" jelas fino. "hmmmmm gimana yaa fin, bisa bicara berdua di depan ? ada yg mau aku omongin ke kamu. Soal dewi" jawab mareta.
Akhirnya mareta menjelaskan apa yang aku omongkan tadi pagi pada fino. Fino pun kaget karna dia tidak merasa membicarakan aku pada siapa pun, termasuk soal sms kemaren.
"sumpah mar, aku gak pernah bilang apa apa ke anak anak lain. Kamu kenal aku kan ? kalau urusan dewi mau deketin aku atau enggak itu juga bukan hakku bicara ke anak anak" jelas fino dengan muka cemas. "okee kalau memang bukan kamu yang ngomong fin, terus 2 cewek geng centil itu kenapa bisa ngomong gitu ? aku tau dewi fin, dia sekarang pasti
sedang malu dan takut dibully anak anak. Kalau memang bukan kamu, kamu harus buktiin" jawab mareta seraya berlalu meninggalkan fino sendiri di depan kelas.
Fino masih termenung mendengar cerita dari mareta tadi, siapa sebenarnya yang pertama menyebarkan gosip ini. "arrrhhhgg siapa sih yang nyebar gosip kayak gini ?? awas aja kalo sampai aku tau!" geram fino. Fino teringat dewi seketika yang dari tadi belum kelihatan masuk ke kelas lagi. "dewi kemana ya ? haduh aku jadi gak enak sama dia".
Di toilet aku hanya mematung memandang diri di cermin besar yang terletak diatas wastafel. "haduhh mau balik malu, gak balik masih ada jam pelajaran" gumamku. 'ahh sudahlah masuk aja, daripada kena masalah sama guru' ujarku dalam hati dan segera melangkah keluar. Tiba tiba ..
"dew kemana aja ? mau balik ke kelas sekarang ?" aku tersentak dan langkah kakiku terasa berat melangkah kedepan. 'Fino nyariin aku ??' tanyaku dalam hati. "emmm i-iyaa fin, ini mau balik, tadi perut ku bermasalah makanya lama di toilet" elakku. "beneran dew ?? bukan karna masalah anak anak ngeledekin kita kan kamu lama di toilet ??" tanyanya. 'hah! kok bisa fino berfikir kayak gitu" gumamku. "eng-enggak kok fin .. yaudah aku ke kelas dulu yaa" jawabku sambil langsung berlalu dari hadapan fino.
"Deww.." panggilnya lirih. Aku menoleh sejenak, "yaa fin ??" astagaa jantung ku deg deg an banget. "aku minta maaf kalau ledekan anak anak mengganggumu, nanti akan aku larang mereka meledek kita lagi". "terimakasih fin" aku langsung berlalu, ahh ternyata cuman itu. 'Terus apa dia gak merasa bersalah karna sudah bilang kalau aku ngedeketin dia ?? ahh entahlah' gumamku kesal.
Sesampainya di kelas mareta langsung menyeretku untuk membicarakan sesuatu. "dew, tadi aku udah negur fino, tapi dia bilang kalo dia gak pernah nyebarin cerita kayak gitu ke anak anak, apalagi ke duo centil itu" katanya sambil melirik ke arah dira dan dini yang sedang asyik berkaca. Yaa mereka memang kerap berkaca bahkan saat pelajaran berlangsung, entah untuk membenarkan jilbab mereka atau lainnya. Makanya itu mereka dijuluki duo centil, bahkan mereka juga punya geng. Anggotanya sama seperti mereka, sama sama centil.
"terus kalau bukan fino siapa mar ?? dan kalau memang benar bukan fino, berarti aku udah salah faham dong .. aduhh" tanyaku sambil menepuk jidat karna bingung.
"entahlah dew, tapi dia pasti akan cari bukti kalau bukan dia yang menyebarkan, aku kenal banget siapa dia dew" jawab mareta meyakinkanku.
Jam pulang tiba, seperti biasa aku melenggang menuju tikungan untuk mencari angkot pulang. Tapi dari belakang aku dikagetkan dengan suara yang memanggilku. "DEWW, DEWIIII!!" kutolehkan kebelakang dan dari kejauhan ternyata fino yang memanggilku. "huhh huhh, dew dari tadi aku panggilin kamu loh" serunya sambil terengah engah kelelahan mengejarku daritadi (mungkin). "ihh lagian, ada apa sih fin ?".
"ada yang perlu aku omongin ke kamu dew, dan ini penting banget. Masalah nama baikku nih" idihh nama baik segala, dasar tengil. "maksutnya fin ?? aku gak paham" tanyaku bingung. "gini dew .. aku udah tau siapa yg nyebarin kalo kamu deketin aku, ehh maksutnya gosip kalau kamu lagi deketin aku. gosip yaa!" tegasnya. "siapa memang ? terus darimana kami tau ? emang kamu ada bukti fin, jangan asal nuduh loh" selidikku.
Fino menceritakan semuanya, ternyata faiz yang menyebarkan. Karena dia sempat tidak sengaja membuka pesan sms milik fino saat sedang nongkrong dirumah fino kemarin malam, dan disitu masih ada sms dari aku. Dari situ faiz mengasumsikan bahwa aku sedang berusaha mendekati fino. Faiz bercerita pada rizky, dan saat sedang berkirim sms dengan dira faiz memberitahu dira tentang itu.
"ohhh aku kira yang menyebarkan itu ...." belum aku selesai ngomong fino langsung menyambar "aku dew ?? haduh dew setengil apapun tapi aku gak pernah bermulut ember. Lagian kalaupun benar kamu mau mendekatiku juga bukan berarti aku akan cerita keman mana" jelasya. 'nih anak biarpun udah terbukti gak salah masih aja ke PD an. "yaudah kalau gitu, makasih penjelasannya .. dan maaf aku sudah salah faham sama kamu fin. Aku pulang dulu takut gak dapat angkot, bye!" aku langsung nyelonong daripada nantinya makin salting.
Sementara fino tidak menjawab apapun. Dia cuman tersenyum.
'cewek kalo salting lucu' bisikknya dalam hati.