Keesokkan harinya aku bertekad pada diri sendiri untuk menjaga jarak dengan fino, dan tidak lagi menghiraukan apapun tentang fino lagi. Alasanku adalah agar tidak ada lagi gosip tentang aku dan fino.
"dew, tumben diem aja sih ? kesambet?" sapa mareta. "gapapa mar .. cuma pengen diem aja he he" jawabku. "ada apa sih dew ? trus juga tumben kamu gak tanya tanya atau cerita tentang fino?". Ahh akhirnya mareta mempertanyakan hal itu. Maklumlah, karna setiap hari aku selalu ada saja cerita dan pertanyaan soal fino. "emmm gimana ya mar, sebenarnya aku sedang berusaha jaga jarak sama fino .." jawabku lirih. "loh kenapa dew ? apa karna masalah kemarin ? jangan mudah menyerah gitu lahh .. aku liat kayaknya fino ada rasa juga sama kamu dew, apa salahnya berusaha dulu?". "aku cuman gak mau jadi ledekan anak anak mar, aku juga pingin belajar dengan tenang. Mulai sekarang mending aku ngejar prestasi aja mar.." jawabku putus asa. Mareta mengerti keinginanku, dan dia cuma menanggapi dengan merangkul serta tersenyum.
Sejak hari itu, aku benar benar menjaga jarak. Setiap dia kelihatan memperhatikan dari bangkunya aku langsung menarik badanku ke belakang untuk bersembunyi, dan kalau dia berjalan ke arah bangkuku aku pasti menyibukkan diri atau menghindar. Sampai akhirnya mareta menceritakan sesuatu. "ehh dew aku mau cerita, dan ini soal fino". Aku hanya menoleh menunggu dia bercerita. "dia tadi tanya ke aku dew kenapa sikap kamu berubah, dia tanya apa karna ledekan anak anak waktu itu sampai kamu sekarang menjaga jarak sama fino dan menjadi lebih pendiam" aku tersentak kaget, kenapa bisa fino sampai bertanya ke mareta.
"trus kamu jawab apa mar ?" tanyaku. "yaa aku jawab aja iya dew, habis itu dia cuma diam. Maaf yaa dew .. aku bingung mau jawab apa .." jawabnya memelas.
"iyaa gapapa mar, memang lebih baik dia tahu biar gak semakin berlarut larut" jawabku pelan. Entah kenapa, ada rasa kecewa saat mareta memberi tau fino. Apa karna aku gak rela kalau harus terus tidak bertegur sapa dengan fino ? ahh entahlah. Tapi mungkin ini langkah yang tepat, biar aku juga fokus ke prestasiku.
Hari terus berjalan, dan benar .. aku bisa lebih fokus ke pelajaran dan mengejar prestasiku. Walau kadang ada rasa sakit kala bertatapan namun seperti dua orang yang tidak saling kenal, padahal dulu walau tidak terlalu dekat tapi kita masih bisa saling ngobrol sebentar sebentar. Aku kesampingkan rasa itu, sampai suatu saat ada ulangan kimia dan harus bertukar pasangan duduk. Dannn kebetulan yang entah darimana aku bertukar duduk dengan teman sebangku fino. "ayo deretan dewi sampai belakang tukar ke deretan rizky yaa" perintah bu mifta, guru kimiaku. Aku kaget dan dengan langkah berat aku berjalan ke arah fino. Jantungku tidak karuan rasanya. "oke sudah semua ya ? sebentar lagi saya akan bagikan kertas ulangannya, sekarang saya kasih waktu 10 menit untuk membuka buku catatan kalian sekali lagi". "baik buuuu..." seru kami.
"deww .." aku tersentak, fino memanggilku lirih. Aku menoleh namu tidak berani memandang matanya. "iya fin ?". "emmmm aku boleh minta tolong ?" pintanya pelan. "eeee i-iya, apa fin ?".
"ini .. aku mau tanya soal materi yang ini, aku belum sepenuhnya mengerti" jelas fino sambil menyodorkan buku catatannya, aku bingung membaca catatannya yang amburadul. Jadi aku memakai catatanku untuk menjelaskan.
"gimana fin, sudah faham belum sampai sini ?" tanyaku. "untuk sekarang sih faham dew, semoga aja nanti gak lupa he he .. kalau lupa boleh kan tanya kamu?" sambil tersenyum dia menjawab. Ahh lagi lagi senyum itu, sudah lama rasanya tidak melihat langsung senyum itu. "hah ? terus kalau ketahuan gimana fin ? ada ada aja kamu!" balasku.
"yaa sembunyi sembunyi lah dew, tolonglah temanm ini yang otaknya gak seencer kamu" mohonnya memelas. "heemmmm okee deh aku coba nanti yaa fin, semoga ada cela nanti" aku mengiyakan tapi tidak menjanjikan, lihat kondisi nanti lah.
Akhirnya waktu ulangan pun berjalan. Alhamdulillah soal ulangan tidak jauh jauh dari materi yang ada di catatanku, ini memudahkan aku untuk segera menyelesaikan ulangan kali ini. "deeewww ..." panggil fino lirih sekali. Aku tahu maksutnya, dia ingin bertanya jawaban padaku, karna soal ku dengan dia berbeda kode. Aku menoleh dan mengangkat alis, sepertinya dia mengerti kodeku ini. "yang ini rumus kimianya apa ya ? aku benar benar lupa yang ini" jawabnya masih dengan suara sangat lirih. Dan dengan cepat aku menuliskan rumus kimia yang ditanyakan fino. Aku tidak mengatakan apa apa dan langsung menyodorkan tulisanku pada fino. "terimakasih dew" ucapnya lirih. Aku hanya mengedipkan mata tanda mengiyakan ucapan terimakasihnya.
Ulangan selesai dan kami beristirahat. Mareta menghampiriku dengan muka yang masam. "kenapa mar ? kok cemberut gitu sih mukamu ?" tanyaku penasaran. "ituuu si rizky, dari awal ulangan sampai akhir ngerecokin trus. Aku kan jadi gak bisa cepet cepet nyelesaiin soal ulanganku dew" jawabnya sambil memonyongkan bibirnya. Aku hanya terkekeh mendengar cerita sahabatku satu ini. Yaa .. kami sudah menganggap kita bersahabat, kami berteman dengan tulus tanpa embel embel apapun. Dan kami saling support dalam hal apapun, serta saling menjaga kepercayaan masing masing. Gimana dengan diyah ? diyah sekarang sudah punya geng sendiri, menyaingi geng centil ha haa .. dan dia tampak dekat dengan mei, aku dan diyahpun juga sudah jarang sekali mengobrol.
"deww .." panggil seseorang dibelakangku, aku kenal suara itu. Fino! aku lantas menoleh. "makasih yaa dew untuk bantuannya tadi, maaf merepotkanmu" ternyata dia berterimakasih soal bantuan jawaban ulangan tadi. Aku hanya mengangguk tersenyum dan diapun langsung berjalan ke dalam kelas.
Aku masih mematung membayangkan kejadian saat ulangan tadi, aku merasa senang karna kembali bisa melihat senyum itu secara dekat walau kita tetap masih seperti orang asing yang menjaga jarak.
"ayo ke kantin dew, aku laper banget nih gara gara ulangan tadi" tarik mareta membuyarkan fikiranku.
Semakin hari aku merasa semakin bisa melupakan perasaanku, karna sekarang aku menyibukkan diri dengan ekstra kulikuler paskibra. Apalagi sebentar lagi tanggal 17 agustus, akan ada seleksi untuk menjadi pasukan pengibar bendera di sekolah. Setiap hari aku latihan sepulang sekolah, dan itu benar benar menguras waktu serta fikiranku. Syukurlah aku bisa sedikit lupa dengan perasaanku pada fino. Entah aku hanya merasa atau memang benar, sekarang fino tidak lagi memperhatikanku dari kursi duduknya seperti kemarin kemarin. Dan tidak lagi sering bermain main ke deretan bangkuku.
Aku hanya berfikir mungkin memang sebaiknya seperti ini, kembali seperti saat pertama kali masuk sekolah ini. Tidak mengenal siapapun bahkan salah tingkah dengan fino. Namun aku sedikit penasaran atau mungkin lebih tepatnya kecewa dengan sikap fino sekarang, apa aku selama ini terlalu munafik dengan menjaga jarak dengannya ?
"emmm mar, aku mau tanya nihh .. soal ..", "fino ?? kenapa dia sekarang cuek ? iyakan ?" ahh mareta selalu mengerti fikiranku. Aku hanya meringis mengiyakan. "hemmmm gimana yaa dew, sebenarnya aku pengen cerita ke kamu dari kemarin kemarin. Tapi kamu sibuk banget latihan, takut ganggu" jawabnya. Aku makin penasaran "ada apa mar ? cerita aja, maaf yaa aku kemarin kemarin terlalu sibuk. Habisnya tanggal 17 agustus udah bentar lagi".
"sebenarnyaa ... aku denger kasak kusuk dari anak anak kalau fino sedang dekat dengan murid cewek lain dew .." jelasnya pelan ..
Seketika hati ini terasa sakit banget sampai pertahanan ku hampir jatuh. Kenapa rasanya sakit banget tau fino dekat dengan cewek lain. Ahh aku siapa ? tidak berhak rasanya melarang fino untuk dekat dengan siapapun, toh aku sendiri yang memutuskan untuk menjaga jarak dengannya.
Tapi siapa cewek itu ?
Apa mungkin dari kelas ini ?