Suara riuh seperti pasar berasal dari dalam kelasku. Yups, kelasku memang terkenal paling riuh apalagi saat jam kosong. Aku masuk kembali kedalam kelas setelah ada sesi latihan petugas upacara hari kemerdekaan selama satu jam, yaa .. aku terpilih sebagai pasukan pengibar bendera di hari kemerdekaan, otomatis jadwal latihanku semakin padat. Tak jarang aku harus meninggalkan 2 atau 4 jam pelajaran karna harus latihan. Untungnya semua guru tidak keberatan dengan hal itu, karna memang ini semua persiapan untuk hari penting.
"dew, lesu banget .. udah sarapan tadi ?" tanya mareta. "udah mar .. yaa capek banget aslinya, cuman ini udah tanggung jawabku. Aku yang pingin masuk ke paskibra dan aku juga yang pingin jadi petugas upacara di hari kemerdekaan" jawabku tersenyum. "yaudah .. ini catatan pelajaran tadi yang kamu ketinggalan. Kamu bawak aja dulu buat di salin di rumah" mareta menyodorkan catatannya, dia benar benar baik, dan sangat support sebagai sahabat. Beruntung aku punya sahabat sebaik dan semengerti mareta. Aku tersenyum mengangguk dan segera memasukkan buku catatan mareta ke dalam tasku.
"emmmm dew.." panggil mareta lirih, tumben. "yaa mar ? ada apa sihh ?". "kamu masih ada perasaan sama fino ?" mareta bertanya dengan penasaran. Aku semakin penasaran juga kenapa tiba tiba mareta bertanya seperti itu. "emmm saat ini aku cuma fokus sama kegiatan dan prestasiku mar. Soal cinta cintaan sementara aku kesampingkan dulu .." jawabku menegaskan, tapi tidak menjawab iya atau tidak. "berarti intinya masih ada perasaan ?" tanyanya sekali lagi. "hemmm entahlah mar, aku bingung ngerasainnya" aku menjawab sambil mengangkat bahu. Aku takut akan dikatakan kemakan omongan sendiri, kalau bilang tidak ternyata masih ada dan sebaliknnya.
"hari ini ada pelajaran praktek di laboratorium, kamu udah bawak bahannya kan dew ?" mareta mengalihkan pembicaraan seolah tahu kalau aku belum bisa memastikan perasaanku. "iyaa mar .. aku udah bawak kok, makasih kemarin udah di ingetin he he". Sesampainya di laboratorium aku dan mareta tetap jadi satu kelompok, namun juga ada fino dan rizky. Yaa, guruku memilihkan kelompok dengan bangku sebrang juga, jadi satu kelompok berisi empat anak. Aku masih saja gugup, tapi aku mencoba menguasai diri agar tidak terlihat gugup.
"okee kita bagi tugas yaa" titahku. Aku segera membagikan tugas per masing masing anak, dan aku tetap berusaha fokus pada tugas kali ini.
"ehh dew, kok fino jadi diem gini sih ? biasanya masih basa basi ngomong sama kamu" bisiknya pelas dibelakangku. "entahalah mar" aku hanya menjawab singkat dan mengangkat bahu. Selama jam pelajaran pun kami tidak banyak berinteraksi, fino berulah tengil hanya kepada rizky dan sesekali meledek ke mareta. Diam diam aku mencuri pandang saat dia iseng, rasanya ada rindu di hati ini dengan ulah konyol dan basa basi seorang fino.
Suatu saat aku memergoki fino sedang mengetik di ponselnya dengan serius, dan semakin intens dia mengetik. 'fino sedang komunikasi dengan siapa? apa dengan cewek yang katanya lagi dekat sama dia ?' bisikku dalam hati.
Jam istirahatpun tiba, kami kembali ke kelas dan segera menikmati jam istirahat. Saat itu aku tidak sengaja melihat dira mengisengi fino, tak jarang mereka tertawa bersama dan fino pun membalas keisengan dira. 'kok rasanya gak rela gini liat fino dekat dengan dira ya' kataku dalam hati sambil tetap mengintai mereka diam diam. Sesaat timbul fikiran jika cewek yang sedang dekat dengan fino adalah dira, melihat dari kedekatan mereka di kelas kemungkinan besar fikiranku benar. 'ahh apa benar cewek itu dira? ya Tuhan .. kalau benar, apa bisa kuat aku setiap hari melihat mereka dekat?' aku memejamkan mata sejenak untuk menyingkirkan fikiran ini.
"emmm mar, kamu tau gak siapa yang sekarang katanya sedang dekat dengan fino?" tanyaku to the point. "hah?!! emmm itu .. aku gak tau, yaa nanti kan pasti lama lama ketahuan juga dew. kenapa ? kamu cemburu yaaa ?? hayoooo" goda mareta, aku menanggapi dengan mencubit lengannya pelan dan meneruskan membaca buku catatanku.
Pulang sekolah aku langsung pulang seperti biasa, karna hari ini tidak ada sesi latihan sore. Seperti biasa aku mencari angkot arah ke rumahku, dan betapa kagetnya aku melihat dari dalam angkot dikejauhan ada fino dan dira berbicara berdua di depan gerbang sekolah. Seperti sepasang kekasih yang ingin berpamitan pulang. Aku menyipitkan mata untuk memastikan pandanganku tidak salah. Tiba tiba diza teman satu kelasku menepukku dari belakang. "liat fino sama dira dew ??" aku kaget karna diza mengetahui aku sedang mengintip mereka dari dalam angkot.
"ehh emmm ituu .. aku .." aku bingung mau jawab apa. "aku tau kok dew, kamu suka kan sama fino ? sabar yaa dew .. mereka memang sudah pacaran dari beberapa hari yang lalu" terang diza dengan mengelus lenganku. Seperti tersambar petir di siang bolong mendengar pernyataan diza. "ohh iya ? kok kamu tahu diz ?" tanyaku mencari informasi.
"iyaa itu udah kesebar ke satu kelas dew, kamu gak denger ?? dira nembak duluan ke fino .. awalnya dira memancing dengan kata kata kalau dikelas ada yang suka sama fino, fino tanya emang siapa yang suka sama dia, dira menyebutkan nama kamu dan dirinya sendiri .. dari itu akhirnya mereka jadian dew" aku terdiam, lidah ini rasanya keluh. Aku cuman menjawab ohh dan tersenyum. Kini kupalingkan wajahku ke arah luar jendela, tidak terasa aku menangis mengetahui kenyataan itu. Entah, rasanya sakit sekali hati ini mendengar cerita dari diza. Sekarang aku sadar, aku masih mempunyai perasaan untuk fino. Namun aku terlambat, dia sudah milik cewek lain. Dan cewek itu teman sekelasku.
Keesokan harinya aku merasa enggan melangkahkan kaki menuju sekolah, aku berfikir apa aku bisa kuat melihat mereka mesra setiap hari dihadapanku.
"dew ... kamu kenapa ? ada masalah ?" tegur mareta, aku terbangun dari lamunanku. "kenapa kamu gak cerita kalau cewek itu dira mar ? kamu pasti juga udah tau kan beritanya ?" aku langsung to the point bertanya pada mareta. Mareta menghela nafas pelan dan menjelaskan "sebenarnya dari kemarin kemarin aku udah mau cerita ke kamu dew, tapi kelihatannya kamu capek banget tiap hari latihan. Aku cuma takut semakin bebanin fikiranmu dew, aku minta maaf yaa .." mareta memelas dan akupun juga tidak seharusnya marah pada mareta karna sebenarnya niat mareta baik.
"yasudahlah mar, mungkin memang fino bukan buat aku. Dan mungkin dira lebih baik dari aku" jawabku tersenyum mencoba ikhlas namun hati masih berat. "yups!, nanti aku kenalin deh ke temen pacarku .. ganteng ganteng lohh, pinter pinter lagi, udahh deh jangan cemberut terus. Pagi pagi udah disambut sama manyunmu itu" aku tersenyum geli, aku tau mareta sedang menghibur dan membesarkan hatiku.
'ahh gini yaa rasanya cemburu tanpa memiliki' bisikku dengan satu senyum kecut di bibir.