Ku buang pertanyaan pertanyaan dalam fikiranku. Kalaupun memang benar, toh juga bukan urusanku. Mau mereka putus atau tetap berlanjut juga gak akan mempengaruhi fikiranku lagi. Aku sudah benar benar mengubur dalam dalam perasaanku itu.
"dew, ihh nih anak kenapa sih ?? main tinggal tinggal aja. Ada apa sih dew?" mareta bertanya saat menghampiriku dimeja. "sssstttt...." aku menempelkan telunjuk jariku ke mulut untuk mengisyaratkan mareta agar jangan berisik dan memainkan bola mataku agar mareta melihat ke arah dira dan dini dibelakang yang masih sama seperti saat aku masuk kelas tadi. Mareta mengerti dan segera duduk disebelahku untuk bertanya. "ups, ada apa sihh dew ?? kenapa tuh ??" tanyanya lirih. "kamu gak denger anak anak tadi ngomongin apa di kantin waktu aku nungguin kamu makan ???".
"enggak dew .. mana denger aku kalau lagi asyik makan, emang mereka ngomongin apa sih?? dan hubungannya sama duo centil itu apa??" Memang, kebiasaan mareta kalau sudah asyik makan tidak mungkin peduli apapun, bahkan saat aku cerita pun dia gak mungkin menanggapi. "kamu ini kebiasaan deh, kalau makan lupa segalanya. Gini mar .. tadi anak anak cerita kalau fino sama dira itu putus, dan lagi katanya fino nerima dira atas dasar kasihan. Takut dira malu karna dira yang nembak duluan.. nahh aku penasaran dong, makanya aku ke kelas duluan, ehh pas sampai kelas pemandangan itu yang aku liat" jelasku panjang lebar.
"hah!! haa haa haa haa ..... rasain tuh, dasar kecentilan. Jadi cewek kok gak bisa jaim, trus sok sok an lagi bikin kamu cemburu dew. Tuhh sekarang karmanya haa haa haa ..." Aku hanya tersenyum menanggapi Mareta tertawa seakan puas melihat dira seperti itu, tapi aku justru kasihan. Kenapa fino sejahat itu? kalau memang tidak suka harusnya lebih baik jujur di awal tanpa harus menyakiti lebih jauh seperti itu.
"udahlah mar .. gak baik tauk nyumpahin orang yang lagi bersedih" bujukku. "habisnya greget banget samean mereka berdua, ehh berarti sekaranf fino jomblo dong dew!" seru mareta dengan menatapku. "iyalah mar, namanya juga habis putus" jawabku cuek. "emmmmm jomblo yaaa dew .. j o m b l o, jomblo!" mareta mengerlingkan matanya, aku mengerti dia sedang menggodaku yang memang pernah menaruh hati pada fino.
"ihh apaan sihh mar, aku udah kubur dalam dalam perasaanku yang dulu. Udahlah males bahas yang dulu dulu" jawabku dengan mata tetap tertuju pada buku materiku. "hemmm kamu benar benar sakit hati dew??"
"entahlah mar, cuman aku gak suka aja di php in. Tapi aku gak mau nyalahin sih, mungkin juga aku sendiri yang terlalu baper" sanggahku sambil tersenyum kecut.
Pelajaran berjalan seperti biasa, sampai bel pulang berbunyi. Hari ini aku ada sesi latihan pbb sampai sore, keluar kelas aku langsung menuju markas paskibra yang sudah banyak teman teman angkatanku berkumpul.
Yaa .. kalau boleh jujur aku lebih nyaman disini, karna teman teman paskibraku lebih friendly. Mereka tidak pernah membeda bedakan teman, bahkan membuat geng sendiri. Beda dengan teman sekelasku, mereka cenderung suka membuat geng sendiri sendiri. Yang merasa cantik berkumpul dengan yang dirasa sama sama cantik, dan yang merasa pintar berkumpul dengan yang dirasa sama sama pintar. Aku dan mareta ?? hahh kami berdua justru lebih suka netral, mau kesini ayo.. kesana juga ayo yang penting tidak merugikan.
Sesampainya di markas..
"dew!! heyy lama banget sih gak main ke markas, gak kangen sama kita ???" lambai maria. Salah satu teman dekatku juga dari organisasi paskibra, dia searah dengan rumahku. Bahkan kami juga sering pulang sekolah berjalan kaki, karna memang kami sendiri hobi jalan jalan. "ehh maria, iyaa nihh tugas sekolah ampun numpuk numpuk. Belum lagi praktek praktek tugas kejuruan yang gak selesai selesai. Sampai kadang sering sampai sore banget di lab" jelasku.
"dikejar deadline ceritanya ?? ehh gimana tuh kabarnya si demenanmu ?" goda maria sambil memainkan mata. "ihh apaan sihh .. udah aku kubur dalam dalam dah tuh perasaan. Aku pengen fokus pelajaran aja dulu mar" sanggahku. "widiiihhh yang lagi bener bener pengen masuk lima besar nihh, okee dehh siip tuh. Aku dukung penuh, kesampingkan dulu yang lainnya okee!" maria sengaja tidak aku ceritakan soal fino yang pacaran dengan dira sampai sekarang sudah putus. Aku cuma malas saja membahas apa yang sudah aku tutup.
Sesi latihanpun dimulai,
"Dew, bawa bekal kan ??" tegur maria. "bawak lah mar, gilak aja aku gak bawak bekal. Bisa lemas kelaparan aku" kami tertawa bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore yang berarti sesi latihan sudah selesai dan tiba waktunya untuk pulang.
"maria, langsung pulang gak nanti??" tanyaku. "iyaa dew, kamu juga kan ? bareng yuk, naik angkot" ajaknya. "okee ayokk, bersih bersih badan dulu yuk sama istirahat bentar. Gapapa kan ??". Maria mengangguk, kami istirahat dulu sebentar dipinggir lapangan untuk melepas lelah dan menikmati angin sore.
Tiba tiba ..
"ehemm, dewi.." suara lirih memanggil dari belakang, tapi aku seperti mengenali suara itu.
"fi-fino???!" aku tersentak saat menoleh kebelakang dan ternyata fino yang memanggil dari belakang. Tapi ngapain dia disini ? apa belum pulang ?.
"hee hee .. ganggu gak dew? aku lihat tadi kamu habis latihan" senyum ramah itu, aku melihatnya lagi.
"ohh ehh .. iyaa, baru selesai. Gak ganggu kok, ada apa yaa fin ? kok jam segini kamu masih disini ?" aku bertanya sembari berdiri. "ohh gapapa dew, pengen ngobrol ngobrol aja. Aku habis latihan sepak bola juga tadi, ini juga baru aja selesai. Ngobrol disitu boleh ?" ajaknya. Aneh kenapa tiba tiba fino pengen ngobrol disini. Aku saling pandang dengan maria, maria seperti mengerti, dia langsung berpamitan dengan alasan ingin segera ganti baju.
"ohh iyaa ayoo fin .." kami duduk dipinggir lapangan dekat pohon, teduh .. dengan semilir angin. "haus gak dew? nihh.." fino menyodorkan minuman ditangannya. "ehh kok, kamu gak minum fin? kamu juga pasti haus habis sepak bola". "tenang aja, ini aku udah beli dua dew" jawabnya tersenyum sambil mengeluarkan satu botol lagi dari sampingnya. Sepertinya dia memang sengaja membeli dua minuman untuk kami.
"ohh .. okee makasih fin .." aku tersenyum sembari membuka dan meminum minuman dari fino. "ohh iya, kok belum pulang fin? nunggu apa?" tanyaku basa basi. "nunggu kamu dew" jawabnya sambil tersenyum. Seketika aku benar benar melongo dibuatnya, menungguku ?? untuk apa ??. Aku hanya meng O kan jawabannya.
"emmm dew .. aku putus sama dira, pasti kamu udah denger ya??" lagi lagi, dia mengatakan yang sangat ingin aku ketahui kebenarannya. "ohh ehhh .. i-iyaa aku dengar pas anak anak nongkrong dikantin fin" jawabku gugup, aku tidak berani menatapnya. Aku takut terbawa perasaan lagi. Dia tersenyum menggangguk, "sebenarnya dew, aku sama dira pacaran karna aku terpaksa. Dia tiba tiba nyatain perasaannya, awalnya dia mancing mancing omongan dengan bilang kalau ada yang suka dan deketin aku. Contohnya kamu dan dira sendiri, aku kaget dew karna secara tidak langsung dia menyatakan kalau suka sama aku" fino meneguk sebentar sebelum melanjutkan ceritanya, dan aku? aku merasa malu, salting, panas, ahh entahlah.
"Karna aku takut dia malu dew .. karna sms dira sempat terbaca sama rizky. Aku takut rizky cerita ke anak anak, sampai akhirnya aku nerima dira. Kami pacaran dan aku mencoba untuk membuka hati buat dira, tapi ... sulit dew, aku benar benar gak bisa dew. Terlebih lagi dira yang terlalu agresif, dan dia juga sering ngomongin kamu. Dia jelek jelekin kamu dan merasa kamu gak pantas sama aku, dari situ aku mengambil keputusan untuk mengakhiri hubunganku dengan dira" cerita fino benar benar membuat aku tersentak, bukan soal dira bilang aku deketin fino tapi ternyata sebenci itukah dira padaku?? atau dia benar benar menganggapku saingannya??. Aku meneguk cepat minumanku.
"maaf fin .." ucapku lirih..