"hai teman teman, saya fino ramadhan bisa dipanggil fino. saya lulusan dari SMP negeri 07. terimakasih"
Awal perkenalanku didepan kelas. Aku berhasil masuk di smk namun mataku tertuju pada seorang murid perempuan berambut agak panjang yang terkuncir setengah. Sejak awal masuk di kelas ini dan tidak sengaja bertukar senyum dengan dia entah kenapa aku merasa penasaran. 'Seperti ad yang istimewa' gumamku.
"ehh fin ngapain sihh bengong gitu" rizky, teman sebangku ku sekarang yang baru tadi pagi aku kenal. Dia sama humblenya denganku, dan pembicaraannya juga nyambung denganku. Istilahnya satu frekuensi lah. "ohh enggak, itu lagi merhatiin perkenalan temen temen. Sama ngapalin nama mereka, masak iya nanti kalo ada perlu apa apa manggilnya mas, mbak, hei. Dikira songgong aku nanti" elakku, sebenarnya aku sedang kepikiran dewi. Murid perempuan yang sedari tadi sering tidak sengaja bertatapan dan bertukar senyum beberapa kali. "ohh kirain lagi nebak nebak mana yang bisa di gebet, mayan tuh anak belakang kita ada yang cakep fin haa haa" goda rizky. "alahh yang cakep mah banyak, dah bosen sama yang cakep. Cari yang manis aja haa haa" balasku menjawab godaan rizky. "songong amat" celetuknya, kamipun tergelak bersama.
Perkenalan selesai dan guru pun berlanjut memberikan jadwal pelajaran untuk kami. Sampai tidak terasa akhirnya bel istirahatpun berbunyi. "ke kantin fin?" tegur rizky. "yuk ahh, cacing perutku udah pada protes haa haa" jawabku langsung nyelonong ke depan kelas. "ehh tungguin depan yaa fin, aku masih beresin sesuatu nih!!" teriaknya. "OKEEE!".
Dan saat aku menunggu rizky keluar, disiti aku malah bertemu dengan dewi dan teman temannya. Sepertinya juga hendak ke kantin untuk isi perut mereka.
Tanpa basa basi aku langsung menemui mereka dan memperkenalkan diri, "hai, fino" ulurku sambil tersenyum pada dewi
"dewi" dia menyambut uluran tanganku dengan tersenyum, begitupun dengan teman temannya "diyah", "mei".
Mereka pun berlalu, tapi bayangannya masih membuat aku terdiam. Sampai akhirnya rizky datang dan kami pun segera menuju kantin. Takdir pun seolah tertuju padaku, aku dipertemukan lagi dengan perempuan itu. "mau pesen soto juga?" tegurku. "iyalahh masak mau pesen bakso. Sesaat aku melihat ke arah stand, ahh iyaa ini kan memang stand soto. Ada ada aja pertanyaanku. Kami tertawa bersama. 'wahh satu frekuensi sepertinya, sama sama suka bercanda' gumamku dalam hati.
Kami berada di meja yang berbeda, dewi dengan teman temannya berada di meja depan. "woii!! bengong terus, katanya laper. Kok dianggurin aja tuh soto, kasian amat" rizky menepuk bahuku dan duduk disebelahku menikmati semangkuk bakso. "ehhh iyaa nungguin kamu nih, gak enak makan duluan" elakku.
Dari sini aku dan dewi pun mulai semakin dekat, tak luput hampir setiap waktu kami bercanda dan ngobrol bareng. Dan entah kenapa seperti muncul perasaan 'nyaman'.
Tidak terasa 3 bulan sudah aku bergabung dengan sekolah ini. Disini aku masih mengagumi sosok dewi, yang ceria, cerdas, dan ... manis.
Malam ini aku merebahkan badanku, sedikit mengingat senyumnya. Tiba tiba ponsel ku bergetar, segera kuambil dan ternyata ada sms masuk entah dari siapa.
[haii, fino ??]
hah?? siapa ini
[yaa. siapa]
Segera kubalas dengan singkat, malas basa basi.
[dewi, dewi ratna. sorry aku dikasih nomor kamu sama mareta]
Bibirku langsung menyunggingkan senyum, entah mimpi apa aku. Atau memang semesta berpihak kepadaku? sudah lama aku berniat berkirim pesan pada dewi, tapi aku urungkan. Mungkin aku memang tidak punya banyak nyali untuk itu.
[ohh dewi, iyaa gapapa. Ada apa dew ?]
Jawabku ramah.
[ohh enggak, kebetulan semua teman dikelas aku mintai nomor agar kalau ada apa apa enak mau hubungin]
Kenapa terasa sedikit kecewa? mungkin aku berharap dewi memiliki perasaan yang sama denganku.
[ohh iyaa iyaa, aku save nomor kamu yaa]
Segera cepat cepat aku simpan nomor dewi. Beberapa saat sms ku tidak dibalas lagi, 'mungkin dia sudah tidur karna memang sudah malam juga' batinku.
Ingin segera aku skip malam ini agar pagi lebih cepat datang.
Pagi pun datang,
"woii riz! pr mu udah belum?? pinjem napa, aku gak ngerti sama sekali pr yang kemarin" seruku sambil menepuk bahu rizky. Temanku satu ini memang paling rajinlah kalau soal pelajaran. "halahhh selalu kamu tuh fin, nihh cepet kerjain!" rizky menyerahkan buku pr nya dan aku cepat cepat menyalin. Aku melihat dewi datang, namun ada yang aneh. Dia berjalan terburu buru tanpa menyapa atau hanya sekedar tersenyum seperti hari hari biasanya, dia langsung menghampiri mareta entah apa yang mereka bicarakan. 'Sepertinya serius banget, ada apa yaa. Tumben tumbenan juga dewi gak nyapa hmmm' pikiranku berkelut pada dewi.
Akhirnya di jam istirahat aku tau apa yang membuat dewi seperti itu.
mareta menjelaskan apa yang diceritakan dewi tadi pagi padaku. Aku pun kaget karna aku tidak merasa membicarakan dewi pada siapa pun, termasuk soal sms kemaren.
"sumpah mar, aku gak pernah bilang apa apa ke anak anak lain. Kamu kenal aku kan ? kalau urusan dewi mau deketin aku atau enggak itu juga bukan hakku bicara ke anak anak"
"okee kalau memang bukan kamu yang ngomong fin, terus 2 cewek geng centil itu kenapa bisa ngomong gitu ? aku tau dewi fin, dia sekarang pasti
sedang malu dan takut dibully anak anak. Kalau memang bukan kamu, kamu harus buktiin" jawab mareta seraya berlalu dari depanku. "arrrhhhgg siapa sih yang nyebar gosip kayak gini ?? awas aja kalo sampai aku tau!" geram sekali rasanya, 'aku harus selidiki ini' gumamku.
"kacau!! kacau!! hah!!!" geramku. "apaan sih fin?? dateng dateng marah marah aja kek orang kesambet" tanya rizky. "gila riz, siapa sihh yang berani sebarin gossip murahan kalau dewi berusaha deketin aku?? dewi jadi marah, dipikir aku yang nyebarin!! aaarrrgghhhh!!!" ku acak acak rambutku karna saking geramnya. "ohh itu, aku mau aja nanya ke kamu fin. Apa bener dewi sms kamu dan berusaha deketin kamu??".
"nahh itu, kamu tau darimana riz?? nihh smsnya! gak aneh aneh kan??" kuserahkan bukti sms pada rizky. "ehh iyaa sihh, tapi kok bisa faiz ngira dewi lagi deketin kamu ya fin??". "faiz????!!" tanyaku kaget. "iyaa si faiz, dia dari rumahmu kan kemarin malem?? katanya dia gak sengaja ngebaca smsmu sama dewi" aku tersentak kaget, bisa bisanya faiz nyebarin gossip murahan kayak gini. Segera aku cari keberadaan faiz.
"FAIZ!!!!" aku memanggil faiz dengan tegas, dia seperti kaget saat menoleh padaku. "ehh ada apa sihh fin teriak teriak gtu?" tanyanya. "apa maksutnya kamu nyebarin gossip murahan hah??!!" kuangkat kerah bajunya dengan sedikit menantang. "gossip? gossip apaan fin?? sumpah aku gak ngerti mksutmu!" sangkalnya. "kamu kan yang nyebarin kalo dewi lagi berusaha deketin aku hah??!!!!" bentakku. Faiz mundur seaaat "fin, aku gak nyebarin. Aku memang sempat baca smsmu sama dewi, trus waktu itu aku lagi sms juga sama dira. Disitu aku cuma cerita (fino aja udah mau laku, akunya masih lapuk haa haa) aku bercanda seperti itu karna aku dan dira bahas soal pasangan. Trus dira tanya emang siapa yang lagi deket sama kamu, ya aku jawab dewi setelah liat smsmu sama dewi fin. Sorry fin aku gak berniat lancang .. mungkin cuman asumsiku yang salah. Dan bodohnya kenapa aku cerita ke dira. Sorry fin, sorry banget .. dewi marah fin?? aku bakal bantu jelasin ke dewi kalo emang dia marah" Aku benar benar kaget, kenapa bisa faiz seceroboh itu.
"aku mau temui dira, dia harus tanggungjawab juga" aku berkata sambil berlalu meninggalkan faiz yang masih tersentak saat aku melabrak dia barusan.
'Dira, yaa! dia harus buat dewi percaya dan kembali baik padaku seperti sebelumnya!' gerutuku dalam hati kala melintasi lorong menuju kelas.