Ada kalanya hidup memberikan kejutan.
Kadang kejutan itu menyenangkan.
Misalnya menemukan uang lima puluh ribu di saku celana yang sudah lama tidak dipakai.
Kadang juga tidak menyenangkan.
Misalnya menemukan cicak di dalam helm.
Dan ada juga kejutan yang membuat otak berhenti bekerja selama beberapa menit.
Kategori terakhir inilah yang sedang dialami Kayra Aninditha.
Ucapan ustadz yang sedang viral dihadapannya ini langsung membuatnya mematung.
"Tapi kalau nikah sungguhan saya bersedia."
Kalimat itu masih bergema di kepalanya.
Berulang-ulang.
Seperti lagu iklan yang tidak diundang tapi menetap.
Kayra menatap Naufal.
Naufal menundukkan pandangnya dengan tenang.
Terlalu tenang.
Kalau rumah terbakar sekarang, Kayra curiga pria itu masih sempat menyelesaikan secangkir teh sebelum keluar.
Sementara itu, otak Kayra sedang berlari ke segala arah.
Sendirian.
Tanpa pengawasan.
"Maksud mas apa?"
tanya Kayra akhirnya.
Naufal menjawab dengan nada santai.
"Maksud saya jelas."
"Nggak jelas."
"Perasaan udah jelas."
"Nggak."
"Jelas banget itu... ."
"Mas, kayaknya kita beda definisi."
Untuk pertama kalinya Naufal tertawa kecil.
Padahal Kayra sedang berada di ambang kerusakan mental.
Tidak sopan sekali.
"Saya hanya mengatakan bahwa nikah kontrak tidak bisa."
jelas Naufal.
"Karena haram?"
tanya Kayra.
"Betul, Karena haram."
jawab Naufal.
"Nah itu saya paham."
kata Kayra cepat.
"Bagus."
"Tapi bagian setelahnya saya nggak paham."
"Bagian mana?"
"Bagian yang membuat hidup saya jadi aneh."
Naufal terlihat berpikir.
Lalu berkata,
"Saya bilang saya bersedia menikah sungguhan."
"Nah itu."
Kayra menunjuk Naufal.
"Apa?"
"Kenapa?"
Naufal mengernyit.
"Kenapa apa?"
"Kenapa mau menikah?"
"Karena Anda mengajak menikah."
Kayra hampir jatuh dari sofa.
Jawaban itu terdengar logis.
Masalahnya terlalu logis.
Seperti menjelaskan hujan turun karena ada air.
Benar.
Tapi tidak membantu.
"Bukan itu."
kata Kayra.
"Lalu?"
"Maksud saya kenapa mau menikah sungguhan dengan saya?"
"Oh."
kata Naufal.
"Oh?"
ulang Kayra sambil memasang muka bertanya-tanya.
"Oh."
ulang Naufal lagi.
Percakapan mereka mulai terdengar seperti dua modem yang gagal tersambung.
Naufal akhirnya berkata,
"Karena menurut saya pernikahan adalah sesuatu yang baik."
Kayra memijat pelipisnya.
Ya Allah.
Pria serius ini benar-benar ustadz?
"Mas."
"Iya?"
"Saya artis."
"Saya tahu."
"Saya bukan ustadzah."
"Saya tahu."
"Saya bahkan bukan lulusan pesantren."
"Saya juga tahu."
Kayra mulai curiga ada orang yang diam-diam memberi bocoran kepada Naufal.
Karena pria itu terdengar terlalu santai.
Padahal kalau posisi mereka dibalik, Kayra sudah membuat presentasi PowerPoint berisi alasan penolakan.
Minimal dua belas slide.
Belum termasuk lampiran.
Naufal melanjutkan,
"Saya punya alasan sendiri kenapa saya mau menikah dengan Anda, namun sebelum saya sampaikan, saya ingin memahami alasan Anda."
"Alasan apa?"
"Alasan kenapa Anda dengan latar belakang seperti itu mengusulkan untuk nikah kontrak dengan seorang ustadz seperti saya."
Kayra membuka mulut.
Lalu segera menutupnya lagi.
Masalahnya dia tidak mungkin menjelaskan semuanya sekarang.
Belum waktunya.
Akhirnya Kayra berdiri.
"Aku... eh saya..."
"Bingung ya?"
tebak Naufal.
Kayra mengangguk.
"Itu terlihat."
"Kelihatan ya?"
"Sedikit."
Kayra menghela napas.
Sedikit kata Naufal mungkin berarti sangat jelas bagi manusia normal.
"Aku pulang dulu."
kata Kayra.
"Baik."
"Nanti saya pikirkan lagi."
"Silakan."
"Mas nggak marah?"
tanya Kayra.
Naufal menggeleng.
"Kenapa harus marah?"
"Karena saya datang ke rumah mas membawa ide yang bahkan saya sendiri nggak suka."
Naufal tertawa kecil.
Lalu berkata,
"Jujur saja, saya juga tidak menyangka ada tamu yang datang membawa proposal seperti itu."
Akhirnya.
Ada juga manusia yang mengakui bahwa ini aneh.
Kayra merasa sedikit lebih waras.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Beberapa menit kemudian dia keluar dari rumah itu.
Langkahnya terasa ringan.
Tapi pikirannya terasa seperti ditimpa lemari.
Shania yang menunggu di dekat mobil langsung berdiri.
Wajahnya penuh rasa penasaran.
Mirip wartawan infotainment yang mencium aroma gosip.
"Gimana?"
tanya Shania.
Kayra tidak menjawab.
"Gimana?"
ulang Shania.
Kayra tetap diam.
Shania mulai khawatir.
"Dia marah?"
Kayra menggeleng.
"Dia ngusir kamu?"
Kayra kembali menggeleng.
"Dia dakwahin kamu tiga jam?"
Kayra menggeleng lagi.
"Terus?"
Kayra membuka pintu mobil.
Masuk.
Memasang sabuk pengaman.
Menatap lurus ke depan.
Seperti orang yang baru menerima hasil ujian.
Yang lebih aneh lagi, dia sendiri belum tahu lulus atau tidak.
Shania ikut masuk.
Lalu kembali bertanya.
"Kayra."
"Hm."
"Apa yang terjadi?"
Kayra menarik napas panjang.
Sangat panjang.
Begitu panjang sampai paru-parunya mungkin mulai mengajukan protes.
"Dia nolak."
kata Kayra.
Shania langsung bersandar lega.
"Syukurlah."
Kayra menoleh.
"Kok syukurlah?"
"Karena aku juga nggak yakin ide ini masuk akal."
"Lah."
"Tapi memang begitu."
Kayra mendengus.
Kadang dia merasa Shania dibayar untuk membuat hidupnya lebih sulit.
Padahal kenyataannya Shania dibayar untuk membuat hidupnya tetap berjalan.
Bedanya tipis.
"Tapi..."
lanjut Kayra.
Nah.
Satu kata itu langsung mengubah suasana.
Shania menoleh.
"Tapi apa?"
Kayra kembali menatap jendela.
Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah Naufal.
Pohon-pohon lewat.
Motor lewat.
Orang jual bakso lewat.
Hanya logika yang tidak lewat.
Masih tertinggal di rumah tadi.
"Dia nolak nikah kontrak."
kata Kayra.
"oke."
sahut Shania.
"Tapi dia mau nikah beneran."
Mobil mendadak sunyi.
Sangat sunyi.
Untung sopir mereka sudah terbiasa mendengar percakapan aneh.
Kalau tidak, mungkin dia sudah banting setir.
Shania berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Masih belum percaya.
"Tunggu."
katanya.
"Iya."
"Tunggu."
"Iya."
"Tunggu sebentar."
"Shania, kamu bukan kaset rusak!"
Shania mengabaikannya.
Dia sedang fokus memproses informasi.
Yang memang cukup berat.
"Tadi kamu bilang apa?"
tanyanya.
"Dia mau nikah beneran."
"Hah, Serius?"
"Emang aku keliatan lagi bercanda?"
Shania menatap langit-langit mobil.
Mungkin sedang mencari jawaban.
Mungkin juga sedang mencari kesabaran.
Keduanya sama-sama langka.
"Tunggu."
katanya lagi.
"Nah mulai lagi."
keluh Kayra.
"Jadi ustadz itu serius mau nikah sama kamu?"
Pertanyaan itu membuat Kayra terdiam.
Karena jujur saja...
Dia juga tidak tahu.
Itulah masalahnya.
Kalau Naufal marah, dia paham.
Kalau Naufal menolak, dia paham.
Kalau Naufal mengusirnya, dia juga paham.
Tapi menerima?
Dengan tenang?
Tanpa drama?
Tanpa syarat aneh?
Itu justru membingungkan.
Shania masih menatapnya.
Menunggu jawaban.
Sementara Kayra menatap keluar jendela.
Entah kenapa bayangan wajah Naufal kembali muncul di kepalanya.
Wajah yang tenang.
Suara yang tenang.
Sikap yang tenang.
Pokoknya tenang terus.
Kalau pria itu dijadikan aplikasi, namanya mungkin "Anti Panik Premium".
"Kayra."
panggil Shania.
"Hm?"
"Kamu nggak lagi mikirin dia kan?"
"Hah?"
"Kamu senyum."
Kayra langsung meluruskan wajah.
"Aku nggak senyum."
"Tadi senyum."
"Itu refleks."
"Bahaya."
"Apa yang bahaya?"
"Biasanya cerita romantis dimulai dari refleks."
Kayra mengambil bantal kecil di kursi belakang.
Lalu melemparkannya ke arah Shania.
Tentu saja pelan.
Karena dia artis.
Kalau masuk berita gara-gara melempar manajer sendiri, itu terlalu memalukan.
Meski mungkin engagement-nya lumayan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, sebuah pikiran muncul di kepala Kayra.
Pikiran yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Bagaimana kalau Naufal memang serius?
Bagaimana kalau pria itu benar-benar ingin menikahinya?
Dan yang paling menakutkan...
Bagaimana kalau dia harus memberikan jawaban?