Dermaga tua di sisi utara istana itu sudah menunggu dengan satu kapal kecil yang mesinnya menyala dan dua serdadu di atasnya, tapi dua masalah langsung terlihat begitu mereka tiba: masalah pertama, dari atas tebing istana, lampu-lampu sorot sudah mulai menyapu ke arah perairan di sekitar dermaga, mencari mereka seperti jari-jari raksasa yang meraba-raba kegelapan. Masalah kedua, dua kapal patroli Kanzel yang sedang berpatroli di perairan dekat sudah bergerak mendekat dengan kecepatan penuh ke arah dermaga itu, dipanggil oleh tembakan-tembakan di dalam istana.
“Mereka akan sampai ke dermaga ini sebelum kapal kita cukup jauh ke laut dalam,” ucap salah satu serdadu, memperkirakan jarak dengan matanya yang terlatih. “Kita butuh waktu lima menit lagi. Mereka hanya butuh dua.”
Dua menit. Dua kapal patroli bersenjata melawan satu kapal kecil dengan delapan orang di atasnya, termasuk seorang raja tua yang tidak bisa bergerak cepat. Judas menghitung semuanya dalam satu detik, dan hasil hitungannya sama dengan hasil hitungan semua orang di dermaga itu: mereka tidak akan sampai.
Dan saat itulah Ara berjalan melewati mereka semua, langsung ke ujung dermaga, dan tanpa mengatakan satu kata pun kepada siapa pun, dia melompat ke dalam laut yang gelap.
“ARA!” teriak Judas, dan suaranya pecah di tengah malam itu untuk pertama kalinya.
Dia berlari ke ujung dermaga, siap untuk melompat menyusul, dan berhenti kaku di tepinya ketika matanya menangkap apa yang sedang terjadi di bawah permukaan air yang gelap itu.
Air laut di sekitar dermaga itu bergerak. Bukan bergerak oleh ombak. Bergerak dengan pola, dengan arah, dengan irama yang tidak pernah dimiliki oleh air yang bergerak sendiri. Air itu berputar, membentuk pusaran besar yang makin lama makin kuat, dan di tengah pusaran itu, di bawah permukaan yang berkilau tertimpa lampu sorot dari tebing, sosok Ara berdiri di dalam air setinggi dadanya dengan kedua tangan terentang ke samping, dengan rambut pirangnya yang berkibar basah, dengan kalung liontin kerang peraknya yang bersinar seperti mercusuar kecil.
Dan air laut itu mendengarkannya.
Dua kapal patroli Kanzel yang sedang melaju kencang ke arah dermaga tiba-tiba oleng ke kiri dan kanan secara bersamaan, seperti ditampar oleh tangan raksasa dari bawah air. Ombak besar yang muncul entah dari mana menghantam lambung kedua kapal itu berturut-turut, membuat mereka berputar tidak terkendali, mesin-mesinnya meraung sia-sia melawan air yang sudah berubah menjadi lawan. Di atas geladak kapal-kapal itu, orang-orang Kanzel berteriak kebingungan, berpegangan pada apa pun yang bisa mereka pegang, ketika kapal-kapal mereka didorong menjauh dari dermaga oleh kekuatan yang tidak bisa mereka lihat dan tidak akan pernah bisa mereka jelaskan.
Di atas dermaga, tidak ada satu pun orang yang bergerak atau bernapas.
Raja Canis Major berdiri di antara dua serdadu dengan mata yang menatap ke arah cucunya di dalam air itu, dan wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. Wajahnya menunjukkan sesuatu yang lain. Wajahnya menunjukkan pengakuan yang dalam, pengakuan seorang kakek yang akhirnya melihat dengan matanya sendiri apa yang selama ini hanya dia dengar sebagai bisikan-bisikan lama tentang garis darah keluarganya yang berasal dari laut.
“Sarella,” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. “Kau mewarisinya juga, Nak. Ternyata kau mewarisinya juga.”
Ara berjalan keluar dari air itu beberapa saat kemudian, basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan napas yang memburu dan kaki yang sedikit goyah karena kekuatan yang baru saja dia keluarkan. Dia berhenti di depan mereka semua, di depan raja tua yang menatapnya dengan air mata di matanya, di depan serdadu-serdadu yang menatapnya dengan mulut yang terbuka, dan di depan Judas yang berdiri mematung di ujung dermaga dengan wajah yang tidak bisa dibaca oleh siapa pun.
“Naik ke kapal,” ucap Ara, dan suaranya lelah tapi tegas. “Kita punya waktu empat menit sebelum ombak itu berhenti mendengarkanku. Setelah itu, kapal-kapal itu akan kembali, dan aku tidak akan punya kekuatan untuk menghentikannya dua kali.”
Mereka naik ke kapal itu dalam keheningan yang total, keheningan yang bahkan tidak berani dipecahkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah berbaris di kepala setiap orang. Kapal kecil itu meluncur keluar dari dermaga tua dan membelah laut yang gelap menuju perairan internasional, dengan lampu-lampu sorot dari tebing istana yang makin lama makin jauh di belakang mereka, dengan dua kapal patroli Kanzel yang masih berputar-putar tidak terkendali di kejauhan.
Di atas kapal yang melaju itu, Ara duduk di sudut dek dengan selimut yang disampirkan serdadu di bahunya yang basah, menatap laut yang baru saja mendengarkannya. Raja tua duduk tidak jauh darinya, terbungkus jaket tebal, memandanginya dengan tatapan yang penuh dengan seribu pertanyaan yang dia simpan untuk nanti.
Dan Judas berdiri di depannya, di tengah-tengah dek, menatapnya dengan tatapan yang sudah bergerak melewati keterkejutan dan mendarat di satu titik yang sangat spesifik: titik yang bernama jawaban.
“Mobil yang tenggelam itu,” ucap Judas akhirnya, dan suaranya pelan, hanya untuk mereka berdua, di tengah deru mesin kapal dan angin laut. “Malam itu, di jalan pantai. Kau muncul entah dari mana dan menarikku keluar dari dalam mobil yang sudah penuh air, di tengah laut, di tengah malam. Aku sudah menghabiskan dua tahun bertanya-tanya bagaimana seorang gadis kurus bisa melakukan itu sendirian.”
Ara menatapnya dari balik rambutnya yang basah. “Dan sekarang kau sudah tahu jawabannya.”
“Sekarang aku sudah tahu jawabannya.” Judas duduk di seberangnya, menatapnya dengan tatapan yang tidak marah, tidak takut, tidak aneh. Tatapan yang justru terlihat seperti tatapan orang yang baru saja mendapati satu-satunya kepingan terakhir dari sebuah teka-teki besar jatuh ke tempatnya. “Informan-informanmu yang tidak pernah mau diperkenalkan. Kapal-kapal Halvern yang posisinya selalu kau ketahui dengan pasti. Dan tatapanmu setiap kali kau memandang laut, tatapan yang seharusnya sudah kupahami sejak malam pertama kita bertemu. Kau bukan pecinta laut, Ara. Kau milik laut.”
“Dan itu mengubah sesuatu bagimu?” tanya Ara, dengan suara yang hati-hati, suara orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban yang paling buruk.
Judas menatapnya lama. Lalu dia menggeleng pelan, dan satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sudah sangat dia kenali.
“Itu mengubah segalanya bagiku, Nona Arandelle,” jawabnya. “Karena sekarang aku tahu bahwa aku tidak hanya berutang nyawa kepada dewi penolongku. Aku berutang nyawa kepada laut itu sendiri. Dan aku tidak pernah, tidak akan pernah, membiarkan utang seperti itu tidak terbayar.”
Di kejauhan, di belakang mereka, istana Osmod berdiri gelap di atas tebingnya dengan Lord Kanzel di dalamnya, dengan takhta yang sudah direbutnya, dengan pasukan-pasukan yang sudah berada di bawah perintahnya.
Tapi di atas kapal kecil yang melaju membelah laut malam itu, sebuah kerajaan yang sesungguhnya baru saja mulai berlayar pulang: seorang raja tua yang akan kembali, seorang cucu yang sudah menemukan kekuatannya, dan seorang pangeran dari kerajaan lain yang baru saja melihat, untuk pertama kalinya, seluruh kebenaran tentang gadis yang duduk di seberangnya.
Dan laut, seperti biasa, menyimpan semuanya dengan baik.