Kapal kecil itu berlayar ke arah barat daya selama berjam-jam, membelah laut malam menuju perairan internasional, dengan istana Osmod yang sudah lama menghilang di balik horizon. Di atas dek, setelah adrenalin pertarungan dan pelarian itu mulai turun, keheningan akhirnya datang — keheningan yang berisi semua pertanyaan yang sudah berjam-jam ditahan oleh semua orang di kapal itu.
Dan Ara, yang duduk bersandar di dinding lambung dengan selimut di bahunya dan rambut yang masih setengah basah, akhirnya membukanya sendiri.
“Kau berhak mendapatkan penjelasan,” ucapnya kepada Judas, yang duduk di seberangnya dan belum mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu sejak mereka naik ke kapal. “Semua. Tanpa ada yang kusembunyikan kali ini. Tanyakan apa pun.”
Judas menimbang pertanyaannya sejenak, dan seperti biasa, dia langsung ke inti yang paling penting.
“Ibumu,” ucapnya. “Dia yang mewariskan ini kepadamu. Kekuatan itu. Tapi dia bukan dari kerajaan mana pun yang kukenal, karena tidak ada satu pun kerajaan di benua ini yang pernah tercatat punya orang-orang yang bisa menggerakkan laut. Dari mana darah itu berasal, Ara?”
Ara menatap laut yang gelap di sisi kapal sejenak sebelum menjawab, dan suaranya keluar pelan, seperti orang yang sedang membuka pintu yang sudah sangat lama dikuncinya.
“Ibuku bukan sepenuhnya manusia biasa, Jud. Garis ibu dari keluarganya berasal dari orang-orang laut — kaum yang sudah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan di benua ini berdiri. Manusia setengah laut. Kalian menyebut mereka duyung dalam cerita-cerita anak-anak, dan mengira mereka dongeng.” Dia berhenti sejenak. “Ibuku separuh. Ayahku manusia biasa sepenuhnya. Dan aku ... aku ada di tengah-tengahnya. Cukup manusia untuk hidup di daratan, cukup laut untuk didengar oleh air ketika aku memanggilnya.”
Judas tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk di sana dan mendengarkan, dengan wajah yang sudah tidak menyembunyikan lagi betapa besarnya semua ini baginya.
“Dari pihak ayahku, aku mewarisi wajah dan kekeras kepalaannya. Dari pihak ibuku, aku mewarisi lautnya.” Ara mengangkat tangannya, dan setetes air yang menempel di ujung jarinya bergetar pelan sebelum jatuh. “Aku bisa membuat air mendengarkanku. Menggerakkannya, membentuknya, memintanya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak bisa dilakukan air. Di dalam laut, kekuatanku jauh lebih besar — di sana aku bisa bernapas seperti bernapas di udara, bergerak secepat ikan, dan berbicara dengan penghuni-penghuninya. Tapi di daratan, setiap kali aku menggunakannya, harganya selalu ada. Kekuatan ini menarik dari tubuhku sendiri, Jud. Beberapa jam setelahnya, aku akan merasa seperti baru saja berlari maraton. Dan kalau aku memaksakannya terlalu jauh ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi, karena aku tidak pernah berani mencobanya sampai sejauh itu.”
“Para duyung yang kusebut informan,” ucap Judas, dan kepingan-kepingan itu jatuh ke tempatnya satu per satu di kepalanya. “Mereka nyata. Mereka yang mengawasi kapal Halvern. Mereka yang menunjukkan kerangka pengeboran itu kepadamu. Mereka yang ...” dia berhenti, matanya sedikit membelalak, “... mereka yang menunjukkan wajah Baron kepadamu di atas bingkai air itu. Malam itu, ketika kau meneleponku dari mobilmu. Bingkai air yang membeku membentuk wajah. Aku sudah melihatnya di foto dan mengira itu semacam efek cahaya.”
“Vaza yang membentuknya. Duyung tertua di perairan Monaghan, tabib bagi semua penghuni laut di sana.” Ara tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam itu. “Dia sudah hidup lebih lama dari kerajaan kita berdua digabungkan, dan dia sudah mengenal keluarga ibuku jauh sebelum aku lahir. Dia memanggilku Putri Arandelle sejak aku kecil, jauh sebelum aku mengerti apa artinya.”
Dan saat itulah suara ketiga terdengar dari sisi kapal, suara tua yang serak tapi penuh dengan wibawa yang tidak bisa dilepaskan oleh usia berapa pun. Raja Canis Major berjalan mendekat dengan selimut tebal di bahunya, dan duduk perlahan di sisi Ara, menatap laut yang sama yang sedang mereka bicarakan.
“Bisikan-bisikan lama itu ternyata bukan bisikan kosong,” ucapnya. “Keluarga istri kakek buyutku berasal dari orang-orang laut di utara. Itu yang selalu dibisikkan di lorong-lorong istana, selalu disangkal di dokumen-dokumen resmi, dan selalu dianggap sebagai gosip murahan untuk mencemarkan darah kerajaan. Aku sendiri menganggapnya gosip selama enam puluh tahun.” Dia menatap Ara dengan tatapan yang dalam. “Sampai aku melihat Sarella kecil berbicara dengan ombak di tepi pantai ketika dia berusia empat tahun, dan ombak itu berhenti untuk mendengarkannya. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dari jendela sayap barat, dan aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Kepada siapa pun. Bahkan kepada ibunya.”
“Kakek sudah tahu sejak lama,” bisik Ara.
“Aku sudah tahu sejak lama bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam darah keluarga kami. Tapi aku memilih untuk menguburnya, karena seorang raja yang istananya sudah penuh dengan intrik tidak butuh satu rahasia lagi untuk dijaga.” Raja tua itu menggeleng pelan, penuh penyesalan. “Dan keputusan itu, seperti banyak keputusanku yang lain, berakhir dengan harga yang mahal. Kalau aku mengakui darah itu sejak awal, mungkin ibumu tidak akan pernah merasa sendirian dengan kekuatannya. Mungkin dia akan belajar menggunakannya dengan benar, dan mungkin ... mungkin malam itu, di jalan pegunungan itu, dia akan punya cara untuk melindungi dirinya dan ayahmu.”
Ara menggenggam tangan kakeknya yang tua. “Dia melindungi kami dengan caranya sendiri, Kek. Dengan buku hariannya, dengan surat-surat yang ditinggalkannya, dengan segala yang dia simpan untuk kami temukan bertahun-tahun kemudian. Dia tahu dia tidak akan selamat. Dan dia memastikan bahwa kematiannya tidak akan menjadi akhir dari kebenarannya.”
Judas berdiri dan berjalan ke tepi kapal, menatap laut yang membentang ke segala arah, laut yang ternyata sudah menjadi bagian dari cerita ini jauh sebelum dia sendiri masuk ke dalamnya. Laut yang menariknya keluar dari mobil yang tenggelam melalui tangan seorang gadis kurus yang ternyata adalah separuh rumahnya sendiri.
“Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Jud.” Suara Ara dari belakangnya. “Aku tidak bisa terlalu jauh dari laut dalam waktu yang lama. Tubuhku menolaknya. Aku mulai lemah setelah beberapa minggu di daratan yang jauh dari air asin, seperti tumbuhan yang dicabut dari tanahnya. Itu sebabnya aku tidak pernah bisa pergi jauh dari pantai. Itu sebabnya aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan yang normal, pekerjaan yang normal, masa depan yang normal.” Suaranya berhenti sejenak. “Itu yang harus kau pahami sekarang, sebelum ... sebelum apa pun yang sedang terjadi di antara kita ini berjalan lebih jauh. Aku tidak datang dengan tawaran kehidupan yang sederhana, Jud. Aku datang dengan laut yang tidak akan pernah bisa kulepaskan.”
Judas berbalik dan menatapnya, dengan angin laut yang menerpa wajahnya, dengan lampu-lampu kapal yang bergetar di matanya.
“Aku tidak pernah meminta kehidupan yang sederhana, Ara,” jawabnya. “Aku memiliki kasino, kerajaan, musuh-musuh di dua negara, dan sebuah ruangan bawah tanah yang tidak akan pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun. Kalau kau mengira aku mencari kesederhanaan, kau salah mengenaliku sejak malam pertama.” Dia berjalan mendekat dan berhenti di depannya. “Dan soal lautmu itu: laut Monaghan punya garis pantai sepanjang dua ratus kilometer. Menurutku itu cukup luas untuk dua orang yang sama-sama tidak bisa hidup terlalu jauh dari rumahnya masing-masing.”
Raja Canis Major berdehem pelan dari sisi kapal, dengan senyum kecil yang dia sembunyikan dengan batuk yang dibuat-buat, dan untuk beberapa saat, di tengah laut yang gelap itu, kapal kecil itu dipenuhi oleh sesuatu yang sudah lama tidak ada di dalamnya: keheningan yang hangat.