Serangan itu datang di malam kedua, tepat seperti yang sudah dihitung oleh Josh dari pola pergerakan dua kapal bayangan di selatan itu: ketika kapal utama sudah memasuki perairan utara yang paling dalam, jauh dari jalur patroli mana pun, di titik yang menurut perhitungan para penyerang adalah titik paling terisolasi dalam seluruh rute perjalanan itu.
Dua kapal cepat itu mendekat dari dua sisi dalam kegelapan, tanpa lampu, dengan mesin yang sudah dikecilkan sampai hampir tidak terdengar, membawa empat belas orang bersenjata yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijaga selain dendam yang sudah kering.
Mereka tidak tahu bahwa setiap langkah mereka sudah dipetakan sejak mereka meninggalkan perairan Monaghan.
“Mereka bergerak sekarang, Tuan,” lapor Kapten Rolan pelan di ruang kemudi, dengan layar yang menampilkan dua titik kecil yang mendekat dari dua arah dalam kegelapan total. “Sesuai jadwal yang sudah kita duga. Tiga menit sampai kontak.”
“Semua posisi,” perintah Judas, dan di seluruh kapal utama itu, tiga puluh marinir yang berpakaian awak biasa bergerak ke posisi masing-masing tanpa satu pun suara, tanpa satu pun tanda yang bisa terbaca dari luar bahwa kapal ini bukanlah kapal yang terlihat seperti apa yang mereka kira.
Ara berdiri di tepi geladak dengan Vaza di sisinya, dan untuk pertama kalinya sejak perintah istirahat total Vaza dulu, dia merasakan laut memanggilnya lagi — bukan untuk pekerjaan besar kali ini, bukan untuk kekuatan penuh, hanya untuk satu tugas kecil yang sudah dia rencanakan bersama duyung tua itu sejak semalam.
“Hanya seperti yang kita latihkan, Putri,” bisik Vaza pelan. “Tidak lebih. Kekuatan yang sudah pulih itu bukan untuk dihamburkan. Kekuatan itu untuk digunakan dengan tepat, seperti seorang penjahit yang menggunakan jarumnya, bukan seperti seorang penghancur yang menggunakan palunya.”
“Aku mengerti, Vaza,” jawab Ara pelan. “Kali ini, aku mengerti.”
Dua kapal cepat itu menyerang dari dua sisi secara bersamaan, dan dalam sepuluh detik pertama, segalanya terlihat seperti penyergapan yang sempurna: orang-orang bersenjata itu naik ke geladak dengan kait-kait yang tidak bersuara, menemukan sebuah kapal yang gelap dan terlihat tidak siaga, dan mulai bergerak ke arah ruang-ruang kemudi dengan keyakinan orang-orang yang sudah yakin bahwa malam ini adalah malam mereka.
Dan kemudian seluruh lampu kapal menyala serentak, dan malam itu berbalik arah dalam waktu kurang dari satu kedipan mata.
Tiga puluh marinir muncul dari setiap sudut geladak dalam satu gerakan yang sudah dilatih ratusan kali, menutup setiap jalan keluar dalam hitungan detik, dengan senjata-senjata yang sudah terarah ke empat belas orang yang tiba-tiba menyadari bahwa mereka baru saja naik bukan ke dalam kapal yang lengah, melainkan ke dalam perangkap yang sudah menunggu mereka sejak dua hari yang lalu. Pertarungan itu singkat dan sepihak — bukan karena orang-orang Halvern itu tidak berani melawan, tapi karena tidak ada satu pun medan yang tersisa untuk dilawankan: setiap sudut sudah ditutup, setiap lorong sudah dijaga, dan setiap jalan kembali ke kapal-kapal mereka sudah diblokir oleh dua kapal pendamping yang sudah bergerak memotong jalur mundur mereka dari kegelapan.
Tiga orang yang berhasil melompat kembali ke air untuk melarikan diri berenang mendapati laut utara menolak untuk membawa mereka ke mana-mana: arus di sekitar mereka berputar dan membentuk dinding-dinding lembut yang menggiring mereka kembali ke arah kapal seperti seorang penggembala yang menggiring domba-dombanya, dengan Ara yang berdiri di tepi geladak dengan satu tangannya yang bergerak pelan di udara, mengendalikan air itu dengan ketepatan seorang penjahit — bukan dengan kekuatan penuh yang menguras habis tubuhnya, tapi dengan gerakan-gerakan kecil dan terukur yang bahkan tidak membuatnya berkeringat.
“Seperti jarum, bukan palu,” bisiknya kepada dirinya sendiri, dengan senyum kecil, dan dia merasakan Vaza mengangguk setuju di sampingnya dengan tatapan yang bangga.
Pertarungan itu berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dengan empat belas orang yang sudah dalam tawanan di geladak kapal, dengan tidak ada satu pun korban di pihak mereka, dan dengan sisa-sisa terakhir jaringan Halvern yang akhirnya benar-benar selesai sampai ke orang terakhirnya.
Judas berjalan di antara barisan tawanan itu dan berhenti di depan pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka lama di wajahnya, yang menatapnya dengan tatapan yang masih menyimpan perlawanan bahkan dengan tangan yang sudah terborgol.
“Kalian berjuang untuk jaringan yang sudah mati, untuk majikan yang sudah di penjara, dan untuk dendam yang bahkan tidak kalian mengerti sepenuhnya,” ucap Judas, menatapnya dengan tatapan yang tidak marah, hanya lelah. “Aku tidak akan membunuh kalian. Aku sudah selesai dengan membunuh orang-orang yang seharusnya tidak perlu kubunuh. Kalian akan diserahkan kepada pengadilan kerajaan dengan tuduhan yang pantas, dan kalian akan menjalani hukuman kalian seperti manusia, bukan seperti binatang di dalam sangkar. Dan itu lebih dari yang pernah diberikan oleh majikan-majikan kalian kepada siapa pun yang bekerja untuk mereka.”
Pria itu menatapnya lama, dan kemudian menunduk, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Josh mengamankan para tawanan itu di geladak bawah dengan dua marinir di setiap pintunya, dan melaporkan hasilnya ke Monaghan lewat jalur terenkripsi sebelum tengah malam. Jawaban dari Ratu Moana datang tidak lama kemudian, singkat dan tegas seperti biasa: kapal pengawal kerajaan sudah berangkat untuk menjemput para tawanan itu, dan mereka akan menghadapi pengadilan di Monaghan dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap anggota keluarga kerajaan dua negara — tuduhan yang bahkan tidak bisa dibantah oleh pembelaan terbaik di benua ini, karena seluruh serangan itu terekam oleh kamera-kamera yang sudah dipasang Josh di setiap sudut kapal sejak sebelum keberangkatan.
“Dan dengan ini, Tuan, jaringan Halvern resmi berhenti ada,” ucap Josh, menutup laporannya dengan ketukan kecil di mapnya yang sudah penuh. “Tiga tahun pekerjaan untuk membersihkan mereka sampai ke orang terakhir. Selesai. Tidak ada lagi sisa yang tersisa, tidak ada lagi rumput liar yang tumbuh kembali di tepi jalan.”
“Tiga tahun yang sudah kau bayar dengan terlalu banyak malam tanpa tidur, Josh.” Judas menatapnya dengan tatapan yang sudah lama tidak berbentuk apa pun selain rasa hormat yang jujur. “Setelah perjalanan ini selesai, kau akan mengambil jeda yang sama yang kuambil dengan Ara. Satu minggu penuh, di mana pun kau mau, tanpa satu pun panggilan dari siapa pun — termasuk dariku. Itu bukan tawaran. Itu perintah resmi dari atasanmu, dan aku akan memastikan kau tidak bisa menolaknya dengan cara apa pun.”
Josh menatapnya, dan untuk kedua kalinya dalam satu minggu, sekretaris yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kehilangan ketenangannya itu harus berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Diterima, Tuan,” ucapnya akhirnya, pelan. “Dengan kata-kata. Resmi.”
Dan di atas kapal utama yang kembali tenang itu, Ara berdiri di tepi geladak menatap ke utara, ke arah denyut hangat yang sudah semakin dekat dan semakin kuat di dalam dadanya, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia merasakan air mata menggenang di matanya tanpa dia perintahkan.
“Besok,” bisiknya kepada laut utara yang gelap. “Besok aku akan memanggilmu, Nek. Tunggu aku sedikit lagi. Cucumu sudah hampir sampai.”