Perjalanan ke perairan utara itu dimulai pada fajar keempat, dengan kapal cepat yang sama yang membawa mereka pulang dari perairan tengah dulu, dengan awak yang sudah dipilih satu per satu oleh Josh dan Kapten Rolan, dan dengan formasi yang terlihat jauh lebih longgar dari yang sebenarnya — formasi yang dirancang untuk terlihat seperti jebakan yang salah.
Di dalamnya: Judas, Ara, Vaza, dan Naya di kapal utama. Dua kapal pendamping yang berlayar berjauhan di kedua sisi, terlihat seperti pengawalan biasa yang malas. Dan satu lagi elemen yang tidak terlihat oleh siapa pun dari luar: tiga puluh marinir kerajaan yang tersebar di seluruh kapal-kapal itu dengan pakaian awak biasa, dan seluruh kekuatan duyung desa utara yang sudah menunggu di perairan tujuan sejak dua hari sebelumnya, atas permintaan Tetua Marena sendiri.
“Desa kami sudah mengetahui rencana Anda dari Vaza,” ucap Tetua Marena ketika mereka berkomunikasi lewat bingkai air malam sebelum keberangkatan. “Dan desa kami tidak akan membiarkan siapa pun mengotori perairan utara kami dengan darah, Pangeran dari daratan. Perairan utara adalah perairan suci bagi kaum kami. Siapa pun yang datang ke sana membawa niat membunuh akan berhadapan dengan laut yang sudah ribuan tahun lebih tua dari mereka.”
“Aku hanya membutuhkan laut menjaga mereka tetap di permukaan dan tidak melarikan diri, Tetua. Sisanya biar kami yang menyelesaikannya dengan cara daratan.”
“Kalau begitu kami sepakat, Pangeran. Dan untuk cucu Neyla yang kau bawa bersamamu — lindungi dia di perjalanan ke sini. Dia lebih berharga bagi kami dari yang kau ketahui.”
Perjalanan ke utara memakan waktu satu setengah hari pelayaran, dan sejak jam-jam pertama, Ara sudah merasakan perubahan di dalam air di sekitar kapal itu. Laut utara berbeda dari laut Monaghan yang sudah dia kenal sejak kecil. Airnya lebih tua, lebih dingin, lebih dalam, dan suaranya — suara yang hanya bisa didengar oleh orang-orang sepertinya — terdengar lebih lambat dan lebih berat, seperti suara seorang kakek yang sudah sangat tua dan sudah terlalu banyak melihat untuk tergesa-gesa lagi.
Pada sore hari pertama, ketika kapal sudah berada jauh di luar perairan Monaghan, Ara turun ke dalam air bersama Vaza dan Naya untuk memetakan wilayah di sekitar rute mereka — bukan untuk pekerjaan besar, hanya untuk mendengarkan. Dan yang dia dengar di bawah sana membuatnya berhenti bergerak untuk waktu yang lama: laut utara itu penuh dengan suara-suara tua yang tidak pernah dia dengar sebelumnya, nyanyian-nyanyian dalam yang mengalir dari kedalaman seperti gema dari zaman yang sudah jauh lebih tua dari kerajaan mana pun, suara arus-arus yang sudah berjalan di jalur yang sama selama beribu-ribu tahun tanpa pernah berubah arah.
“Dia berbicara lebih banyak dari laut kita,” ucapnya kepada Vaza ketika mereka kembali naik ke kapal, dengan rambut yang meneteskan air dan mata yang masih penuh dengan apa pun yang baru saja dia dengar di bawah sana. “Laut Monaghan bernyanyi. Tapi laut utara ini ... dia bercerita. Seperti seorang tetua yang sudah terlalu lama tidak punya siapa pun untuk diajak bicara.”
“Dia memang sudah terlalu lama tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, Putri,” jawab Vaza pelan. “Kaum kami sudah ribuan tahun tinggal di kedalamannya, dan bahkan kami pun sudah lama berhenti mendengarkannya dengan benar. Tapi dia mendengarkanmu, Putri. Sudah sejak kau masuk ke perairannya pagi tadi. Dan dia sudah lama sekali tidak memiliki seorang pendengar seperti kau.”
Dan di dalam suara tua itu, ada satu denyut yang sudah dia kenali sejak kecil tanpa pernah mengetahui siapa pemiliknya: denyut hangat yang berdetak dengan irama yang sama dengan irama jantungnya sendiri, yang semakin kuat dan semakin jelas setiap mil yang mereka tempuh ke utara, sampai Ara merasa dadanya sendiri ikut bergetar mengikutinya.
Jauh di selatan, dalam kegelapan laut yang sama, dua kapal cepat tanpa lampu berlayar membuntuti dengan jarak yang sudah dihitung dengan hati-hati, dan di dalam kapal yang pertama, seorang pria besar dengan bekas luka lama di wajahnya memeriksa senjatanya untuk ketiga kalinya sambil memperhatikan titik kecil di layar pelacaknya.
“Mereka berhenti di palung utara besok malam, kalau pola pelayarannya tidak berubah,” ucapnya kepada tiga orang di sekelilingnya. “Palung itu terpencil, jauh dari jalur patroli mana pun, dengan arus yang tidak akan membiarkan kapal mana pun datang membantu mereka tepat waktu. Kita serang di sana. Masuk, selesaikan, keluar, dan menghilang sebelum ada yang sadar apa yang sudah terjadi. Majikan kita mungkin sudah di penjara, tapi nama kita masih punya harga di pasar, dan harga itu akan dibayar lunas oleh nyawa dua orang di kapal itu.”
Tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikan arus kecil yang bergerak pelan di sepanjang lambung kapal mereka sejak satu jam yang lalu — arus yang bergerak melawan arah seharusnya, pelan dan sabar, seperti sesuatu yang sedang mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan dan membawanya jauh-jauh ke utara, ke telinga orang-orang yang sudah menunggu.
“Dia sudah tahu kita datang,” bisiknya kepada Judas, yang berdiri di sampingnya di tepi geladak dalam perjalanan malam kedua itu. “Denyutnya sudah tidak lagi jauh, Jud. Dia ada di bawah sana, di suatu tempat di perairan ini, dan dia sedang bergerak mendekat untuk menyambut kita.”
“Bagaimana rasanya?” tanya Judas pelan. “Setelah dua puluh tahun, akhirnya bertemu dengan seseorang yang sudah menjagamu sejak kau lahir tanpa pernah kau ketahui.”
Ara menatap laut utara yang gelap dan berbintang di depannya untuk waktu yang lama.
“Seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kau tahu kau miliki,” jawabnya pelan. “Seperti menemukan satu halaman lagi dari buku yang kau kira sudah selesai kau baca bertahun-tahun yang lalu. Aku sudah memiliki keluarga lagi sejak Reagant dan kakekku. Tapi ini ... ini bagian dari ibuku yang masih hidup, Jud. Bagian dari ibuku yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Dan aku akan memegangnya dengan kedua tanganku dan tidak akan pernah melepaskannya lagi.”
Judas menggenggam tangannya di pagar geladak itu, dan mereka berdiri berdampingan menatap ke utara, ke arah perairan yang semakin dekat, sementara di belakang mereka, jauh di kegelapan laut di selatan, dua kapal cepat tanpa lampu mulai mengikuti dari jarak yang sudah dihitung dengan hati-hati oleh orang-orang yang mengira bahwa mereka sedang berburu tanpa terlihat oleh siapa pun.
Mereka salah hitung. Seperti biasa, ketika berhadapan dengan orang-orang yang sudah membaca semua kartu di atas meja sejak awal.