Seminggu setelah mereka kembali dari utara, Judas menepati janjinya yang paling penting dari semua janji yang pernah dia buat dalam hidupnya.
Bukan janji kepada kerajaan. Bukan janji kepada Ratu Moana. Janji yang dia buat di sebuah tebing di atas pantai, di sore yang sudah lama berlalu, kepada seorang gadis yang baru saja menunjukkan kepadanya bahwa menunggu dengan tanggal itu tidak terasa seperti menunggu, melainkan seperti menghitung mundur sebuah peluncuran.
Jeda. Satu minggu penuh, di sebuah rumah kecil di tepi pantai selatan Monaghan, dengan tidak ada satu pun map kerja, tidak ada satu pun jadwal protokol, tidak ada satu pun orang yang diizinkan menghubungi mereka berdua kecuali untuk keadaan darurat tingkat kerajaan-runtuh — kategori yang sudah didefinisikan oleh Josh dengan sangat sempit dan sangat tegas sebelum dia mengirim mereka berdua pergi dengan senyum yang jarang dia tunjukkan kepada siapa pun.
Rumah kecil itu berdiri di atas tebing rendah yang menghadap langsung ke laut, dengan dua kamar, satu dapur kecil, satu teras kayu yang menghadap ke barat, dan satu tangga kayu tua yang turun langsung ke pasir pantai yang sepi dan panjang. Tidak ada pelayan. Tidak ada pengawal yang terlihat — Josh sudah menempatkan orang-orangnya begitu jauh dan begitu tersembunyi sampai bahkan Ara menyerah mencarinya setelah dua hari mencoba.
“Kopi yang pertama harus kau buat,” ucap Ara pada pagi pertama, berdiri di dapur kecil itu dengan rambut yang masih acak-acakan dan kaos yang kebesaran, menatap Judas yang sedang berhadapan dengan mesin kopi seperti sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan. “Itu kesepakatannya. Aku menerima tawaran menjadi teman istirahatmu dengan syarat kau yang menyediakan kopinya. Tertulis dan resmi.”
“Aku sudah mengalahkan dua kerajaan, dan aku tidak bisa mengalahkan mesin kopi buatan sendiri,” gerutu Judas, menekan tombol-tombol mesin itu dengan tingkat kepercayaan diri yang berbanding terbalik dengan hasilnya. “Ada yang tidak beres dengan benda ini. Mesinnya rusak. Atau benua ini memproduksi kopi yang salah.”
Kopi yang akhirnya keluar dari mesin itu terlalu encer dan terlalu pahit, dan Ara meminumnya sampai habis tanpa satu pun keluhan, hanya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya, dan menyatakan bahwa itu adalah kopi terbaik yang pernah dia minum dalam hidupnya — sebuah kebohongan yang bahkan tidak berusaha untuk terdengar meyakinkan, dan yang justru karena itu menjadi kalimat paling jujur yang pernah diucapkan di dapur kecil itu.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan kecepatan yang sudah lama tidak pernah mereka kenal berdua: pelan, penuh, dan sederhana dengan cara yang terasa seperti kemewahan yang paling mahal. Pagi-pagi dengan berenang di laut yang tenang, dengan Ara yang mengajari Judas cara berenang yang benar (“Kau berenang seperti batu yang sombong, Jud. Batu yang sangat tampan, tapi tetap batu.”). Siang-siang dengan makan-makan sederhana yang mereka masak bergantian dengan hasil yang bervariasi dari lumayan sampai berbahaya. Sore-sore dengan berjalan kaki di sepanjang pantai yang sepi, dengan dua pasang kaki yang berjalan berdampingan di pasir yang basah.
Dan malam-malam dengan duduk di teras kayu yang menghadap ke barat, dengan laut yang berubah menjadi emas dan kemudian menjadi biru gelap di depan mereka, dengan dua cangkir kopi yang perlahan menjadi lebih baik dari hari ke hari karena Judas menolak untuk kalah oleh sebuah mesin kopi.
“Kau tahu apa yang paling aneh dari semua ini?” ucap Ara pada malam kelima, dengan kepalanya yang bersandar di bahu Judas, dengan matanya yang menatap bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu di atas laut. “Selama dua puluh tahun, aku berpikir bahwa aku ditakdirkan untuk hidup sendirian. Bahwa orang-orang sepertiku — setengah laut, setengah daratan, terlalu aneh untuk dua dunia — memang tidak diciptakan untuk memiliki hal-hal seperti ini. Rumah. Kebersamaan. Seseorang yang menyeduhkan kopi yang buruk untukku setiap pagi dengan wajah yang sangat serius.”
“Kopi itu tidak buruk lagi sejak hari ketiga,” protes Judas.
“Kopi itu masih buruk, Jud. Tapi dia dibuat olehmu, dan itu membuatnya menjadi kopi terbaik di dunia, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membela pernyataan yang kontradiktif itu dengan seluruh kekuatanku.”
Judas tertawa pelan di sampingnya, dan untuk waktu yang lama mereka hanya duduk di sana dalam keheningan yang hangat itu, dengan bintang-bintang yang semakin banyak di atas mereka, dengan laut yang berdebur pelan di bawah tebing.
Dan pada malam terakhir jeda itu, di teras kayu yang sama, di bawah langit yang sama, Judas berdiri dari kursinya dan berjalan ke tengah teras itu, dan berbalik menghadap Ara dengan wajah yang sudah tidak lagi menyembunyikan apa pun — wajah yang sudah Ara kenali sebagai wajah yang hanya muncul ketika pria ini sedang membawa sesuatu yang lebih besar dari semua kata-kata genitnya, sesuatu yang sudah dia simpan dan susun dan bawa ke mana-mana sejak berminggu-minggu yang lalu.
“Aku sudah berpidato di depan ribuan orang tanpa satu pun naskah sepanjang hidupku,” ucapnya, dan suaranya pelan dan tidak terburu-buru, suara orator yang sudah memilih setiap katanya dengan hati-hati selama berminggu-minggu. “Dan malam ini, di depan satu orang saja, aku sudah menulis dan membuang naskahku tujuh belas kali, dan tidak ada satu pun dari tujuh belas naskah itu yang cukup baik untuk apa yang ingin kukatakan. Jadi aku akan mengatakannya tanpa naskah, seperti yang selalu kulakukan untuk hal-hal yang paling penting.”
Ara sudah berdiri dari kursinya, dengan tangan yang sudah memegang dua liontin di lehernya tanpa sadar, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca karena dia sudah tahu — dia sudah tahu sejak pria ini berdiri dan berjalan ke tengah teras dengan wajah seperti itu, sejak suaranya berubah menjadi suara yang seperti itu, sejak malam itu tiba-tiba terasa seperti malam yang akan diingat selamanya.
“Arandelle Tarrigan. Kau menarikku keluar dari laut di malam yang paling gelap dalam hidupku, dan sejak malam itu, aku tidak pernah berhenti tenggelam — hanya saja kali ini aku tenggelam ke dalam sesuatu yang tidak ingin kuselesaikan. Aku tidak datang dengan tawaran kehidupan yang sederhana, karena aku bukan orang yang sederhana dan kau bukan perempuan yang sederhana, dan dua orang yang tidak sederhana tidak seharusnya menjanjikan kesederhanaan satu sama lain.” Judas berlutut di atas lantai kayu teras itu, dan dari sakunya dia mengeluarkan sebuah kotak kecil, dan membukanya — dan di dalamnya ada sebuah cincin dengan sebuah batu yang berwarna biru laut yang dalam, berkilau dalam cahaya bintang seperti setetes laut yang diabadikan dalam batu. “Tapi aku datang dengan tawaran semua yang kumiliki, di daratan maupun di kerajaan, untuk dijadikan rumah bersama rumahmu yang ada di dalam laut. Aku datang untuk bertanya, dengan kata-kata, dengan resmi, dengan dua raja tua yang sudah memberikan restunya dan dengan satu nenek laut yang sudah memberkatinya: maukah kau menikah denganku, Ara? Di daratan, di laut, di dua kerajaan, di mana pun kau mau, selama kau mau. Selamanya.”
Dan Ara menjawabnya — tidak dengan air mata yang ditahannya lagi, tidak dengan tembok-tembok yang sudah lama runtuh itu, tidak dengan satu pun keraguan yang tersisa di dalam dadanya yang sudah lama selesai dengan keraguan-keraguan yang salah.
“Mau,” jawabnya, dengan suara yang utuh dan besar dan penuh dengan seluruh laut yang ada di dalam dirinya. “Resmi. Dengan kata-kata. Selamanya, Judas Ellington. Selamanya.”
Dan di bawah mereka, di dalam laut yang gelap dan berbintang itu, sebuah arus hangat bergerak pelan dari utara ke selatan, mengelilingi tebing kecil itu seperti sebuah pelukan yang besar, seperti laut itu sendiri sedang berdiri dan bertepuk tangan untuk dua anaknya yang akhirnya, akhirnya, menemukan jalan pulang ke satu sama lain.