Kabar pertunangan itu sampai ke dua istana bahkan sebelum kapal yang membawa mereka pulang dari jeda itu sempat merapat ke pelabuhan — karena Ratu Moana sudah memiliki orang-orangnya di mana-mana, karena Raja Canis Major sudah menduganya sejak Judas meminta waktu berbicara empat mata sebelum jeda itu, dan karena Josh sudah menyiapkan pengumuman resminya sejak seminggu sebelum Judas berlutut di atas lantai kayu teras itu.
Reaksinya, seperti yang sudah bisa diduga oleh siapa pun yang mengenal dua kerajaan itu, datang dalam dua bentuk yang sangat berbeda.
Di Osmod, rakyat menyambutnya dengan perayaan-perayaan kecil yang tumbuh sendiri di jalan-jalan ibu kota: putri mereka yang hilang dan kembali, putri dari putri yang dicoret dan dimaafkan, akan menikah dengan pangeran dari kerajaan sahabat — dan bagi sebuah kerajaan yang baru saja selamat dari sebuah kudeta, kabar baik seperti itu datang seperti air di tengah kemarau panjang. Nama Tarrigan, yang enam belas tahun lalu menjadi aib, kini dijahitkan orang-orang ke spanduk-spanduk kain dan dikibarkan dari jendela-jendela rumah dengan bangga.
Di teluk kecil di pinggiran ibu kota itu, seorang nelayan tua bernama Naba mendengar kabar itu dari radio tuanya di dalam perahu kayunya, dan berdiri di tengah-tengah perahu itu dengan jala yang masih separuh terangkat, dan menangis tanpa malu kepada siapa pun di tengah laut yang sudah menjadi saksi hidupnya selama empat puluh tahun. Dia sudah lama tidak memancing di teluk ini tanpa dihantui oleh dua mobil hitam di jalan pegunungan di atas sana. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, dia bisa memandang jalan itu lagi dan hanya melihat sebuah jalan, hanya sebuah jalan biasa, dengan matahari yang turun di atasnya seperti tidak pernah ada apa-apa yang berubah di dunia.
“Untuk kalian berdua, keluarga Tarrigan,” bisiknya kepada angin laut sore itu, sambil menurunkan jalanya kembali ke dalam air. “Dan untuk anak perempuan yang kalian besarkan untuk menjadi seberani ini. Semoga laut selalu menjaga mereka berdua seperti laut sudah menjaga anak kalian selama ini.”
Dan di Monaghan, reaksinya lebih rumit — karena Judas Ellington bukan nama yang dicintai oleh semua orang di kerajaannya sendiri. Sebagian rakyat merayakannya. Sebagian lagi bergosip di sudut-sudut pasar tentang pangeran kejam yang akhirnya menemukan tandingannya, tentang ruangan-ruangan gelap yang diceritakan orang-orang dengan bisikan, tentang apakah seorang gadis dari kerajaan lain bisa mengubah orang yang sudah dua puluh tahun menjadi dirinya sendiri.
Ratu Moana membaca semua laporan itu di ruang kerjanya dengan ketenangan seorang ratu yang sudah memerintah lebih lama dari yang diingat oleh kebanyakan rakyatnya, dan menutupnya dengan satu keputusan yang tidak bisa ditawar.
“Pengumuman resmi akan disampaikan olehku sendiri, dari balkon istana, dengan Raja Canis Major berdiri di sisiku,” ucapnya kepada Judas dan Josh. “Dua raja tua, dua kerajaan, satu pengumuman. Biarkan seluruh benua melihat bahwa dua takhta berdiri di belakang dua orang muda ini dengan sepenuh hati. Gosip tidak pernah bisa bertahan melawan gambar yang benar, Jud. Dan gambar dua raja tua yang saling berjabat tangan di atas balkon adalah gambar yang tidak bisa dikalahkan oleh bisikan mana pun di pasar mana pun.”
Pengumuman itu disampaikan tiga hari kemudian, dan seperti yang sudah diramalkan oleh Ratu Moana dengan ketepatan seorang ratu yang sudah lima puluh tahun membaca rakyatnya, gambar dua raja tua yang berdiri berdampingan di atas balkon itu menutup semua suara yang tidak perlu dalam waktu satu hari. Rakyat Monaghan bersorak untuk pangerannya dan putri dari kerajaan seberang lautnya. Rakyat Osmod bersorak balik dari seberang perairan. Dan dua kerajaan yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup berdampingan akhirnya mulai berbicara tentang sebuah pernikahan yang akan mengubah peta keduanya untuk selamanya.
Tapi pertempuran yang sesungguhnya baru dimulai setelah itu, dan medan pertempurannya adalah sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana: di mana pernikahan itu akan diadakan?
Istana Osmod menginginkannya di aula besar istana mereka, dengan segala kemegahan tradisi ratusan tahun. Istana Monaghan menginginkannya di katedral agung di pusat Nemville, dengan arsitektur megah yang sudah menjadi saksi penobatan-penobatan raja. Dua tim protokol dari dua kerajaan berdebat selama dua minggu penuh tanpa menghasilkan apa pun selain dokumen-dokumen yang semakin tebal dan dua kubu yang semakin keras kepala.
Sampai Ara, yang sudah mendengarkan perdebatan itu dari pinggirnya selama dua minggu dengan kesabaran yang semakin menipis, akhirnya berdiri di tengah-tengah rapat gabungan dua tim protokol itu dan mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan hening.
“Di tebing pantai tempat aku menyelamatkan nyawanya,” ucapnya. “Di titik yang sama, di jalan pantai menuju Moresby, di atas laut yang sudah menjadi saksi pertama kami berdua sebelum ada kerajaan mana pun yang ikut campur. Kalian semua boleh berdebat tentang aula dan katedral sampai akhir tahun kalau kalian mau. Tapi aku akan menikah di tempat di mana kisah kami dimulai, atau aku tidak akan menikah di mana pun.”
Dan Judas, yang duduk di sisi ruangan itu dengan senyum yang sudah tidak bisa disembunyikannya sejak kalimat pertama keluar dari mulut calon istrinya, berdiri dan menambahkan satu kalimat yang menutup perdebatan itu untuk selamanya.
“Kalau calon istriku menginginkan tebing pantai itu, maka tebing pantai itu yang akan menjadi tempatnya. Dan kalau dua tim protokol ini membutuhkan enam bulan untuk membuat sebuah tebing pantai siap untuk sebuah pernikahan kerajaan, maka mereka punya waktu dua bulan untuk menyelesaikannya — karena aku sudah menetapkan tanggalnya, dan tanggal itu tidak akan berubah untuk siapa pun.”
Dua tim protokol itu memandang mereka berdua dengan wajah-wajah orang yang baru saja kalah perang tanpa sempat menembakkan satu pun peluru. Dan dua bulan kemudian, sebuah tebing pantai di jalan menuju Moresby berubah menjadi tempat yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah dua kerajaan.
Persiapan tempat itu sendiri menjadi pekerjaan terbesar dalam sejarah protokol dua kerajaan. Sebuah jalan setapak kayu harus dibangun menuruni tebing tanpa merusak satu pun batu dari tebing aslinya — atas perintah tegas Ara, yang memasang satu aturan tidak bisa ditawar sejak hari pertama: tidak ada satu pun bagian dari tebing itu yang boleh diubah bentuknya, karena tebing itu adalah saksi, dan saksi tidak boleh diubah untuk kepentingan dekorasi. Para insinyur kerajaan dari dua negara bekerja bergotong royong membangun semuanya dengan tangan, tanpa mesin-mesin berat, dan penduduk desa-desa nelayan di sepanjang jalan pantai itu datang sendiri untuk membantu — mengangkut kayu, menenun dekorasi dari rumput laut dan bunga-bunga pantai, dan memasak untuk para pekerja setiap hari seperti sebuah desa yang sedang menyiapkan pernikahan untuk anak mereka sendiri.
Nyonya Elsbeth, guru protokol Ara yang sudah menyatakan perang dingin terhadapnya sejak pelajaran pertama dulu, datang untuk menginspeksi tempat itu dua minggu sebelum hari-H dengan wajahnya yang sudah disiapkan untuk tidak menyetujui apa pun — dan berhenti di tepi tebing itu dalam keheningan yang lama, memandangi laut yang membentang di depannya dan panggung kayu sederhana yang berdiri di tepinya.
“Tidak ada aula di dunia ini yang bisa menandingi tempat ini, Nona Arandelle,” ucapnya akhirnya, dengan suara yang sudah kehilangan seluruh perang dinginnya. “Enam puluh tahun saya mengajarkan protokol istana, dan baru hari ini saya mengerti bahwa protokol yang paling benar adalah protokol yang dipilih oleh hati, bukan oleh buku. Pilihan Nona benar. Dan itu akan saya catat dalam buku saya, dengan tinta yang permanen.”
Ara memeluk guru protokolnya itu di tepi tebing itu, dan Nyonya Elsbeth membiarkan dirinya dipeluk selama tepat tiga detik sebelum berdehem dan kembali ke postur resminya — tapi dengan mata yang sudah tidak bisa menyembunyikan bahwa untuk pertama kalinya dalam enam puluh tahun, dia sedang bahagia karena kalah.