Dua bulan persiapan itu berjalan seperti dua sungai yang akhirnya bertemu di satu muara: sibuk, penuh, dan tidak bisa lagi dibedakan arusnya satu sama lain.
Gaun pengantin Ara dijahit oleh tangan-tangan dari dua dunia — para penjahit terbaik istana Osmod untuk bentuk dan potongannya, dan para perempuan duyung dari desa bawah air untuk bahan dan benangnya. Kain yang mereka hasilkan bersama adalah sesuatu yang belum pernah ada di dunia ini: sutra laut yang ditenun dari benang-benang rumput laut terbaik yang dipanen dengan tangan oleh duyung-duyung muda desa utara, dipadukan dengan sutra daratan terbaik dari Monaghan, menghasilkan sebuah kain yang berkilau samar seperti permukaan laut ketika matahari pagi menyentuhnya — biru keperakan yang berubah warna perlahan setiap kali kain itu bergerak, seperti air yang sedang berpikir.
“Untuk putri dari dua dunia,” ucap Tetua Marena ketika kain itu diserahkan kepada Ara di tepi laguna oleh tangan-tangan yang sudah menenunnya selama berminggu-minggu tanpa berhenti. “Dijahit dari laut dan daratan menjadi satu, seperti pemakainya. Dan diberkati oleh seluruh desa yang sudah menunggu hari ini sejak kau pertama kali berenang ke perairan kami sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa.”
Ara memeluk kain itu dengan air mata yang sudah tidak bisa dihitungnya lagi untuk bulan itu, dan berjanji kepada mereka semua bahwa dia akan datang mengunjungi desa itu setiap bulan, setiap minggu kalau dia bisa, untuk sisa hidupnya.
Dan seminggu sebelum hari pernikahan itu, Judas datang ke kamarnya di rumah keluarga Tarrigan dengan sebuah kotak kecil yang dibawanya dengan kedua tangan seperti orang yang membawa sesuatu yang mudah pecah, dan meletakkannya di depannya tanpa satu kata pun pembuka.
Di dalam kotak itu ada sebuah sisir rambut dari perak tua, dengan ukiran bunga-bunga kecil di sepanjang gagangnya, yang sudah tua dan sudah dipakai dan sudah menyimpan tahun-tahun yang tidak bisa dihitung oleh siapa pun lagi.
“Itu milik ibuku,” ucap Judas pelan, duduk di depannya dengan kotak terbuka itu di antara mereka berdua. “Satu-satunya benda miliknya yang kusimpan dari kamar lamanya di istana, sebelum aku membakarnya bersama semua hal lain yang ingin kulupakan ketika aku masih terlalu muda untuk tahu bahwa beberapa hal tidak seharusnya dibakar. Aku menyelamatkannya dari tumpukan itu di detik terakhir, dan aku sudah menyimpannya sejak itu, menunggu satu hari yang aku bahkan tidak tahu akan pernah datang atau tidak.” Dia menatapnya, dan suaranya turun menjadi lebih pelan. “Aku ingin kau memakainya di hari pernikahan kita, Ara. Supaya ibuku juga ada di sana, dengan caranya sendiri, di sisir rambut perak yang sudah menunggu sembilan belas tahun untuk melihat anaknya bahagia.”
Ara mengangkat sisir perak tua itu dari kotaknya dengan dua tangan, dengan air mata yang sudah mengalir turun sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, dan memegangnya seperti memegang sesuatu yang hidup.
“Aku akan memakainya dengan dua liontinku,” jawabnya, dengan suara yang pecah dan utuh dalam waktu yang sama. “Satu dari ibuku. Satu dari nenekku. Dan satu dari ibumu, di rambutku, di hari itu. Supaya tiga perempuan dari dua dunia itu semuanya berjalan bersamaku menuju panggung itu, Jud. Supaya tidak ada satu pun dari kami yang berjalan sendirian.”
Di sisi lain persiapan, Judas menghadapi masalahnya sendiri yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih rumit pada saat yang sama: dia tidak punya teman.
Bukan dalam artian yang sebenarnya — dia punya Josh, dia punya orang-orang kepercayaannya, dia punya serdadu-serdadu yang sudah bertahun-tahun berdiri di belakangnya. Tapi dalam artian teman-teman seusia yang biasa berdiri di samping seorang mempelai pria di hari pernikahannya, daftarnya kosong sepenuhnya. Dua puluh delapan tahun hidup sebagai orang yang ditakuti oleh semua orang ternyata tidak menghasilkan satu pun nama untuk diundang sebagai sahabat mempelai.
Malam sebelum hari pernikahan itu, dia makan malam berdua saja dengan Josh di restoran kecil di lantai tiga kasino, di meja yang sama tempat dia pertama kali berbicara dengan Ara tentang laut dan tim dan apel, dan untuk waktu yang lama mereka hanya makan dalam keheningan yang sudah menjadi bahasa mereka berdua sejak bertahun-tahun.
“Besok, kau akan berdiri di sampingku sebagai pendampingku,” ucap Judas akhirnya, tanpa basa-basi, tanpa memandanginya, seperti biasa. “Bukan sebagai sekretarisku. Sebagai pendampingku. Itu dua hal yang berbeda, Josh, dan aku sudah memastikan protokol mencatatnya dengan benar.”
Josh meletakkan garpunya pelan-pelan, dan untuk beberapa saat dia tidak mengatakan apa-apa.
“Tuan tidak memerlukan pendamping resmi. Ada dua belas pejabat kerajaan yang sudah mengantre untuk posisi itu sejak pengumuman pertunangan keluar.”
“Aku tidak menginginkan dua belas pejabat kerajaan. Aku menginginkan orang yang sudah berdiri di sampingku di setiap hari buruk dalam sepuluh tahun terakhir tanpa pernah pergi, bahkan ketika berdiri di sampingku adalah hal paling bodoh dan paling berbahaya yang bisa dilakukan seseorang di benua ini.” Judas menatapnya akhirnya, langsung ke matanya, dengan tatapan yang jarang sekali dia berikan kepada siapa pun. “Kau bukan sekretarisku, Josh. Kau belum pernah menjadi sekadar itu sejak malam kau berdiri di depan mejaku sebagai seorang pelayan hotel dan menatapku tanpa takut dan tanpa menjilat. Kau adalah satu-satunya teman yang kumiliki, dan aku ingin satu-satunya teman yang kumiliki berdiri di sampingku besok. Itu bukan perintah. Itu permintaan.”
Josh menatapnya untuk waktu yang lama, dan kemudian mengangguk, satu kali, dengan sesuatu yang bergerak di matanya yang biasanya datar itu.
“Kalau begitu saya akan berdiri di samping Tuan besok, Tuan,” jawabnya, dengan suara yang sudah tidak sepenuhnya stabil seperti biasanya. “Dan untuk catatan resmi: Tuan juga satu-satunya teman yang saya miliki. Tapi itu tidak perlu dicatat dalam protokol.”
“Tidak,” jawab Judas, dan senyumnya kecil dan jujur. “Itu cukup untuk kita berdua saja yang tahu.”
Dan di malam yang sama, di sisi lain kota, Ara berdiri di depan makam kedua orang tuanya di pemakaman kecil di pinggiran Osmod, dengan Judas berdiri dua langkah di belakangnya dalam keheningan yang penuh hormat, dengan bunga-bunga laut yang dia bawa dari pantai utara di tangannya.
“Bu. Yah,” bisiknya pelan, meletakkan bunga-bunga itu di depan dua nisan yang berdampingan itu. “Besok aku menikah. Dengan orang yang sudah kalian kirimkan untukku lewat laut yang sama yang membesarkanku — aku sudah tahu sekarang bahwa itu kalian, bahwa itu selalu kalian, sejak arus yang membawaku ke mobil tenggelamnya malam itu. Dia orang yang baik, meskipun dia akan membantah keras-keras kalau mendengar aku mengatakannya. Dia keras kepala, sombong, menyebalkan, dan mencintaiku dengan cara yang bahkan tidak bisa kujelaskan kepada diriku sendiri. Dan aku tahu kalian berdua, di mana pun kalian berada sekarang, sudah mengetahuinya sejak jauh sebelum aku sendiri mengetahuinya.”
Angin laut berhembus pelan melintasi pemakaman kecil itu, hangat dan lembut, dan untuk sesaat Ara berdiri di sana dengan mata yang tertutup, membiarkan angin itu menyentuh wajahnya seperti dua pasang tangan yang sudah sangat lama tidak menyentuhnya.
“Mereka sudah tahu, Ara,” ucap Judas pelan di belakangnya. “Orang tua selalu tahu lebih dulu. Itu pekerjaan mereka.”
Dan Ara berbalik dan tersenyum kepadanya dengan mata yang basah, dan mereka berjalan pulang berdua dari pemakaman kecil itu bergandengan tangan, meninggalkan dua nisan yang dijaga oleh bunga-bunga laut utara dan oleh angin yang terus berhembus pelan seperti doa yang tidak pernah selesai diucapkan.