Hari pernikahan itu datang dengan langit yang seolah dipesan khusus oleh dua raja tua dari jauh-jauh hari: cerah dengan awan-awan tipis yang berjalan pelan, angin laut yang berhembus lembut dari arah yang benar, dan matahari yang turun ke permukaan laut dengan kemiringan yang membuat seluruh tebing pantai itu berkilau.
Tebing di jalan pantai menuju Moresby itu sudah berubah sepenuhnya dalam dua bulan terakhir, tanpa kehilangan satu pun dari keasliannya. Sebuah panggung kayu sederhana dibangun di tepi tebing yang menghadap langsung ke laut, dengan dua baris kursi-kursi tamu yang menghadap ke arahnya, dengan bunga-bunga laut utara dan bunga-bunga daratan Monaghan yang terjalin di sepanjang jalan masuk menuju panggung itu. Di kursi-kursi itu duduk dua kerajaan sekaligus: keluarga-keluarga istana Monaghan dan Osmod, para pejabat tinggi dari dua sisi laut, sahabat-sahabat dari Vestra dan kerajaan-kerajaan sahabat, dan di barisan kehormatan paling depan, Ratu Moana dan Raja Canis Major yang duduk berdampingan seperti dua orang tua dari satu keluarga yang sama — karena mulai hari ini, memang itulah yang akan mereka jadikan.
Di tepi pantai di bawah tebing itu, di dalam air yang tenang dan berkilau, duyung-duyung desa utara muncul ke permukaan satu per satu sejak fajar — Vaza dan Naya dan Tetua Marena dan puluhan lainnya, berbaris menghadap ke arah panggung dengan jenggot-jenggot dan ekor-ekor yang berkilau tertimpa matahari pagi, menjadi barisan tamu kehormatan dari dunia kedua yang menyaksikan pernikahan pertama dalam sejarah dua dunia ini.
Dan di antara para tamu dari daratan, di kursi kehormatan yang sudah disiapkan khusus, duduk seorang nelayan tua bernama Naba dari teluk Osmod, dengan setelan barunya yang sudah dipakaikan oleh istana, dengan air mata yang sudah mengalir sejak dia tiba, disambut oleh Raja Canis Major sendiri dengan jabatan tangan dan kalimat “kerajaan ini berutang kepadamu lebih dari yang bisa dibayar”.
Judas berdiri di atas panggung kayu itu dengan setelan resmi kerajaan Monaghan berwarna gelap, dengan Josh berdiri di sampingnya sebagai pendampingnya dalam setelan yang sama, menatap ke arah laut yang membentang di depan mereka berdua — laut yang sama yang dua tahun lalu menelannya bersama sebuah mobil sport abu-abu metalik, di titik yang hampir persis sama dengan titik tempat dia berdiri sekarang.
“Dua tahun yang lalu, aku mati di tempat ini,” ucapnya pelan kepada Josh, tanpa menoleh. “Rem blong, kecelakaan, laut yang dingin. Dan kemudian aku hidup lagi, di tempat ini juga, karena seorang gadis kurus dengan rambut pirang memutuskan bahwa lautnya tidak akan tercemar oleh bangkaiku.”
Dan kemudian musik mulai mengalun, dan seluruh tebing itu berdiri, dan Ara muncul di ujung jalan masuk dengan gaun sutra lautnya yang berkilau berubah warna setiap kali dia bergerak — biru keperakan seperti permukaan laut di pagi hari, seperti air yang sedang berpikir.
Reagant berjalan di sampingnya, dengan setelan resminya, dengan wajah seorang kakak yang sedang berjuang keras untuk tidak menangis di depan seluruh dua kerajaan, dan dengan tangan adiknya yang tersimpan di lengannya seperti tangan seorang anak kecil yang dulu berjalan di tepi pantai.
Dan di dalam laut di bawah tebing itu, di dalam air yang tenang dan berkilau, sebuah arus hangat bergerak masuk ke teluk kecil itu dari arah utara, pelan dan pasti, mengelilingi seluruh garis pantai di bawah panggung itu seperti sebuah pelukan besar yang datang dari jauh. Para duyung di permukaan itu menunduk dalam serentak ketika arus itu lewat, dan Tetua Marena tersenyum dengan seluruh keriput ratusan tahun di wajahnya, dan berbisik kepada Vaza di sampingnya dengan suara yang hanya terdengar oleh kaum mereka.
“Dia datang. Neyla datang untuk menyaksikan cucunya menikah, dari dalam laut yang sama yang membesarkannya.”
Upacara itu dipimpin oleh seorang pendeta tua kerajaan Monaghan yang sudah menikahkan tiga generasi keluarga kerajaan, dengan doa-doa dari dua tradisi kerajaan yang dijalin menjadi satu, dan dengan laut yang berdebur pelan di bawah tebing sebagai musik latar yang tidak perlu diatur oleh siapa pun.
Dan ketika tiba saatnya untuk janji-janji itu, Judas melangkah maju ke tepi panggung, dan berbicara tanpa naskah, dengan suara oratornya yang mengalun jelas sampai ke barisan paling belakang, ke arah dua kerajaan yang menyaksikan.
“Aku tidak akan berdiri di sini dan menjanjikan hal-hal yang tidak bisa kujaga,” ucapnya, dan suaranya jujur dan tenang. “Aku tidak akan menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah salah, karena aku sudah menghabiskan dua puluh delapan tahun menjadi ahli dalam hal-hal yang salah, dan aku tidak akan berbohong kepada perempuan yang akan kujadikan istriku di hari pertama pernikahan kami. Tapi aku akan menjanjikan tiga hal, dan aku akan menjaganya dengan seluruh yang kumiliki, di daratan maupun di laut.”
Dia menatap Ara, langsung ke dalam matanya yang abu-abu muda itu, dan melanjutkan.
“Pertama: aku berjanji bahwa tidak akan ada lagi keputusan yang kuambil tanpa dirimu. Kedua: aku berjanji bahwa tidak akan ada lagi kata-kata yang kutelan dan kubiarkan membusuk di dalam diriku, karena aku sudah menghabiskan terlalu banyak tahun membayar harga dari kata-kata yang tidak diucapkan. Dan ketiga: aku berjanji bahwa selama aku bernapas, di daratan maupun di dalam laut yang sama yang sudah menyelamatkan kita berdua berkali-kali, kau tidak akan pernah lagi berdiri sendirian menghadapi apa pun. Bukan karena kau membutuhkan seseorang untuk melindungimu — karena kau tidak pernah membutuhkan itu, dan aku tahu itu lebih dari siapa pun di sini. Tapi karena aku membutuhkan untuk berdiri di sampingmu, dan aku sudah selesai berpura-pura bahwa aku tidak membutuhkannya.”
Dan Ara menjawabnya, dengan suaranya yang jernih dan utuh dan tidak bergetar sedikit pun, dengan dua liontin yang berkilau di lehernya — liontin kerang perak dari ibunya, dan liontin kerang laut utara dari neneknya.
“Aku tidak akan menjanjikan untuk menjadi istri yang patuh,” ucapnya, dan tawa kecil yang hangat berjalan di antara para tamu di tebing itu, “karena kau sudah mengenalku terlalu lama untuk percaya bahwa aku bisa menjadi itu, dan aku tidak akan berbohong kepada suamiku di hari pertama pernikahan kami. Tapi aku akan menjanjikan tiga hal yang sama dengan yang kau janjikan, dan satu hal lagi: aku berjanji bahwa lautku akan selalu menjadi rumah untukmu juga, Judas Ellington, di setiap arusnya, di setiap teluknya, di setiap tetes airnya yang akan pernah menyentuhmu. Kau tenggelam ke dalam lautku dua tahun yang lalu tanpa kau minta. Dan mulai hari ini, kau boleh tinggal di dalamnya selamanya, dengan izin resmi dari pemiliknya.”
Dan ketika pendeta tua itu menyatakan mereka berdua resmi menjadi suami dan istri, dan ketika Judas mencium istrinya di atas panggung kayu itu di tepi tebing, laut di bawah mereka bergerak — pelan dan besar dan penuh dengan cahaya, ombak-ombak kecil yang berkilau berwarna emas biru yang berdatangan ke garis pantai secara berurutan seperti tepuk tangan yang tidak pernah berhenti, dan arus hangat dari utara itu mengelilingi seluruh teluk kecil itu dalam satu pelukan besar yang dirasakan oleh setiap orang di tebing itu.
Neyla memberkati pernikahan cucunya dari dalam lautnya, di depan mata dua kerajaan, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh laut itu sendiri.
Dan tidak ada satu pun orang di tebing itu — dari dua raja tua sampai seorang nelayan tua dari teluk Osmod — yang tidak menangis melihatnya.