Perayaan itu berlangsung sampai jauh malam, di atas tebing yang sudah diubah menjadi taman perayaan dengan lampu-lampu yang bergantungan di antara tiang-tiang kayu dan api unggun besar yang menyala di titik-titik aman di sepanjang garis tebing, dengan musik dari dua kerajaan yang dimainkan bergantian oleh dua kelompok musisi yang sudah berlatih bersama selama dua bulan terakhir khusus untuk malam ini.
Ratu Moana berbicara lebih dulu, berdiri dengan bantuan tongkatnya yang tidak pernah benar-benar dia butuhkan tapi selalu dia bawa untuk alasan dramatis, dengan suara seorang ratu yang sudah lima puluh tahun berpidato tanpa pernah kehilangan satu pun pendengarnya.
“Aku sudah menyaksikan banyak pernikahan kerajaan dalam hidupku yang panjang,” ucapnya. “Pernikahan-pernikahan yang diatur untuk politik, pernikahan-pernikahan yang diatur untuk perdamaian, pernikahan-pernikahan yang diatur untuk segala hal kecuali untuk dua orang yang sedang menikah itu sendiri. Dan aku sudah belajar satu hal dari semua pernikahan itu: pernikahan yang dibangun di atas kepentingan akan runtuh bersama kepentingannya, dan pernikahan yang dibangun di atas dua orang yang memilih satu sama lain dengan mata terbuka akan bertahan melawan apa pun yang datang setelahnya.” Dia menatap Judas dan Ara yang duduk berdampingan di meja utama, dan untuk sesaat, wajah ratu yang sudah menyimpan terlalu banyak hal itu melembut sepenuhnya. “Cucuku memilih. Dan cucu sahabat lamaku memilih. Dan dua kerajaan kami, yang sudah berpuluh-puluh tahun berdiri berdampingan tanpa pernah benar-benar berdiri bersama, akhirnya menjadi satu keluarga karena pilihan dua orang itu. Untuk mereka berdua, dan untuk semua yang akan datang setelah mereka.”
Dan Raja Canis Major berbicara setelahnya, dengan suara yang sudah tidak lagi berusaha untuk menyembunyikan apa pun sejak lama.
“Enam belas tahun yang lalu, aku kehilangan seorang putri karena kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan selama enam belas tahun itu, aku menulis surat kepadanya setiap minggu, surat-surat yang tidak pernah terkirim, karena kebanggaan seorang raja adalah tembok yang bahkan lebih tinggi dari tembok istana mana pun.” Suaranya berhenti sejenak, dan ruangan itu hening penuh hormat. “Malam ini, aku tidak lagi menulis surat-surat yang tidak terkirim. Malam ini, aku berdiri di depan cucuku — anak dari putriku — dan aku mengatakan keras-keras di depan dua kerajaan apa yang seharusnya sudah kukatakan kepada ibunya di depan seluruh istanaku, bertahun-tahun yang lalu: pilihlah orang yang kau cintai, dengan mata terbuka, dengan hati yang utuh, dan jangan biarkan siapa pun — bahkan seorang raja, bahkan seorang ayah — mengatakan kepadamu bahwa pilihanmu salah. Arandelle sudah memilih. Dan pilihannya benar. Dan ibunya, di mana pun dia berada malam ini, sudah mengetahuinya sejak jauh sebelum kita semua.”
Dan Josh, ketika gilirannya tiba untuk berbicara sebagai pendamping mempelai, berdiri dengan segelas anggur di tangannya dan dengan wajah datarnya yang sudah menjadi legenda di dua kerajaan, dan menyampaikan pidato pendamping yang paling singkat dalam sejarah pidato pendamping mana pun.
“Saya sudah bekerja untuk Pangeran Judas selama bertahun-tahun, dan selama bertahun-tahun itu, saya sudah menyaksikannya melakukan hal-hal yang tidak akan pernah bisa saya ceritakan kepada ibu saya,” ucapnya, datar, dan tawa meledak di seluruh tebing itu. “Tapi dari semua hal yang sudah saya saksikan, tidak ada satu pun yang membuat saya lebih yakin bahwa bos saya adalah orang yang benar-benar berbeda dari yang diceritakan orang-orang, selain satu hal ini: dia menolak untuk membiarkan seorang gadis menyelamatkan nyawanya tanpa membalasnya dengan seluruh hidupnya. Dan hari ini, dia membayar utang itu dengan cara yang bahkan tidak bisa saya susun laporannya. Untuk Tuan Judas dan Nona Ara — eh, untuk Yang Mulia Pangeran Judas dan Putri Arandelle — semoga kalian berdua tidak pernah lagi membutuhkan saya untuk menyelamatkan kalian dari apa pun. Karena saya sudah sangat lelah, dan saya ingin sekali beristirahat.”
Tawa dan tepuk tangan bergema di seluruh tebing itu, dan Judas berdiri dan memeluk sekretarisnya — temannya — di depan seluruh dua kerajaan, dan Josh membiarkannya, untuk sekali ini, tanpa satu pun protes tentang protokol.
Dan ketika malam semakin larut dan perayaan itu semakin hangat, laut di bawah tebing itu memberikan hadiahnya yang terakhir untuk malam itu: cahaya-cahaya biru yang mulai berkerlip dari dalam air di sepanjang garis pantai, plankton-plankton bercahaya yang berkumpul dalam jutaan di dalam teluk kecil itu, membentuk garis-garis cahaya yang bergerak perlahan mengikuti irama musik dari tebing, dan duyung-duyung desa utara yang mulai bernyanyi dari dalam air — nyanyian tua kaum laut yang sudah ribuan tahun tidak pernah terdengar oleh telinga manusia daratan, mengalun naik dari dalam air yang berkerlip biru itu seperti suara dari mimpi yang paling indah yang pernah dimiliki oleh dunia.
Para tamu dari dua kerajaan berdiri di tepi tebing itu dalam keheningan yang penuh dengan keajaiban, menyaksikan laut itu sendiri merayakan pernikahan dua anaknya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan pernah melupakan malam itu selama sisa hidup mereka.
Dan di tengah-tengah semuanya, ketika perayaan itu sudah sampai ke puncaknya, Ara menarik tangan suaminya dan berbisik sesuatu ke telinganya, dan Judas tertawa — tawa yang lepas dan besar dan penuh dengan kebahagiaan yang sudah lama tidak pernah dia kenal — dan menjawabnya dengan satu anggukan.
Dan di depan seluruh dua kerajaan yang menyaksikan dengan mulut yang terbuka, pengantin baru itu berjalan bergandengan tangan ke tepi tebing, dan melompat ke dalam laut yang berkerlip biru itu bersama-sama, dengan gaun sutra laut dan setelan kerajaan dan segalanya, menghilang ke dalam air yang menyambut mereka berdua seperti menyambut dua anaknya yang akhirnya pulang.
“MEREKA GILA!” teriak Reagant dari atas tebing, setengah tertawa dan setengah tidak percaya.
“Mereka memang sudah gila sejak awal,” jawab Ratu Moana dari kursinya, dengan senyum yang sudah tidak bisa dihapus oleh apa pun dari wajahnya. “Dan itu adalah kabar terbaik yang pernah kudengar tentang mereka berdua sejak mereka lahir.”
Dan di dalam laut yang berkerlip biru itu, di dalam pelukan arus hangat yang datang dari utara, dua orang yang sudah menempuh terlalu banyak hal untuk sampai ke tempat ini berenang bergandengan tangan di antara cahaya-cahaya yang menari di sekeliling mereka, dengan dua dunia yang menyaksikan dari atas dan dari bawah, dengan dua liontin yang berkilau di leher Ara, dan dengan satu kepastian yang sudah tidak akan pernah berubah lagi untuk selamanya: bahwa mereka berdua, akhirnya, sudah benar-benar pulang.