Musim-musim setelah pernikahan itu berjalan seperti musim-musim yang seharusnya berjalan: dengan pekerjaan yang besar, dengan perubahan yang nyata, dan dengan hari-hari yang pelan-pelan menemukan bentuk barunya yang benar.
Rumah mereka berdiri di atas tebing rendah di sisi selatan Nemville, menghadap langsung ke laut, dengan sebuah dermaga kecil yang turun ke air dan sebuah taman yang dipenuhi pohon-pohon yang ditanam oleh tangan-tangan dari dua kerajaan sebagai hadiah-hadiah pernikahan. Rumah yang tidak terlalu besar untuk ukuran seorang putra mahkota dan seorang putri — karena mereka berdua sudah sepakat sejak awal bahwa rumah yang terlalu besar adalah rumah yang terlalu banyak ruang untuk diisi oleh kekosongan, dan mereka sudah selesai dengan kekosongan-kekosongan yang salah.
Di dalamnya, hidup mereka berjalan dengan irama yang sudah mereka bangun sendiri dari potongan-potongan dua dunia: pagi-pagi dengan kopi di teras yang menghadap ke laut — kopi yang sudah jauh lebih baik sejak Judas akhirnya menang melawan mesin kopi itu pada minggu kedua jeda mereka dulu, sebuah kemenangan yang dia rayakan dengan tingkat perayaan yang biasanya disediakan untuk kemenangan perang. Hari-hari dengan pekerjaan masing-masing: Judas yang membagi waktunya antara kerajaan dan bisnis-bisnisnya, dengan Josh yang masih berdiri di sampingnya seperti biasa, dan dengan satu perubahan besar yang tidak pernah dibicarakannya keras-keras tapi dirasakan oleh semua orang di sekelilingnya — ruang hitam sudah tidak ada lagi, serigala-serigala sudah tidak ada lagi, dan cara-cara lama sudah tidak ada lagi, digantikan oleh cara-cara yang bahkan membuat musuh-musuh lamanya harus mengakui bahwa pangeran yang satu ini tidak pernah menjadi lebih lemah, hanya menjadi lebih benar.
Dan Ara yang membagi waktunya antara istana Osmod dan lautnya: putri resmi kerajaan ibunya di pagi hari, dengan jadwal-jadwal protokol yang masih membuatnya menggerutu kepada Reagant setiap akhir pekan, dan Putri Arandelle dari dua dunia di sore dan malam harinya, dengan desa bawah air yang dia kunjungi setiap minggu seperti yang dia janjikan, dengan Vaza dan Naya dan Tetua Marena yang sudah menjadi keluarga keduanya yang sesungguhnya, dan dengan laut utara yang dia kunjungi setiap bulan untuk duduk di tepinya dan berbicara dengan seorang nenek yang menjawabnya dari dalam setiap arus yang hangat.
Dan Josh, yang akhirnya mengambil jeda yang sudah diperintahkan Judas kepadanya setelah perjalanan ke utara dulu — satu minggu penuh di sebuah kota kecil di pegunungan, tanpa satu pun panggilan dari siapa pun — dan kembali dari jeda itu dengan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di wajahnya sebelumnya: sisa-sisa senyum yang tidak hilang-hilang, dan sebuah cerita tentang seorang pustakawati di kota kecil itu yang menurutnya “menarik untuk diajak berbicara tentang buku-buku dan hal-hal lainnya”, yang dia ceritakan kepada Judas dengan wajah datar yang sudah tidak berhasil menyembunyikan apa pun lagi.
“Catat dalam protokol resmi, Josh,” jawab Judas waktu itu, dengan seringai penuh kemenangan orang yang sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun. “Sekretaris terbaik di dua kerajaan akhirnya menemukan seseorang yang lebih menarik dari pekerjaannya. Ini berita yang lebih besar dari kemenangan mana pun di perairan tengah.”
Dan di antara semuanya, satu pekerjaan besar yang mereka kerjakan berdua seperti sebuah tim yang sudah teruji oleh dua perang: laut Monaghan dan laut Osmod itu sendiri.
Tender internasional untuk pengelolaan perairan dua kerajaan itu akhirnya berjalan — dengan Aurelian Energy sebagai operator terpilih setelah seluruh proses kajian independen yang paling ketat dalam sejarah dua kerajaan, dengan setiap pasal lingkungan yang sudah ditulis oleh tangan Ara sendiri sampai ke titik dan komanya, dan dengan satu pasal tambahan yang diusulkan oleh Ara dan disetujui oleh dua raja tanpa satu pun keberatan: pasal yang menetapkan seluruh zona perairan dalam dua kerajaan sebagai wilayah perlindungan permanen bagi semua penghuni lautnya, tanpa kecuali, dengan sanksi yang bahkan membuat Vera Kessler sendiri berkata bahwa perairan dua kerajaan itu sekarang adalah perairan yang paling terlindungi di seluruh benua.
“Kalian berdua sudah membuat sesuatu yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lihat dalam hidup saya,” ucap Vera ketika dia menandatangani kontrak akhirnya di istana Monaghan, menatap Ara dengan tatapan yang sudah lama berubah dari tatapan seorang pebisnis kepada seorang lawan negosiasi menjadi tatapan seorang pebisnis kepada seorang rekan yang dia hormati dengan sungguhan. “Sebuah kerajaan yang mengelola kekayaan lautnya tanpa menghancurkan lautnya sendiri. Orang-orang di industri saya akan mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Kalian membuktikan bahwa itu mungkin.”
“Orang-orang di industri Anda hanya belum pernah berhadapan dengan seorang putri yang bisa memanggil laut untuk membela dirinya sendiri, Nyonya Kessler,” jawab Judas dari sisi meja, dengan seringainya yang sudah lama tidak pernah hilang sepenuhnya dari wajahnya. “Sekarang mereka sudah tahu bahwa laut itu bukan barang mati yang bisa diperjualbelikan tanpa harga. Laut itu punya pemilik, dan pemiliknya sangat, sangat tidak suka diganggu.”
Dan suatu sore di musim gugur yang datang setahun setelah pernikahan itu, di teras rumah mereka yang menghadap ke laut, dengan dua cangkir kopi yang sudah sempurna racikannya, Ara menyampaikan sebuah kabar kepada suaminya dengan cara yang paling tidak resmi dan paling dirinya: dengan menyodorkan sebuah buku kecil ke tangannya tanpa satu kata pun.
Buku kecil itu adalah sebuah buku panduan untuk orang tua baru, dengan sebuah penanda halaman di dalamnya yang berbentuk kerang kecil berwarna biru laut utara.
Judas menatap buku itu. Menatap penanda kerangnya. Menatap wajah Ara yang sedang berusaha keras untuk terlihat tenang dan gagal total dengan cara yang paling indah yang pernah dia lihat di wajah siapa pun.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh dengan pidato-pidato besar dan kata-kata yang tidak pernah habis, Judas Ellington tidak bisa mengatakan apa-apa untuk waktu yang sangat, sangat lama.
“Dengan kata-kata, Jud,” bisik Ara, dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan senyum yang sudah tidak bisa ditahannya lagi. “Aku butuh jawabanmu dengan kata-kata. Resmi.”
Dan Judas menjawabnya — dengan tangan yang bergetar ketika dia menarik istrinya ke dalam pelukannya, dengan suara yang pecah di tengah-tengahnya dan tidak dia pedulikan sedikit pun, dengan tawa dan tangis yang datang bersamaan dari tempat yang sama di dalam dadanya.
“Aku akan menjadi ayah,” bisiknya, ke dalam rambut istrinya yang berbau laut dan rumah dan masa depan. “Aku akan menjadi ayah, Ara. Dan anak kita akan tumbuh besar di antara dua dunia, dengan dua liontin di lehernya suatu hari nanti, dengan dua kerajaan yang menjaganya dari daratan, dan dengan satu nenek buyut yang menjaganya dari dalam setiap tetes laut yang akan pernah menyentuhnya.”
Dan di bawah teras itu, di dalam laut yang tenang dan berkilau di sore musim gugur itu, sebuah arus hangat bergerak pelan dari utara ke selatan, mengelilingi rumah kecil di atas tebing itu seperti sebuah pelukan yang sudah menunggu sejak lama untuk diberikan kepada generasi yang berikutnya — generasi pertama yang akan lahir dari dua dunia, dua kerajaan, dan satu kisah yang dimulai di dalam laut di malam yang paling gelap, dan tidak akan pernah berakhir di mana pun.