Sembilan bulan penantian itu mengubah Judas Ellington menjadi sesuatu yang tidak akan pernah dipercaya oleh siapa pun yang pernah mendengar namanya sebelumnya: seorang pria yang panik secara berkala dan menyeluruh.
Bukan panik yang besar. Panik-panik kecil yang datang bergelombang dan tidak bisa dikendalikan, panik seorang pria yang sudah menghadapi pasukan bayaran, kudeta, dan bahan peledak di tengah laut tanpa pernah berkedip, tapi yang sekarang harus duduk tenang ketika dokter kandungan kerajaan mengatakan bahwa segalanya berjalan normal — dan yang tetap tidak bisa tenang, setiap kali, tanpa kecuali.
“Detak jantungnya kuat dan stabil,” ucap dokter kandungan itu pada pemeriksaan bulan keenam, mematikan alatnya dengan gerakan yang sudah terbiasa menghadapi calon ayah-ayah seperti ini. “Semuanya normal, Pangeran. Anda bisa bernapas sekarang.”
“Aku sudah bernapas,” jawab Judas, yang sudah tidak bernapas sejak pemeriksaan itu dimulai dua puluh menit yang lalu.
“Kau belum bernapas,” ucap Ara dari tempat tidur pemeriksaan, dengan senyum yang sudah menjadi senyum khasnya untuk enam bulan terakhir — senyum orang yang sedang menikmati pemandangan paling menghibur dalam hidupnya. “Kau berhenti bernapas di menit ketiga, dan kau mulai lagi di menit kedua puluh satu. Aku menghitungnya, seperti biasa.”
“Kau menghitung napasku?”
“Aku menghitung semua hal tentangmu akhir-akhir ini. Itu satu-satunya hiburan yang kumiliki selagi aku dilarang berenang lebih dari satu jam oleh tabib pribadiku dan oleh suamiku yang sudah berubah menjadi penjaga pantai pribadi yang paling menyebalkan di dua kerajaan.”
Karena itu memang yang sudah terjadi: Judas, orang yang dulu berdiri di tengah lorong penuh tembakan dengan pistol di tangan dan seringai di wajahnya, sekarang berdiri di tepi pantai rumah mereka setiap sore dengan mata yang mengawasi Ara berenang seperti seorang pengawas lomba olimpiade yang sudah dibayar untuk tidak berkedip. Satu jam. Persis satu jam, sesuai perintah Vaza dan dokter kandungan, dan waktu satu jam itu dihitung oleh Judas dengan arloji di tangannya dan dengan tingkat ketepatan yang biasanya disediakan untuk operasi-operasi militer.
“Lima menit lagi,” ucapnya dari tepi pantai pada suatu sore, dan Ara menjawabnya dari dalam air dengan satu tangan yang terangkat tanpa menoleh, dan dengan satu kalimat yang sudah menjadi jawaban standarnya untuk seruan itu setiap sorenya.
“Kau lebih menakutkan ketika menghadapi Baron, Jud. Dan itu bukan pujian.”
Dan di dalam perutnya, di dalam rumah pertamanya yang paling aman di dunia ini, si kecil mendengarkan semuanya — dan meresponsnya dengan cara yang membuat Ara harus berhenti di tengah air pada suatu sore di bulan ketujuh, dengan kedua tangan di perutnya dan mata yang membelalak, karena tendangan kecil itu datang tepat ketika sebuah arus hangat dari utara menyentuh garis pantai rumah mereka, seperti dua hal yang sudah saling mengenal sedang saling menyapa untuk pertama kalinya.
“Jud,” panggilnya pelan dari dalam air, dan suaranya sudah berubah menjadi sesuatu yang membuat Judas hampir berlari ke dalam laut dengan sepatu dan segalanya. “Dia mendengarnya. Dia mendengar lautnya, Jud. Dia baru saja menjawab arus Neyla dengan tendangan. Anakmu sudah bisa mendengar laut sebelum dia lahir ke dunia.”
Reaksi Judas terhadap kabar itu adalah reaksi yang hanya bisa dilakukan oleh Judas Ellington: dia berhenti di tengah-tengah pekerjaannya, berjalan ke tepi pantai, dan berdiri di sana menghadap laut selama sepuluh menit penuh dengan ekspresi orang yang sedang bernegosiasi dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, sebelum akhirnya berbalik dan mengumumkan kepada seluruh rumah bahwa mulai hari itu juga, waktu berenang Ara ditambah menjadi satu setengah jam per hari — bukan karena dokternya mengizinkannya, melainkan karena, katanya, “anakku sudah meminta untuk ikut berenang, dan aku tidak akan pernah bisa menolak permintaan anakku, bahkan sebelum dia lahir.”
Vaza, ketika mendengar tentang tendangan yang menjawab arus Neyla itu, hanya mengangguk pelan dengan senyum tuanya yang penuh dengan pengakuan.
“Garis laut tidak pernah berbohong tentang anak-anaknya, Pangeran,” ucapnya. “Dia sudah menjadi bagian dari laut sejak sebelum dia menjadi bagian dari dunia. Sama seperti ibunya dulu. Sama seperti neneknya dulu. Dan laut sudah mengetahuinya sejak jauh sebelum kalian berdua mengetahuinya — laut selalu mengetahui anak-anaknya lebih dulu, dan dia sudah sangat, sangat tidak sabar untuk menyambut yang satu ini.”
Dan dua raja tua — Ratu Moana dan Raja Canis Major — menanggapi kabar kehamilan itu dengan tingkat kompetisi yang bahkan membuat protokol dua kerajaan harus turun tangan untuk menengahi: kompetisi hadiah, kompetisi kamar bayi, kompetisi nama, dan kompetisi tentang siapa yang akan menjadi kakek-nenek favorit dalam sejarah dua kerajaan.
“Aku sudah menyiapkan kamar bayinya di sayap timur istana Monaghan, lengkap dengan segala yang diperlukan oleh seorang putra mahkota masa depan,” lapor Ratu Moana pada makan malam keluarga di bulan kedelapan, dengan nada seorang ratu yang menyampaikan kemenangan diplomatik.
“Dan aku sudah menyiapkan kamar bayinya di sayap barat istana Osmod, lengkap dengan segala yang diperlukan oleh seorang putri kerajaan yang akan tumbuh besar di antara dua dunia,” jawab Raja Canis Major, dengan nada yang sama persis, dari sisi meja yang lain.
“Dia akan tinggal di rumah kami, di atas tebing, di tengah-tengah antara dua istana kalian berdua,” jawab Ara dari ujung meja, dengan ketenangan seorang ibu yang sudah mengakhiri perdebatan ini sejak lama. “Dan kalian berdua boleh bertengkar tentang siapa yang paling sering boleh mengunjunginya, dengan catatan bahwa aku dan ayahnya memiliki hak veto penuh atas semua jadwal kunjungan itu. Tertulis. Resmi. Tidak bisa ditawar.”
Dan nama — nama yang akhirnya mereka pilih berdua di teras rumah mereka pada suatu malam, dengan dua cangkir cokelat panas dan laut yang berdebur pelan di bawah tebing — datang dari dua perempuan yang tidak akan pernah bisa hadir untuk mendengarnya, tapi yang kehadirannya akan terus hidup di dalamnya selamanya.
“Sarella Elena,” ucap Ara pelan, mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya, dan nama itu terdengar benar dengan cara yang langsung mereka berdua rasakan tanpa perlu dibicarakan lebih jauh. “Untuk ibuku, yang menuliskan kebenarannya di dalam buku harian bersampul biru dan menunggu enam belas tahun untuk didengar. Dan untuk ibumu, yang mengajarimu untuk tidak pernah mempercayai siapa pun selain orang-orang yang sudah membuktikan bahwa mereka layak dipercaya. Sella. Anak dari dua ibu yang kuat, yang akan tumbuh besar untuk menjadi perempuan yang sama kuatnya.”
“Sarella Elena,” ulang Judas pelan, dan untuk sesaat, di teras itu, di bawah bintang-bintang yang sama yang sudah menyaksikan segalanya, dua orang itu diam dan mendengarkan nama putri mereka diucapkan oleh angin laut yang berhembus pelan, seolah-olah laut itu sendiri sedang menyetujui pilihan itu dengan caranya yang biasa.
Dan jauh di utara, di dalam perairan yang sudah sangat lama menjadi rumahnya, sebuah arus hangat bergerak pelan ke selatan dalam keheningan malam itu, membawa satu nama baru ke dalam jaring-jaring laut yang sudah menjaga satu garis keluarga itu sejak empat generasi yang lalu.