Sella berusia empat bulan ketika mereka membawanya turun ke tepi pantai untuk pertama kalinya, di sebuah sore musim panas yang tenang, dengan Judas yang sudah memeriksa suhu airnya tiga kali dan Ara yang sudah berhenti menghitungnya sejak pemeriksaan kedua — karena dia sudah tahu bahwa suaminya tidak akan pernah berhenti memeriksanya, dan dia sudah memilih untuk menganggapnya sebagai bentuk cinta yang paling aneh dan paling dia sukai dari semua bentuk cinta yang pernah dia terima dalam hidupnya.
“Airnya sembilan belas derajat, sempurna untuk kulit bayi,” lapor Judas, dengan termometer air yang sudah dia beli khusus untuk tujuan ini dan yang sudah dia gunakan dengan tingkat ketelitian seorang insinyur kerajaan. “Anginnya tiga knot dari arah timur laut, aman. Ombaknya di bawah dua puluh sentimeter, aman. Tidak ada ubur-ubur dalam radius dua ratus meter, aman. Aku sudah memeriksa semuanya.”
“Dan kau sudah membuat Vaza memeriksa semuanya untuk keempat kalinya dari dalam air, dengan empat duyung yang berjaga di sepanjang garis pantai seperti pasukan pengawal presiden,” tambah Ara, dengan Sella yang tidur nyenyak di gendongannya dengan topi kecilnya yang berwarna biru laut. “Aku sudah melihat Naya di balik karang sana sejak lima menit yang lalu, Jud. Dia bahkan tidak berusaha untuk bersembunyi lagi.”
“Perlindungan yang terlihat lebih efektif daripada perlindungan yang tidak terlihat,” jawab Judas, tanpa sedikit pun nada menyesal dalam suaranya.
Mereka berjalan turun ke tepi pantai itu bersama-sama, ke garis air yang tenang dan dangkal di bawah rumah mereka, dan Ara berlutut di pasir yang basah dengan Sella di lengannya, dan menurunkan putrinya perlahan-lahan sampai kaki-kaki kecilnya yang berbalut itu menyentuh permukaan air untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dan laut itu, sekali lagi, berhenti.
Kali ini bukan berhenti yang mengejutkan seperti di hari kelahirannya. Kali ini berhenti yang pelan dan lembut dan penuh dengan kehati-hatian, seperti seluruh laut itu sedang berusaha untuk tidak mengejutkan seorang tamu kecil yang baru pertama kali datang berkunjung. Air di sekitar kaki-kaki kecil itu membentuk riak-riak kecil yang bergerak pelan dan hangat, dan arus dari utara itu datang dan menyentuh ujung-ujung jari kaki Sella dengan kelembutan seorang nenek yang menggenggam tangan cicitnya untuk pertama kalinya.
Dan Sella membuka matanya lebar-lebar, dan menatap ke bawah ke arah kaki-kakinya yang terendam air, dan kemudian menatap ke atas ke arah ibunya, dan kemudian tertawa — tawa bayi yang besar dan lepas dan penuh dengan kegembiraan murni yang hanya bisa dimiliki oleh makhluk-makhluk yang belum pernah diajarkan oleh dunia untuk tidak bergembira — sambil menggerak-gerakkan kaki-kaki kecilnya di dalam air dan mencipratkan tetesan-tetesan kecil ke segala arah dengan kedua tangannya yang ikut bergerak-gerak.
“Dia menyukainya,” ucap Judas, dan suaranya sudah tidak bisa menyembunyikan betapa besarnya kelegaan yang ada di dalamnya — kelegaan seorang ayah yang sudah menghabiskan empat bulan bertanya-tanya di dalam hatinya apakah putrinya akan mewarisi laut ibunya, dan yang sudah tidak pernah berani mengatakannya keras-keras kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya. “Dia benar-benar menyukainya, Ara. Lihat wajahnya. Lihat cara dia memandang air itu.”
“Dia bukan hanya menyukainya, Jud.” Ara menatap putrinya yang sedang bermain air itu dengan mata yang sudah basah di sudut-sudutnya, dengan tawa yang bercampur dengan sesuatu yang lain yang lebih dalam dan lebih besar. “Dia sudah mengenalnya. Seperti aku dulu, ketika aku pertama kali menyentuh laut dan laut itu menjawabku dengan cara yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun selama bertahun-tahun. Dia sudah mendengar lautnya sejak dia masih berada di dalam perutku, dan sekarang dia sudah bertemu dengannya dengan kakinya sendiri, dan mereka berdua sudah saling mengenal seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali.”
Di kejauhan, dari balik karang-karang di sisi teluk, Naya muncul ke permukaan dengan dua ekor lumba-lumba kecil yang mengikutinya dari dekat, dan melambaikan tangannya ke arah mereka dengan senyum yang besar — dan Sella menoleh ke arah suara cipratan itu, dan menatap sosok duyung muda di dalam air itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dan tertawa lagi, lebih keras dari sebelumnya, sambil menggerak-gerakkan seluruh tubuh kecilnya dalam gendongan ibunya dengan antusiasme yang membuat Ara harus memegangnya lebih erat supaya tidak terlepas.
“Naya, kemarilah!” panggil Ara, tertawa. “Bertemu dengan sepupu lautmu yang baru! Dia sudah menunggu untuk bertemu denganmu sejak dia lahir, dan sepertinya dia sudah sangat tidak sabar!”
Dan sore itu berjalan menjadi sore yang paling sempurna dalam hidup mereka berdua: sebuah keluarga dari dua dunia di tepi laut yang hangat, dengan seorang bayi perempuan yang bermain air dengan kaki-kaki kecilnya dan tertawa kepada setiap tetesnya, dengan seorang duyung muda yang berenang mendekat dan menyapa sepupu kecilnya dari daratan dengan tetesan-tetesan air yang lembut, dengan seorang nenek buyut yang menjaga dari dalam setiap arus hangat yang menyentuh mereka, dan dengan dua orang tua yang berdiri berdampingan di pasir yang basah dan menyaksikan masa depan mereka bermain air untuk pertama kalinya, bergandengan tangan, dengan dua liontin yang berkilau di leher salah satunya dan dengan satu janji lama yang sudah tertepati sepenuhnya di dalam hati keduanya.
Dan di kursi-kursi kehormatan yang sudah didirikan di tepi tebing di atas mereka — dua kursi tua yang dibawa khusus untuk sore ini — Ratu Moana dan Raja Canis Major menyaksikan semuanya dari atas dengan dua cangkir teh yang sudah dingin di tangan mereka dan dengan dua wajah tua yang sudah tidak lagi bisa dibedakan satu sama lain dalam hal tingkat kebahagiaan yang terpancar dari dalamnya.
“Kita sudah terlalu tua untuk menyaksikan hal-hal seperti ini, Canis,” ucap Ratu Moana pelan, dengan suara yang sudah pecah di tepinya sejak lama. “Terlalu tua, dan terlalu beruntung, untuk masih diizinkan menyaksikannya.”
“Terlalu beruntung,” jawab Raja Canis Major, dan suaranya sudah pecah di tepi yang sama. “Untuk Sarella. Untuk Elena. Dan untuk semua yang seharusnya sudah ada di sini bersama kita sore ini, untuk menyaksikan generasi keempat dari garis keluarga kita bermain air di tepi laut yang sama yang sudah menjaga mereka semua sejak awal.”
Dan angin laut sore itu berhembus pelan dari utara, hangat dan lembut, dan untuk sesaat, di atas tebing itu, dua raja tua itu merasa bahwa semua yang seharusnya ada di sana memang sudah ada di sana — di dalam angin itu, di dalam arus itu, di dalam tawa seorang bayi perempuan yang sedang bermain air dengan kaki-kaki kecilnya di tepi laut yang sudah menjaga garis keluarganya sejak sebelum kerajaan-kerajaan mereka berdiri.