Tiga tahun kemudian, pada sebuah sore musim gugur yang tenang di tebing yang sama di jalan pantai menuju Moresby, sebuah keluarga kecil dari dua dunia duduk berpiknik di atas tikar besar di tepi tebing, dengan laut yang berdebur pelan di bawah mereka dan dengan langit yang berwarna jingga panjang di atas mereka.
Sella sudah berusia tiga tahun, dan dia sudah menjadi anak yang bahkan melebihi semua yang sudah mereka bayangkan tentangnya: seorang anak perempuan kecil dengan rambut pirang ibunya dan mata abu-abu muda ibunya dan suara keras ayahnya, yang berbicara dua bahasa sejak dia bisa berbicara — bahasa manusia untuk orang-orang di daratan, dan bahasa yang tidak memiliki kata-kata untuk laut yang sudah menjadi sahabat pertamanya sejak sebelum dia lahir.
Sore itu dia sedang bermain di tepi tebing dengan mangkuk kecil berisi potongan-potongan apel — apel merah biasa, bukan apel langka dari pegunungan, karena Sella sudah menyatakan dengan tegas bahwa apel merah biasa adalah apel terbaik di dunia dan tidak ada satu pun argumen yang akan mengubah pendiriannya tentang itu. Dan Judas, yang menyaksikan putrinya makan apel dengan tingkat keseriusan yang biasanya disediakan untuk sidang-sidang kerajaan, hanya bisa tersenyum dan memandang istrinya dengan tatapan yang sudah menjadi tatapan khasnya untuk momen-momen seperti ini.
“Buah apel,” ucapnya pelan, hanya untuk mereka berdua mendengarnya. “Semua dimulai dengan sebuah apel, Ara. Satu truk penuh apel pengalih perhatian, satu apel langka dari pegunungan, dan satu permintaan sederhana dari seorang gadis yang sudah lelah diganggu oleh seorang pria gila di sebuah restoran di lantai tiga. Dan sekarang ada seorang anak perempuan kecil di sana yang makan apel dengan cara yang sama persis dengan cara ibunya makan apel di malam itu, dan aku sudah tidak bisa membayangkan hidup yang lain lagi selain yang satu ini.”
“Dan aku sudah tidak bisa membayangkan laut yang lain lagi selain yang satu ini,” jawab Ara pelan, bersandar ke bahunya dengan dua liontin yang berkilau di lehernya — liontin kerang perak dari ibunya, dan liontin kerang laut utara dari neneknya, yang sudah tidak pernah dia lepaskan sejak hari dia menerimanya dari dalam air utara itu. “Laut yang sudah menjadi rumah untuk kita semua, Jud. Untukmu, untukku, untuk Sella, untuk semua orang yang kita cintai di dua dunia. Laut yang sudah berhenti menjadi tempat yang harus dijaga dan sudah menjadi tempat yang menjaga, untuk semua orang, untuk selamanya.”
Karena memang itulah yang sudah terjadi dalam tiga tahun itu, di dua kerajaan yang sudah berubah menjadi dua sahabat lama yang tidak pernah lagi berdiri berseberangan. Perairan Monaghan dan Osmod sudah menjadi perairan yang paling terlindungi di seluruh benua, dengan Aurelian Energy yang menjalankan operasinya di bawah pasal-pasal lingkungan yang sudah ditulis oleh tangan Ara sendiri, dan dengan desa duyung di laguna utara yang sudah tidak lagi menjadi rahasia yang harus disembunyikan dari dunia — sudah menjadi sebuah komunitas yang diakui dan dilindungi oleh dua kerajaan secara resmi, dengan Tetua Marena yang sudah dua kali berdiri di depan para pejabat istana sebagai perwakilan resmi kaum laut dalam sejarah yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun sebelumnya.
Ratu Moana sudah menyerahkan sebagian besar urusan kerajaannya kepada Judas dalam dua tahun terakhir, perlahan-lahan, dengan cara yang bahkan tidak terasa seperti penyerahan sampai suatu hari seluruh istana menyadari bahwa pangeran yang dulu mereka takuti itu sudah menjadi pemimpin yang mereka banggakan untuk diikuti — dengan cara-cara yang benar, dengan tangan yang bersih dari cara-cara lama.
Raja Canis Major sudah mengumumkan bahwa Ara akan menjadi penerus resminya di takhta Osmod suatu hari nanti, dan dua kerajaan itu sudah mulai membicarakan — dengan kegembiraan dan bukan dengan kekhawatiran, untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka — tentang sebuah masa depan di mana satu keluarga akan memimpin dua kerajaan dari dua sisi laut yang sama, dengan seorang anak perempuan bernama Sarella Elena yang akan tumbuh besar untuk mewarisi semuanya, dari dua dunia, untuk dua dunia.
Dan Josh sudah menikahi pustakawatinya di kota kecil pegunungan itu musim semi yang lalu, dengan Judas dan Ara yang berdiri di barisan depan sebagai tamu-tamu kehormatan, dan dengan sebuah janji yang dia ucapkan kepada istrinya di depan semua orang dengan suara yang stabil dan jujur: bahwa dia akan mengatur seluruh hidupnya seperti dia mengatur pekerjaannya, dengan ketelitian, dengan kesabaran, dan dengan seluruh yang dia miliki.
Di tepi tebing itu, di sore yang berwarna jingga itu, Sella selesai dengan potongan-potongan apelnya dan berdiri dengan kaki-kaki kecilnya yang masih kurang stabil, dan berjalan ke tepi tebing dengan dua tangan yang terentang, dan menatap ke bawah ke arah laut yang berkilau di bawah sana.
“LAU!” teriaknya, dengan suaranya yang keras seperti suara ayahnya, dengan dua tangan yang terangkat tinggi ke arah laut itu. “LAU! AKU DI SINI! AKU DAN MAMA DAN AYAH DAN APEL!”
Dan laut itu menjawabnya — dengan sebuah arus hangat yang bergerak pelan dari utara ke selatan dan berhenti di teluk kecil di bawah tebing itu, dengan riak-riak kecil yang berkilau berwarna emas dalam cahaya sore, dengan suara yang terdengar seperti tawa seorang nenek tua yang sudah sangat bahagia dan sangat bangga dan tidak akan pernah berhenti menjadi keduanya.
Dan Sella tertawa dan melambaikan tangannya ke arah laut itu dengan seluruh tubuh kecilnya ikut bergerak, dan Judas dan Ara berdiri di belakangnya bergandengan tangan dengan tawa mereka sendiri yang bercampur dengan suara laut dan suara angin dan suara sore yang sempurna itu, dan untuk waktu yang lama mereka hanya berdiri di sana berdua — di tebing yang sama tempat laut pertama kali mempertemukan mereka, tempat mereka menikah di depan dua kerajaan, tempat mereka sekarang berdiri dengan putri mereka yang sedang berbicara dengan laut seperti laut itu adalah anggota keluarga tertuanya.
“Dia akan tumbuh besar menjadi lebih kuat dari kita berdua digabungkan,” ucap Judas pelan, menatap putrinya yang sedang berbicara dengan laut itu dengan seluruh hatinya yang sudah tidak menyimpan apa pun lagi selain kebanggaan seorang ayah yang utuh. “Aku sudah mengetahuinya sejak hari dia lahir dan laut itu berhenti bergerak untuk menyambutnya. Dia adalah anak dari dua dunia, Ara, dan dua dunia itu akan menjadi miliknya suatu hari nanti — bukan karena kita mewariskannya kepadanya, melainkan karena dia akan membangunnya sendiri, dengan caranya sendiri, dengan lautnya sendiri yang sudah mengenalnya sejak sebelum dia lahir.”
“Dia akan tumbuh besar menjadi Sella,” jawab Ara pelan, dan itu adalah jawaban yang paling benar dari semua jawaban yang bisa diberikan. “Anak dari dua ibu yang kuat, cucu dari dua kerajaan yang bersatu, cicit dari laut utara yang sudah menjaga garis keluarganya sejak empat generasi. Dan dia akan menulis kisahnya sendiri, Jud, dengan tangannya sendiri, di halaman-halaman yang bahkan belum bisa kita bayangkan hari ini. Tugas kita hanya satu: menjaga tali yang menghubungkannya dengan rumahnya, dan memastikan bahwa dia selalu tahu ke mana dia harus berenang pulang ketika dia membutuhkan untuk pulang.”
Dan mereka berdiri di sana sampai matahari turun sepenuhnya ke dalam laut yang berkilau itu, sebuah keluarga dari dua dunia di atas tebing yang sudah menyaksikan segalanya — kehilangan dan pencarian, perang dan perdamaian, kematian dan kehidupan baru — dan di bawah mereka, di dalam laut yang tenang dan berkilau dalam cahaya terakhir sore itu, sebuah arus hangat bergerak pelan mengelilingi teluk kecil itu seperti sebuah pelukan besar yang tidak akan pernah dilepaskan, untuk generasi yang sekarang, untuk generasi yang akan datang, untuk selamanya.
TAMAT