Tara takut-takut memberanikan diri melewati beberapa ruangan yang tampak sepi dan gelap. Pepohonan besar meneduhi ruang yang bersampingan dengan lorong luas tersebut. Tubuhnya gemetar rasa takutnya menguasai wanita kecamata itu. Tara tidak sedikitpun melirik area sekitarnya, dia terus berjalan lurus. Hatinya ingin sekali segera sampai di luar depan kampus. Karena memang tara wanita penakut kurang menyukai suasana gelap seperti yang di lewatinya. Menonton film horror saja dia tidak berani sendiri! Apalagi langsung melihat dengan kedua bola matanya? Bisa-bisa wanita kecamata itu mati kejer.
Ketika Tara hampir mendekati gerbang luar, pandangan matanya di kagetkan melihat sesosok wanita yang berdiri tegak tepat di hadapannya. Tara terdiam, mata tara membelalak melihat apa yang di lihatnya? Dia takut dengan penglihatan minusnya semakin parah. Tara melepaskan kecamata dan mengusap-usapnya beberapa kali lalu di pakainya lagi. Namun tetap sama sesosok wanita yang masih berdiri dengan mengenakan baju berwarna putih. Dia tidak sadar, selain dirinya tidak ada seorangpun yang berada di kampus dengan keadaan mendekati magrib. Tara masih mencerna penglihatannya, tiba-tiba alarm ponsel genggamnya berdering setiap kali berganti jam.
“Drtttt! Drttt!”
Hatinya langsung terhentak!
“Deg!”
Melihat arah jarum jam yang menunjukan pukul 05.30 WIB. Menyadari hal yang terjadi. Mana mungkin ada perempuan pergi ngampus malam-malam? Selain dirinya yang di perbudak teman barunya untuk mengerjakan semua tugasnya. Tubuh Tara seketika kaku, kedua tulang kakinya mendadak layu. Ingin sekali berlari sekencang kilat. Namun kedua kakinya serasa terlipat karena rasa takut yang berlebihan. Harapannya sudah hilang, masa mudanya terenggut dengan bertemu sosok hantu wanita yang akan menterkam lalu menelan tubuhnya hidup-hidup.
“Ya tuhan, aku masih gadis belom kawin! Kasihanilah aku! Berikan kesempatan untuk itu. Kali ini aku pasrah, tolong cabut nyawaku saat ini juga!” lirihnya kurang lebih seperti itu. cewek penakut yang menutupi sebagian area wajah dengan telapak tangannya. Sesaat Tara melirik ke sosok wanita yang masih saja berdiri di hadapannya. Kali ini sosok hantu wanita melambaikan tangan seakan meminta pertolongan kepada Tara. Membuat rasa takutnya semakin menjadi-jadi sampai mengeluarkan air mata, dengan hal yang terjadi di hari tersebut. Anak semata wayang keluarga Sunandar akan menjadi awal dari riwayat sejarah korban santapan hantu.
Masih keadaan bercucuran air mata dengan menutupi kedua matanya. Tanpa di sadari sosok wanita yang berdiri di hadapannya menghilang seketika. Tara membuka mata pelan-pelan, lalu mengusap-usap air mata yang telah jatuh ke area wajahnya. Gelap, dingin, dan mencekam. Hanya tiga kalimat itu yang menggambarkan kejadian sore tersebut. Segera berlari wanita berkecamata tersebut seperti kilat yang menyambar karena rasa takutnya yang berlebihan.
“Aaaa bunda! Ayah! Pak Toni!” teriakan tara membahana memanggil-manggil nama keluarganya seakan meminta pertolongan sambil lari terseok-seok. Dia berhasil keluar dari pintu gerbang kampus. Tanpa ragu-ragu Tara melenggang pergi meninggalkan kampus, setelah kejadian misteri yang membuat hati dan ginjalnya hampir copot. Dengan langkah terhuyung dan gemetar , Tara mencari kendaraan yang melintas. Hingga akhirnya ada satu kendaraan melintas dengan tangkas wanita berkecamata tersebut menaiki mobil angkutan umun, karena kebetulan hari itu dia menolak untuk di jemput pak Toni.
“PAK! Jalan!” bibir Tara masih bergemetar, hatinya berdegup dua kali lebih cepat, pemikiran masih belom jernih mengingat kejadian yang menimpanya.
“Kemana ini neng?” tanya seorang pria yang duduk di depannya.
“PULANGLAH PAK!” wanita berkecamata itu terbawa suasana sampai menjawab pak sopir dengan sergah.
“Iya, pulangnya ke arah mana neng?” tutur pria yang di depannya. tampak sopir tersebut memiliki kesabaran yang ekstra bagi setiap penumpang seperti Tara.
“Ke jalan Dewi sartika Pak, ayo buruan cepetan pak!” Tara ingin sekali menyulap dirinya untuk sampai dengan segera di rumahnya. Hingga sampai di rumah, Tara membaringkan tubuhnya berharap mendapat ketenangan untuk meredakan ketegangan tubuh yang terasa kaku.
“DUARRR!”
Suara petir membahana seisi kamar Tara. Hujan badai yang mengguyur dengan semena-mena. Terlihat dari jendela kamar, pepohonan yang berbatang sedang, melengkung tajam nyaris menyentuh tanah karena tak mampu menahan serangan badai. Hujan semakin deras di tambah iringi suara gelegar petir. Tara mencoba memejamkan matanya berharap tertidur pulas dan melupakan kejadian sore tadi. Sampai sang mentari datang membawa cahaya. Terlihat Tara yang masih tersungkur di atas kasur empuk, jarum jam yang sudah menunjukan pada waktu hari kedua dia memasuki perkuliahannya.
“Tok tok tok!” Tara sayang bangun, udah siang!” ucap Susi pelan. Seorang ibu yang begitu besar keperduliannya kepada sang anak. Tidak ada sahutan yang terdengar dari dalam kamar Tara. Apakah Tara pingsan karena trauma kejadian kemarin? Benarkah wanita berkecamata tersebut tidak akan masuk kuliah hari ini? Padahal kehadirannya sangat di tunggu-tunggu oleh teman berandalannya karena sebuah tugas yang akan di kumpulkan hari itu.
“Drtttt! Drttt!” nada dering berbunyi setiap kali berganti jam. Tara mulai tersadar, mimpi buruk yang menyuruhnya untuk tidur seharian penuh. Wanita tersebut memakaikan kecamata favoritnya kembali yang bermotip strawberry. Tercengang setelah melihat arah jarum jam yang menunjukan pukul 07.45 WIB. Tara beranjak meloncat dari ketinggian kasur yang lumayan tinggi.
“Ya tuhan! Kenapa kau tak bangunkan hambamu yang kebluk ini!?” tutur Tara meraih lantai dengan kedua kakinya. Namun kedua kakinya terpeleset.
“Awwww!” mencoba terbangun dari jatuhnya. Udahlah gue gak bakal mandi hari ini, pakai baju, pakai sepatu. Abis itu langsung meluncur.” Setelah semuanya selesai. Tara langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya yang sudah menunggu Tara untuk sarapan.
“Bun, yah! Udah, aku udah telat.” Kelakuan ceroboh anaknya yang masih berpenampilan seperti penyanyi dangdut membuat Susi menghalang jalannya.
“Taraa! Sarapan dulu.” Tutur sang ayah. Sahrul yang gagah mengenakan jas hitam yang tersematkan kartu nama dirinya sebagai Dirut di perusahaannya.
“Engga deh yah, nanti Tara sarapannya di kantin aja.” Timpal Tara simple.
“Tunggu! Apa ini? baju sama rok mu kuning-kuning, kamu mau ngampus apa nyangkul?” Tara berbalik badan. Susi menangkupkan kepalanya ke area piring yang di pegang. Dirinya sudah merasa pusing tujuh keliling melihat penampilan Tara yang terlalu seadanya.
“Udah Bun, punya anak cantik imut begini harusnya bersyukur!” sergah Tara
“Tara pamit dulu ya, udah telat! Assalamu’alaikum.” Lanjutnya memotong pernegosasian.
Susi hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian anaknya. Kapan Tara akan berubah seperti anak muda pada umumnya?
“Udah mah, biarin aja. Tara berpenampilan yang dia senangkan. Kita tidak bisa memaksanya.” Tara langsung melenggang pergi. Menuju perjalanan kampus Tara di antar oleh pak Toni supir pribadi keluargannya, dengan kecepatan tinggi bagaikan angin topan yang menghadang badai, seperti biasa wanita berkecamata tersebut berhenti di Halte. Sampai akhirnya Tara tiba di kampus perkuliahannya. Kebetulan dia mengambil jurusan Akutansi. Bangunannya terletak di pinggir kampus yang berhadapan dengan ruang kerja pak Sektor. Jadi mungkin kebanyakan para mahasiswa jurusan ekonomi tidak terlalu nakal berlalu lalang di luar.
“Heyy! Heyy!” Teriak Meisya. Salah satu teman baik yang berbeda dengan mahasiswi yang lain.
“A-aa. Apa?” Sahut Tara, mendekati Meisya yang duduk di teras taman. Mungkin wanita itu sedikit linglung karena terlalu memikirkan kejadian kemarin.
“Ehh kenapa lo? Ayan? Tubuh lo kejang-kejang?” ucap wanita berambut pendek kepada Tara yang baru saja menduduki teras sampingnya.
“E-engga gue gapapa.” Tara tebata-bata. Masih belom bisa mensicronkan antara hati dan pemikirannya. Akibat tidak mandi kali pagi tadi?
Tidak lama dari duduknya. Menghirup udara dan mencium wangi bunga-bunga yang beraneka ragam layaknya seperti pulau Indonesia. Segerombolan preman pensiun datang menghampiri kedua wanita tersebut. Apa yang di katakannya? Mengungkapkan perasaan? Menagih hutang? Kedua-duanya mungkin salah. Sebuah buku tugas yang di nanti mereka sejak awal mereka datang, buku tugas yang menjadi penentu hidup atau tidaknya mereka di kemudian hari. Sungguh kejam.
“Woyy!” teriakan keras terdengar santer.