Tubuh wanita berkecamata itu langsung bergemetar. awal dia masuk ke kampusnya sudah mendapati rasa tidak ketidaknyamanan dari perlakuan teman-teman kampusnya. beruntunglah Tara mampu mengerjakan semua tugas mereka hanya waktu semalam.
"Cewe cupu lo di tungguin dari tadi. baru nongol sekarang," ketus Romi. menatap tajam Tara, tatapannya saja membuat hati dan jantung Tara hampir copot. kedua wanita itu hanya menunduk terdiam.
"Yaudah. mana sini buku tugas gue kemarin?"
"Punya gue juga mana?"
"Sini cepetan! lama banget si!" ucap Romi merebut paksa buku yang baru saja di keluarkan dari tas.
Mereka langsung melenggang pergi, tidak ada perwakilan satu orang pun untuk mengucapkan terima kasih kepada Tara. sungguh mereka tak tahu di untung! Tara sempat berfikir tak lagi berkeinginan dua kali untuk membantu mereka.
"Dasar si Romi mau pinter ngandelin orang!" rutuk Meisya. dia sudah muak melihat perlakuan Romi dan teman gengnya, sering membuat resah para mahasiswa baru.
"Udah biarin aja."
Menit kemudian, mereka berdua memasuki ruangan kelas dan memulai pelajaran mata kuliah. menghabiskan jam kuliah dengan pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya semua Itu terjawab benar oleh Tara.
Setelah satu jam pelajaran usai ...
"Mei, aku dengar-dengar tadi ... Ri-ri ..?"
"Richo maksud kamu?"
"Iya Richo yang tadi pak Surya bilang yang katanya udah satu minggu gak masuk kampus gegara sakit. Emm ... Richo mahasiswa juga?" tanya Tara penasaran. membenarkan kecamatan yang kesekian kalinya melorot. mungkin kecamata pavorit yang di pakainya telah usang.
"Biasa aja kali ah mukanya, penasaran amat." ucap Meisya jail. mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
Tara menggaruk-garuk dahinya hingga beberapa kali. wajahnya memerah sangat merona. memang dia tidak sama sekali memakai polesan bedak atau lipstik sekalipun. akan tetapi, ketika dia merasa malu wajah cantik Tara terlihat jelas.
"Richo itu ...?" menahan katanya. Meisya sengaja agar sahabatnya itu penasaran menunggu jawabnnya. "Penaaran ya?" goda nakal Meisya.
Tara menghirup nafas kasar. "Iya siapa Mei?" tanyanya sedikit kesal.
"Richo itu mahasiswa sini juga satu jurusan sama kita,sekaligus anak dari pemilik kampus ini. gitu loh." terang Meisya. matanya membelalak melihat wajah Tara berubah.
"Kenapa kamu?"
"Engga, gapapa. ohh jadi gitu toh." timpal Tara simple.
***
Ketika perjalanan pulang wanita yang sering di sebut si cupu itu tiba-tiba terjatuh, tulang kakinya sulit di gerakan ketika seseorang menyerempet sebagian kaki dan lututnya. terasakan sakit di bagian lutut terdapat luka dengan darah yang terus mengalir.
"Lo kalo mau cari mati jangan di pinggir jalan! kena kan." ujar pria nada tinggi. mengenakan helm yang sedikit terbuka di bagian kelopak mata.
"Lo yang salah malah nyalahin gue! bawa motor udah kaya bawa kuda. gak punya aturan!"celetuk Tara, membuat pria itu sedikit menaikkan darah.
"Lo!" telunjuknya mengarah sejajar tepat di depan dengan kelopak mata Tara."Gue kasih tau, lain kali kalo galau putus cinta jangan bunuh diri di pinggir jalan kaya gini sekalian aja di pohon toge sono." cemooh Pria berpakain casual, masih keadaan wajah tertutup helm. melenggang pergi lalu menancapkan gas dengan kecepatan sangat kencang. Andai kala itu, kaki Tara bisa berdiri seperti biasanya sudah pasti badan pria itu memar kena cabikan wanita berkecamata yang sejak tadi menahan amarah.
"Cowok gak tahu malu! dia yang salah bukannya bantuin terus minta maaf. eh ini mah malah balik nyalahin." umpat Tara mencoba tertatih. rasa sakit yang lumayan parah membuat Tara sulit berdiri. mengusap-usap lutut yang terdapat lembaran darah dengan sapu tangan miliknya, sementara dia duduk di tepi jalan yang sepi.
'Kalo gue tau siapa dia, udah gue samperin rumahnya minta pertanggung jawaban' imbuhnya dalam hati.
Terik matahari semakin panas di rasa, Tubuh Tara berkeringat setelah beberapa menit berdiam di bawah terik matahari. ia terbesit untuk mencoba berdiri kembali. berjalan terseok-seok mencari kendaraan umum yang melintas, kemudian menaiki kendaraan dan akhirnya berhasil hingga tiba di rumah.
"Tara, kaki kamu kamu kenapa nak?" tanya Susi cemas. menggandeng putrinya untuk duduk di atas sofa.
"Ta-tara gapapa mah," balasnya menerbitkan senyuman tipis. tak ingin sang ibu mengetahui kejadian yang menimpa wanita berkecamata siang tadi. bisa berabe urusan jikalau mamah sama papah tahu. bakal lama di introgasi dia, HAHA.
"Coba mamah lihat kakinya bagian mana yang sakit." bujuk Susi, mengamati kaki Tara yang terlihat membengkak.
"Mah, Tara udah bilang Tara gapapa." Tara terkesiap. berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju kamar.
Tipe Tara yang tidak manja meskipun sering kali Susi dan Adrian memberikan perhatian lebih terhadap putrinya, seperti ingin menghantar Tara ke kampus, menemani Tara sebelum tidur. semua itu menjadi tolakan, dia ingin belajar hidup mandiri mampu mengibarkan bendera kesuksesan dengan usaha sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.
letak kamar Tara di lantai kedua. rumahnya besar dan terbilang mewah hanya 5 orang yang di tambah bi Minah pembantu rumah dan pak Toni supir pribadi mereka. Ruangan yang berukuran cukup besar terdapat kamar mandi di bagian samping dan satu sudut tempat di hususkan untuk Tara belajar.
Hari sudah mendekati sore, kala itu Tara sedang menikmati hembusan angin yang masuk dari jendela kamar, sampai tak sadar Susi memanggil namanya sampai beberapa kali. Sesaat lamunannya buyar ketika mendengar suara yang ke-2 kalinya memanggil-manggil nama Tara.
'TARA'
'TARA' terdengar jelas di telinga tara. sampai-sampai wanita berkecamata itu berprasangka sang ibu yang memanggil namanya, segera Tara menghampiri Susi yang sedang sibuk membuat adonan kue bersama bi Minah.
"Iya mah ada apa? tadi barusan mamah manggil Tara." tanya Tara sembari megupap. wanita itu terlihat santai.
Susi mengerutkan keningnya "Barusan? kamu di panggil-panggil dari tadi sama mamah, gak nyaut. "
Tara keheranan "Mamah barusan manggil Tara ko." ucap Tara. Berkeyakinan Susi sedang membohongi dirinya.
"Mamah butuh kamu satu jam yang lalu, mau nyuruh kamu ke Ruko depan buat beli bahan adonan kue mamah. Ehh kamunya ga keluar-keluar yaudah mamah suruh bi Minah aja buat beli bahan kue mamah. Tadinya, mamah nyuruh kamu supaya cepet kan kamu naik motor, kasian bi Minah tadi jalan kaki dari rumah ke Ruko kan lumayan jaraknya sayang." jelas Susi.
Tara membelalak, "Mamah serius satu jam lalu mamah manggil Tara?" tanya tara.
"Iya duarius malah."
wanita berkecamata itu menghela nafas kasar.
'kalo bukan mamah terus yang barusan manggil gue siapa?" imbuhnya dalam hati. wajah Tara memberengut.
"Kenapa sayang?" tanya Sang mamah melihat sekilas wajah Tara.
"Ga-gapapa mah." timpal Tara gelagapan. wanita berkecamata itu mencoba membalikkan badan ingin kembali menuju tempat tidurnya.
"Aaaaaa!" teriak Tara membahana seisi dapur. nafasnya tersengal-sengal, tubuh dam mulutnya seketika kaku.