Di kamar Kanz yang bernuansa serba putih itu, sang pemiliknya merebahkan tubuh di atas tempat tidur terempuk yang dimilikinya.
Ia meneguk air putih di nakas samping tempat tidur kemudian meletakkan ponsel serta kacamata baca di atas buku motivasi yang sedang dibacanya, Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat, oleh Mark Manson.
Ketika matanya sudah mau tertutup, gawainya bergetar, melihat singkat nama yang tertera di layar. Deni Al-Faruq memanggil. Kanz memungut ponselnya lalu menjawab panggilan sahabatnya itu.
“Zariq! Aku sudah dapat cewek yang bisa Kau bawa besok,” katanya tanpa menyapa Kanz terlebih dulu.
“Tidak usah, sudah tidak butuh,” jawab Kanz datar.
“Hah? Kok bisa? Apa mama Kau membatalkan rencananya?”
“Bukan, Aku sudah punya kandidat,” jawab Kanz.
“Siapa, Riq?”
“Adalah, tidak penting juga kan? Lagipula dia cuman sewaan.”
“Oh, begitu. Ya sudah deh, Aku batalkan saja sama ini cewek kalau begitu.”
“Mmh.” Kanz menutup panggilan dan mematikan ponselnya agar tidak diganggu lagi saat ia beristirahat.
“Ya ela, si Zariq. Dimatiin lagi, padahal Aku mau bilang sesuatu.” Deni mengerucutkan bibirnya.
Kanz mematikan lampu lalu memakai penutup mata dan tidur. Baru beberapa detik, dibalik kelopak matanya terlintas bayangan Maira yang sedang ketakutan saat berada di ruangannya tadi.
Kanz langsung membuka mata, alisnya sedikit bergerak lalu ia memiringkan tubuhnya, memeluk guling.
Seketika Kanz tidak bisa tidur lagi karena berulang kali terbayang wajah Maira.
Kenapa aku bisa mengingat dia sih? gerutunya lalu bangkit dari tempat tidur.
Kanz duduk di tepi lalu memakai sendalnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia mencuci muka, memandangi dirinya sendiri di depan cermin. Tertawa simpul, mengingat usaha sang mama untuk menjodohkannya. Pria tampan ini dianggap tidak mampu mencari pasangan.
Kanz, sudah lama tidak memiliki kekasih semenjak kejadian dua tahun yang lalu membuatnya trauma berdekatan dengan wanita yang bisa menjadikan dirinya menutup diri untuk menjalin hubungan serius sampai saat ini.
Sudah 4 kali mamanya mencoba untuk menjodohkannya, tapi Kanz selalu menolaknya. 3 kali ia menuruti permintaan mamanya untuk bertemu dengan para gadis itu, tapi Kanz tidak suka sama sekali.
Pertama, perjodohan itu terjadi saat tiga tahun lalu. Ketika Kanz masih memiliki kekasih. Mamanya tau dia menyukai seorang wanita, tapi tidak pernah menyetujuinya.
Penyebab utamanya adalah wanita itu tidak sesuai dengan kriterianya. Syifa menolak tegas dan memaksa Kanz menemui perempuan yang dikenalkannya.
Usut punya usut, wanita itu ternyata sudah menikah dan ditinggal suaminya lalu berbohong pada Syifa. Perjodohan itu gagal, Kanz lega.
Perjodohan kedua dan ketiga, terjadi di saat Kanz masih dalam masa berkabung. Tentu hatinya tak akan merespons wanita mana pun.
4 tahun yang lalu.
Lampu meredup di sekeliling para undangan yang sudah menanti momen di mana koleksi terbaru merek Chanel yang akan ditampilkan setelah melalui tahapan kata sambutan. Kanz salah satu tamu yang duduk setia menikmati acara.
‘DUP.’
Tiba-tiba saja lampu sorot menyala dan mengarah ke sudut panggung, para model yang akan mengenakan satu persatu koleksi terbaru untuk tahun depan akan keluar dari balik layar, berjalan gemulai dengan angkuhnya.
Musik pengiring menyala dengan volume tinggi. Mendengarnya saja sudah buat adrenalin terpacu.
Bak sebuah kompetisi busana, perlahan-lahan koleksi mereka keluar, para tamu menikmati designnya, beberapa menikmati tubuh serta wajah para modelnya.
Kanz menanti sesuatu, matanya masih mengawasi. Dia harus mendapatkan wanita yang telah dicarinya selama ini.
Sambil mengisi waktu, ia bercengkerama dengan seorang pria yang duduk di sampingnya, membicarakan mengenai mode yang mereka luncurkan. Kanz merespons baik dan ramah.
Lima menit kemudian pandangan biasa dari Kanz berubah menjadi binar-binar se-bening berlian. Kepalanya sedikit miring ke kiri, bibirnya ia gigit dari dalam dan senyuman terukir semu melalui raut wajahnya.
Kanz terpesona pada seorang wanita yang keluar dari balik layar. Tak bergeming sedikit pun matanya. Pipinya memerah seperti buah tomat.
Wanita tersebut jalan dengan gaya luwes, memamerkan gaun malam berwarna hitam yang sangat mewah, potongan leher rendah, pas di badan dengan pembawaannya yang menarik, membuat mata tamu terpaku padanya.
Alasan Kanz kemari adalah untuknya. Untuk wanita bernama Risnamayanti, salah satu mahasiswa asal Indonesia yang bertemu dengan Kanz ketika kuliah di Sydney.
Kanz yang pemalu tidak sempat mengutarakan isi hatinya dulu pada Risna hingga mereka berpisah tanpa tau kabarnya lagi.
Risna tidak menyelesaikan kuliahnya saat itu. Menurut cerita teman-temannya, wanita itu kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di sana lalu bekerja sebagai model.
Sayangnya, Kanz kehilangan jejak Risna selama 3 tahun. Sampai akhirnya ketika Kanz menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia, dia bertemu sahabat Risna dan Kanz langsung menggali informasi lebih tentang Risna.
Sahabatnya itu tidak menyangka bahwa Kanz mencarinya. Dia pun mengatakan bahwa Risna akan menjadi salah seorang model merek Chanel di Singapura.
Kanz segera mencari cara untuk hadir di dalam acara itu. Dan, di sinilah ia sekarang, berhasil memenuhi keinginan hatinya.
Kanz memutuskan untuk menunggunya Risna di pintu keluar setelah acara berakhir. Berdiri di depan pilar dengan percaya diri.
Berulang kali Kanz merasa gugup untuk menyapa wanita yang sudah ia tunggu dalam waktu lama.
‘TUK. TUK. TUK.’
Suara sepatu terdengar sangat nyaring. Berasal dari ketukan sepatu tinggi milik Risna yang berjalan keluar dari hotel pun terdengar.
Risna muncul dari dalam dan berdiri di depan pintu sembari mengunci tasnya yang terbuka
Semilir angin datang dari arah timur, menerbangkan helaian rambut Risna sampai menutupi wajahnya. Perempuan itu segera menyelipkannya ke balik telinga lalu berpaling ke kanan.
Kanz yang sudah memperhatikannya sejak tadi, tersenyum padanya. Risna mengernyitkan wajahnya, merasa ada keanehan dari pria itu.
Untuk memastikan tujuan senyumnya itu untuk siapa? Risna melihat ke sekeliling, tak ada orang selain dirinya. Sudah dipastikan senyuman itu untuknya.
Kanz, melangkah ke arahnya dan menyapa kaku wanita itu. “H-Hai, Risnamayanti,” ucap Kanz.
Risna mengerutkan alis, bingung karena pria di depannya tau nama lengkapnya.
“Yah, itu namaku.” Risna masih mencari ingatannya akan pria ini. “Apa kita saling kenal?” tanyanya.
Kanz tersenyum sambil mengangguk. “Kau lupa, itu pasti. Kita bertemu sudah lama sekali dulu.”
“Oya? Di mana?”
“Taman Cassandra tepatnya sekitar lima tahun yang lalu.”
Risna tertawa geli sekali. Dia benar-benar tidak ingat pernah mengenal pria ini.
“Haha, maafkan aku, tapi aku tidak ingat.” Risna tersenyum.
“Mmh, wajar. Kamu pasti melupakanku.” Kanz mengangguk pelan dengan senyuman tipis.
‘Itu sudah sangat lama,’ ujar Risan dalam hati. “Ngomong-ngomong, terima kasih ya sudah datang ke acara pameran ini.”
“Ya, sama-sama. Ada waktu? Bisa kita mengobrol bersama?” tanya Kanz.
“Mmh, sepertinya malam ini aku tidak bisa. Mungkin besok, aku ada waktu luang,” jawab Risna.
“Baiklah. Aku akan menemuimu.”
“Ya, datanglah ke perusahaanku di sekitar sini.” Risna memberikan kartu namanya.
Kanz menerimanya lalu mereka bertukar kartu. Risna membaca nama lengkap Kanz. “Kanz Ariq Agam, Direktur dari perusahaan Agam."
Kanz juga melihat bahwa posisi Risna di perusahaan yang tertera dalam kartu namanya adalah seorang pendiri. ‘Wah, dia luar biasa!’ gumamnya dalam hati.