Keesokan harinya, Kanz menepati janjinya untuk mengunjungi Risna di perusahaan berskala sedang miliknya.
Meski belum besar, bagi Kanz ini sudah lebih baik dari dirinya sendiri yang masih bekerja di bawah tekanan orangtua. Menjalankan perusahaan papanya.
Kanz mendatangi meja informasi dan menanyakan tentang Risna. Karyawan nya mengajak Kanz ke suatu ruangan, ketika dibuka pintunya, Kanz melihat Risna sudah menunggu di dalam.
Risna mengulurkan tangannya untuk berjabatan, Kanz menyambutnya dengan cepat.
“Aku senang pada pria yang menepati janjinya dan tepat waktu, bahkan kau lebih cepat lima menit sebelum waktu yang kutetapkan. Yah, tidak masalah, selagi aku tidak terlalu sibuk.”
Kanz tersenyum manis, Risna memperhatikan wajah Kanz yang sangat merayu tersebut.
Rasanya dia memang pernah bertemu dengan Kanz si pemilik senyuman manis. Risna masih meraba ingatannya.
Dulu Kanz memakai kacamata dan sedikit culun, itulah yang membuat Risna tak lagi mengenal Kanz.
Satu lagi, penampilan juga sangat berubah. Si culun yang kaya raya ini sudah merubah gaya menjadi lebih baik.
“Sepertinya aku mengenalmu,” kata Risna.
“Oya?” jawab Kanz menaikkan alis lalu menyempitkan sedikit matanya.
“Hmm, ya, apa dulu kau itu pakai kaca mata?” tanyanya menirukan bentuk dari kacamata di wajahnya sendiri.
Kanz tertawa kecil lalu mengangguk pelan. “Tepat sekali!”
Risna pun tertawa. “Haha, ya Tuhan! Kau pria itu?” perempuan itu tertawa ringan. “Aku tidak bisa mengingatmu karena kau berubah.”
Kanz melihat ke arah tubuhnya. “Ya, segalanya bisa berubah seiring waktu.”
Risna mengangguk. “Okay!”
Pertemuan mereka tidak hanya sebatas hari itu. Purnama berlalu, hubungan semakin baik. Kanz hampir menghabiskan waktunya sebulan di Singapura hanya demi Risna.
Papanya berulang kali memintanya kembali, tapi Kanz menolak dengan alasan punya masalah yang jauh lebih penting dari sebuah mesin pencetak uang yaitu, masalah percintaan.
Hati Kanz telah lama ditangguhkan untuk luluh pada wanita lain sebelum mendapat kepastian dari Risna. Cintanya belum pernah diutarakan pada perempuan itu.
Dan, ketika Kanz menyatakannya tepat di hari ulang tahun Risna, ternyata Risna menerimanya setelah pertemuan kembali itu.
Kanz rela bolak-balik ke luar negeri demi menemui sang kekasih.
“Aku ingin kau menemaniku malam ini, Risna,” pinta Kanz menarik Risna dari keramaian kelab terbaik di negara ini.
“Kenapa?” tanya Risna berpura-pura polos.
“Karena aku merindukanmu dengan sangat.”
Risna tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
“Kau menolaknya?”
Risna mengangguk, alisnya naik dan sudut bibirnya masih tertarik.
Kanz tidak percaya pada ucapannya. Dia menggenggam tangan Risna lalu membawanya keluar dengan paksa. Risna tertawa melihat kelakuan Kanz.
Mereka langsung pulang ke apartemen dan Kanz segera mendaratkan kecupan hangat setelah pintu rumahnya tertutup.
Tiada penolakan dari tubuhnya, Risna mengikuti irama sentuhan lembut dari Kanz.
Pria itu menggendong Risna dan membawanya ke kamar, mematikan lampu dan bermain dengan alunan musik klasik yang disetel Kanz melalui piringan tua koleksi pribadinya yang langka.
Tawa manja itu terdengar menyenangkan dari bibir Risna. Kanz mencintai wanita itu dengan amat dalam.
“Aku mencintaimu, Kanz.” Risna menarik bibirnya dan Kanz segera menyerangnya bertubi-tubi.
Mereka saling menyayangi, menjalani kehidupan dengan indah seperti sepasang kekasih yang paling diidamkan semua pasangan di muka bumi ini. Semua untuk Risna. Apa pun yang diminta oleh wanita itu, Kanz akan memberikannya.
“Apa yang kau inginkan lagi, Sayang?” tanya Kanz.
“Aku menginginkanmu jadi orang yang sukses,” jawab Risna.
“Aku sudah punya banyak harta, suksesku adalah memilikimu.”
Risna menggeleng, menarik hidung Kanz dan mengesun pipinya. “Aku ingin kau bekerja tanpa tekanan orang lain.”
“Maksudmu, aku harus punya usaha sendiri begituu?” tanya Kanz.
Risna mengangguk. Ekspresi imut Risna membuat Kanz tertawa dan langsung memeluknya.
“Baiklah, Permaisuri hatiku. Aku akan mengikuti keinginanmu.”
“Terima kasih, Kanz, sudah mau menerima saranku.”
“Untukmu apa pun akan kuberikan.”
Risna tersenyum bahagia, bersandar lebih lama dalam dekapan Kanz rasanya sangat nyaman.
Ingatan itu masih membekas dalam sampai Kanz susah membuka hati. Baginya semua perempuan itu tidak ada yang sama sepertinya.
Airmata Kanz menetes kala membuka lembaran bersama Risna. Sudutnya menjatuhkan mutiara bening dengan deras.
“Aku merindukanmu, Ris,” ucapnya menyeka ai di pipi lalu mengambil tisu dan mengeringkannya.
Kanz keluar dari kamar mandi kemudian duduk sebentar di sofa. Berharap agar mamanya tidak lagi menjodohkannya pada wanita mana pun.
Sungguh melupakan Risna adalah hal tersulit baginya. Jika di suruh menaklukkan saingan bisnis, tidak susah baginya.
Namun, menghapus Risna dari hatinya sesulit tangan menghancurkan gunung berbatu. Akan membuatmu berdarah dan sakit.
Pria itu akhirnya terjaga hingga pukul 2 pagi kemudian tidur sampai pagi.
Keesokan harinya.
Ketika Kanz sudah selesai mandi, ia menerima pesan dari mamanya.
‘Ingat, bawa wanita pilihanmu ke rumah. Aku ingin melihat dia.’ –Syifa.
Kanz berdecak sedikit. Mulutnya tidak diam dan terus bergerak, mengulum, melipat dan mengerut.
“Apa anak itu bisa di ajak kerjasama ya?” tanya Kanz sembari memikirkan Maira.
Kanz tidak peduli, bagaimana pun dia harus keluar dari perintah jodohan mamanya.
Pria itu segera mengambil baju kaus hitamnya, celana hitam dan jaket liris hitam putih dari lemari gantung.
Ia akan mengenakan pakaian normalnya, tidak bersentuhan dengan setelan jas hari ini.
Kanz menyisir rambutnya, melihat raut wajahnya yang tampan. Ada sedikit bewok, tapi masih sangat tipis. Ia tidak akan mencukurnya saat ini.
“Jika aku mencukurnya sekarang, Maira bisa jatuh hati padaku.” Kanz sangat percaya diri dan segera menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Kanz menyambar jaket di atas tempat tidur, tas kecil yang tergantung dan ponsel yang ada di meja.
Ia berjalan menuju pintu dan segera turun menuju ruang makan.
“Selamat pagi, Tuan. Silahkan dinikmati sarapannya.”
“Mmh, terima kasih.”
Pelayannya meletakkan dua potong roti isi, berikut dengan jus jeruk asli dan vitamin harian untuknya.
Kanz mengunyah sarapannya dengan santai sambil mengecek ponselnya kembali.
Ia ingin melihat kondisi pasar bisnis. Informasi penting yang sering dilihatnya di ponsel adalah berita.
Ting.
Sebuah pesan mendarat ke aplikasi pesan berwarna hijau. Kanz melihat dari status tersimpannya.
“Sayang, kapan ke bar?”
Kanz menggeser pesan itu agar tidak muncul di pemberitahuannya. Pesan dari wanita yang hanya mau hartanya. Kanz muak melihat mereka.
“Tuan, bagaimana sarapannya? Apa ada sesuatu yang kurang?” tanya pelayannya seperti biasa.
“Ya, aku kurang suka dengan sayur hari ini. sedikit layu.”
“Ma-Maaf, Tuan. Lain kali saya akan memperhatikan lebih baik lagi.”
“Ya, lakukanlah tugasmu dengan benar, berikan yang terbaik agar aku tidak sakit.”
“Baik, Tuan. Saya permisi.” Pelayan itu pun menghilang dari pandangan Kanz.
Setelah sarapan, Kanz segera pergi. Ia ingin membeli sesuatu untuk mamanya hari ini sebelum menjemput Maira.
Setengah jam kemudian.
Kanz berada di sebuah toko bunga segar. Ia turun dari mobil lalu masuk ke toko.
Pemiliknya sudah sangat mengenal Kanz. “Hai, Tampanku!” sapanya.
“Hai, Nenek.” Kanz membalasnya pada wanita berumur 55 tahun yang lebih suka dipanggil nenek ketimbang ibu.
“Kau apa kabar? Sudah lama tidak kemari.”
Kanz tersenyum. “Iya, Nek. Aku sibuk.”
“Mmh, apa kau tidak mengunjungi Risna lagi akhir-akhir ini?” tanya nenek itu.
Kanz tersenyum lagi, kali ini sedikit tipis tarikannya. “Belum sempat. Mungkin dalam waktu dekat.”
“Ah, begituu. Jadi kau beli bunga untuk siapa hari ini?” tanya wanita tua itu.
“Untuk mamaku.”
“Baiklah, aku akan merangkaikannya untuk dia.”
“Nek, jangan pakai mawar merah,” kata Kanz mengingatkan.
“Oh, oke, mamamu tidak suka mawar mewah. Aku tidak tahu kenapa, padahal bunga itu idaman banyak wanita.”
Kanz hanya tersenyum saja mendengarnya. Dia juga tidak tahu alasan pastinya, tapi Syifa sangat membenci mawar merah.