Setibanya Aluna dari minimarket, dirinya langsung disambut oleh mama di ruang tamu.
"Lun, mama dapet kabar tante Mala masuk rumah sakit. Mama nunggu kamu pulang dulu, yuk kesana bareng."
"Eh tante Mala kenapa mah?"
"Udah tanyanya nanti aja, kamu siap-siap. Mama tunggu di mobil depan." Ucap mama sambil melenggang pergi.
Karena mama terlihat buru-buru jadi aku hanya meletakan barang yang tadi aku bawa kerja, ngga sempet buat ganti baju. Aku turun langsung menemui mama yang ternyata sudah siap di kursi penumpang.
Aku masuk dan duduk di sebelah mama, supir melajukan mobil ke arah rumah sakit dekat kota.
Sedari tadi mama diam, wajahnya penuh kekhawatiran. Aku maklum karena memang tante Mala dan mama adalah teman dekat, berusaha mengerti perasaan mama akhirnya aku ikut diam.
Sampai akhirnya kami tiba di parkiran rumah sakit, mama langsung bergegas turun dan berlari kecil. Aku hanya mengikuti dibelakang.
Sesampainya di ruangan tante Mala kami masuk, kulihat disana sudah ada Gibran yang duduk anteng disisi ranjang tante Mala.
Saat kami masuk dua pasang mata menatap aku dan mama, mama langsung saja berhambur memeluk tante Mala, aku sendiri memilih duduk di sofa.
Tak kusangka tante Mala memanggilku untuk mendekat, akhirnya aku nurut saja.
Setelah aku mendekat di sisi ranjang tempat tante Mala terbaring dengan Gibran di satu sisi seberang, tante Mala tiba-tiba berkata.
"Aluna, mama punya keinginan buat kamu sama Gibran, mama takut ngga bisa liat Gibran nikah-"
"Mah bicaranya yang bener!"
"Bran dengerin mama dulu."
Aku hanya diam, fokus mendengarkan. Sampai tante Mala melanjutkan apa yang mau dibicarakan.
"Aluna, dokter bilang mama kena penyakit jantung. Mama mau minta sama kamu ya Aluna, tolong nikah sama Gibran Minggu ini. Tante mohon ya Aluna."
Aku terkejut dengan apa yang dibicarakan tante Mala tentang penyakit jantung yang di derita beliau, tapi aku lebih terkejut lagi saat tante Mala memintaku untuk cepat-cepat menikah dengan Gibran.
Aku ingin menolak tapi melihat kondisi tante Mala aku ikut kasihan, rasanya ngga tega saja untuk menolak permintaannya.
Aku lihat Gibran hanya diam, tidak ada tatapan datar,sinis seperti pertama kali aku dan dia bertemu.
Aku sedikit melirik mamaku minta persetujuan, kulihat mama mengangguk dengan senang.
Akhirnya aku putuskan.
"Iya mah, aku sama mas Gibran bakal nikah Minggu ini. Mama Mala ngga usah terlalu mikirin ya, istirahat aja."
Kutatap Gibran yang berada di seberang sisiku, dia hanya menunduk dan diam saja setelah mendengar permintaan mamanya.
Aku menghela nafas pelan, hari ini hari Jumat. Berarti aku dan Gibran akan melangsungkan pernikahan dua hari lagi, aku hanya bisa berdoa semoga keputusanku kali ini benar.
Kulihat mama bahagia banget, denger aku mau menikah dengan anak temannya itu.
"Mal, aku mau ngabarin suamiku dulu ya. Biar bisa nyiapin pernikahan Aluna sama Gibran, keluar dulu ya bentar mau telfon. Lun kamu sini dulu ikut temenin ya, mama bentar kok."
"Iya Nar, sana deh. Aluna sama aku aja sini." Sahut tante Mala.
Aku hanya tersenyum canggung, sebenarnya aku juga ingin ikut keluar tapi ngga enak juga udah denger tante Mala nyuruh aku disini.
Kecanggungan ku perlahan menghilang, sedari tadi tante Mala asik mengajakku mengobrol.
Sampai lupa kalau mamaku sudah terlalu lama keluar dan ngga balik-balik, dan juga diam nya Gibran sedari tadi.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuatku mengalihkan pandangan ke arah pintu, muncul pria paruh baya seumuran papahku.
"Eh rame ini." Ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah kami.
Kulihat tante Mala tersenyum, aku tebak pria paruh baya yang sekarang sudah ada di samping ranjang tante Mala ini adalah suaminya.
Takut dikira ngga sopan, akhirnya aku menyapa.
"Om." Ucapku sambil mengulurkan tangan meminta salim.
Kulihat suami tante Mala atau papanya Gibran sedikit terkejut melihat tindakanku, hanya sebentar setelah itu beliau tersenyum ramah sambil menerima uluran tanganku.
"Eh, kamu Aluna ya."
"Iya om."
Tiba tiba tante Mala berucap. "Kok panggil om sih Aluna, panggil papah aja. Biar nanti terbiasa lo." Katanya.
"Bener Aluna, jangan sungkan." Sahut papa Gibran.
"Eh iya pah."
"Panggil papa Max aja ya biar ngga keliru sama papahmu." Ucapnya sambil terkekeh.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.