Prangg
Seketika aku menoleh kearah suara, mataku membelalak melihat siapa yang ada di depan sana.
"M-mah."
"Mah a-aku bisa jelasin mah."
Dengan cepat aku menyingkirkan Laura, berjalan cepat ke arah mama.
Tapi sebelum aku sampai dihadapan mama, mama sudah terlebih dahulu limbung.
"Mahh! Mah bangun mah."
Berlari menuju meja kerja, aku menelepon sekertaris ku memintanya memanggil ambulance secepatnya.
Tak lama para petugas ambulance datang membawa mama ke bawah, aku mengikuti dibelakang meninggalkan Laura begitu saja yang dari awal masih diam ditempat.
***
Ditempat lain, Aluna sedang berada di salah satu minimarket arah jalan pulang kerumah. Mengingat di butik tidak ada jadwal pertemuan dengan clien jadi Aluna titipkan butik ke Ani saja.
Aluna membeli beberapa minuman botol untuk stok dirumah dan butik, Aluna sangat suka minuman botol apapun itu yang penting ada rasanya.
Melihat salah satu minuman favoritnya tinggal beberapa botol, lantas Aluna dengan cepat memasukannya ke keranjang yang ia bawa.
Tinggal lima botol di lemari pendingin minuman yang Aluna inginkan, sudah botol ke empat dirinya memasukan minuman tersebut ke keranjangnya, sisa satu botol lagi sebelum tiba-tiba botolnya sudah direbut oleh orang lain.
Menoleh ke samping dengan garang, bersiap menyumpah serapahi sang pelaku. Tapi sedetik kemudian dirinya dibuat diam, ternyata pelaku yang menyerobot minuman yang akan aku ambil adalah Bara.
Iya Bara, clienku yang jadwalnya akan bertemu denganku Minggu depan untuk membahas desain baju.
Berusaha bersikap profesional walaupun ati udah dongkol, tapi dengan santainya orang yang ada di depanku berkata.
"Eh hai Aluna, lagi ngapain?"
"Eh pak bara, lagi beli minum nih. Bapak lagi ngapain?" Ucapku sambil tersenyum setengah tulus.
"Lagi ambil minum nih hehe." Ucapnya sambil cengar-cengir gajelas.
"Anu tapi pak anu itu, maaf itu minuman mau saya ambil pak."
"Eh tapi udah saya ambil dulu Aluna, kamu juga udah dapet 4 botol jangan serakah. Saya duluan ya Alunaaaa." Ucapnya sambil melenggang pergi.
Aku tersenyum tidak sampai mata mengiringi kepergian Bara, setelah tak terlihat Aluna langsung mendatarkan wajahnya. Rasanya ingin sekali membanting keranjang yang dibawanya, tapi sayang ada minuman favoritnya. Takut pecah.
Karena mood yang sudah rusak, mungkin lagi masa pms jadi moodku gampang rusak. Rencananya aku mau membeli banyak snack dan minuman untuk stok akhirnya aku skip.
Hanya membeli beberapa minuman, aku langsung menuju kasir dan membayar. Menuju rumah bersiap mandi dan rebahan.
***
Beralih ke Bara, yang sedang memakirkan mobilnya di depan minimarket.
Masuk ke minimarket membeli beberapa rokok yang kebetulan sudah habis stoknya, sebelum menuju kasir yang berisi beberapa merk rokok, secara tidak sengaja dirinya melihat siluet seseorang yang agak familiar berada di depan lemari pendingin sambil senyam-senyum tidak jelas.
Setelah memperhatikan cukup lama akhirnya dirinya tau siapa perempuan itu, lantas senyum jahil muncul diwajahnya yang biasanya hanya menampilkan raut datar.
Mendekati Aluna, Bara dengan cepat menyerobot salah satu minuman yang mungkin akan Aluna ambil.
Menahan senyum, Bara menunggu respon lucu dari gadis didepannya.
Kulihat wajahnya yang garang menoleh ke arahku, yang sialnya malah terlihat imut dimataku.
Tapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah terkejut dan tersenyum tidak ikhlas, sangat menggemaskan.
Rasanya aku ingin cepat-cepat membawanya ke kamarku, dan menerkamnya.
Aku sedikit menggelengkan kepala setelah menyadari apa yang aku pikirkan.
Melihat raut gadis didepannya yang tersenyum terus-menerus, lain hal dengan gadis lain yang tersenyum menggoda, gadis di depannya ini malah menunjukan senyum yang tampak jengah melihatku.
Sambil berusaha menahan tawa geli, aku lantas bertanya.
"Eh hai Aluna, lagi ngapain?"
"Eh pak bara, lagi beli minum nih. Bapak lagi ngapain?" Ucapnya sambil tersenyum setengah tulus.
"Lagi ambil minum nih hehe."
"Anu tapi pak anu itu, maaf itu minuman mau saya ambil pak."
"Eh tapi udah saya ambil dulu Aluna, kamu juga udah dapet 4 botol jangan serakah. Saya duluan ya Alunaaaa." Ucapku sambil melenggang pergi dari hadapannya.
Ingin rasanya berlama-lama dekat dengannya, tapi aku sudah tidak kuat menahan tawa geli melihat wajahnya yang menggemaskan.
'Jadi ngga sabar aku bawa kamar.' Batin Bara.