Aku terus menggerutu sepanjang jalan menuju butik, mengingat tadi dengan entengnya Gibran mengatakan akan menceraikanku setelah kita menikah satu tahun dan dirinya lanjut akan menikahi pacarnya itu.
"Kalo udah punya pacar kenapa terima pas tante Mala nanya mau apa ngga nya."
"Dasar semua laki sama aja."
"Ditanyain ada pasangan diem aja, pas gue udah gas eh dianya udah ada yang punya."
"Gimana sih, belum apa-apa udah disakitin duluan."
Kok bisa ya dia bicara kaya ngga ada rasa bersalahnya, kaya ngga mikirin perasaan aku, walaupun cuma baru ketemu satu hari tapi aku ini calon istrinya loh.
"Bisa-bisanya dia abis kawin sama cewe lain dikantor."
"Arghhh."
Dengan cepat aku menuju ke butik ku, berharap bisa melupakan kejadian yang membuat mood ku buruk.
Sesampainya diparkiran butik, aku turun. Mataku tak sengaja melirik plastik kresek bertuliskan restoran Jepang, sushi yang aku bawa pulang tadi.
Kusambar sushi dan kubuang ke tempat sampah depan butik.
Melangkah masuk seraya mendekati Ani. "Ani apa ada clien untuk bertemu lagi denganku hari ini?"
"Tidak ada bu, jadwal anda hanya dengan pak Bara tadi."
"Baiklah." Ucapku seraya mengangguk paham dan berjalan menuju ruanganku.
Mendengar nama Bara aku jadi teringat pria menyebalkan itu, Minggu depan aku ada pertemuan lagi dengannya.
Mengingatnya aku jadi segera membuat desain yang mungkin menarik untuk aku tunjukan padanya.
***
Disisi lain Gibran menatap kosong sosok Aluna yang menghilang dari pandangannya setelah keluar dari ruangan.
Memang dirinya salah, memiliki kekasih tapi menerima perjodohan dengan wanita lain.
Tapi memang saat dirinya dibawa kerumah Aluna oleh mamanya, Gibran memang masih sendiri dan tidak memiliki pasangan atau wanita lain yang dekat dengannya. Itulah sebab mamanya ingin menjodohkan dengan anak teman-teman mamanya.
Tapi siapa sangka, Laura mantan kekasihnya sejak 2 tahun yang lalu, entah mantan atau memang masih sepasang kekasih. Karena saat itu Laura tiba-tiba pergi menghilang entah kemana saat dirinya akan berniat memperkenalkannya dengan keluarga, aku syok berat dan susah menerima semuanya. Aku yang sudah terlanjur cinta dengan Laura tidak bisa melupakannya begitu saja, bahkan mungkin sampai sekarang.
Laura dengan tiba-tiba kekantorku kemarin dan langsung memeluku, dia menagih janjiku untuk memperkenalkannya ke keluargaku. Aku yang saat itu sudah menjadi calon suami orang lain pun dengan rasa bersalahnya menceritakan semuanya.
Aku kira Laura akan mundur, tapi hal lain yang Laura katakan membuatku terkejut.
Laura memintaku untuk menceraikan nya setelah menikah, dan memintaku untuk menikahinya. Awalnya aku tidak mau tapi melihat wajah memelas dan penjelasannya karena telah menghilang 2 tahun lalu membuat hatiku iba dan menyetujui nya.
Disini ruangan kantor, aku dan Laura berada. Entah bagaimana cerita tiba-tiba aku dan Laura sudah berciuman diatas sofa, aku yang awalnya sudah terbawa nafsu seketika sadar akan apa yang aku perbuat setelah mendengar dering telepon.
Dengan berakhir datangnya Aluna tadi yang membawa makan siang untukku tapi dibawa pulang lagi olehnya.
"Mas."
Aku menoleh ke asal suara, itu suara Laura memanggilku. Seketika aku langsung sadar dari lamunanku, pikiranku kosong semenjak Aluna pergi tadi.
Dengan lancang Laura menyentuh dadaku dengan gerakan sensual, hari ini setelah kedua kalinya Laura datang kekantorku.
Laura memakai rok span setengah paha memamerkan paha jenjang putihnya yang mulus dan blouse kerah warna nude pressbody dengan dua kancing yang sepertinya sengaja dibuka.
Laura memakai pakaian kantor tapi bukan karena Laura bekerja ditempatku atau tempat lain, aku juga kurang tau alasan Laura memakai pakaian seperti itu tapi aku tidak terlalu memikirkan.
Melihat Laura yang sudah mendekat ke arahku dengan posisi membungkuk karena aku memang sedang duduk, masih sambil membelai dadaku dilanjutkan dengan duduk di pangkuanku.
Laura membuka dua kancing kemeja atasku dan memasukan tangan kedalam dadaku, membelai membuat bawah menegang.
Tidak sampai disitu, Laura kembali dengan aksinya. Mengelus rahangku dan meletakan wajahnya di antara ceruk leherku, mengecup ringan dan berlanjut dengan hisapan-hisapan kuat yang membuatku mengerang.
"Emmm Lau." Desahku dengan suara serak.
Aku tidak tahan lagi, kesadaran ku sudah hilang. Dengan cepat kutarik tengkuknya dan mencium bibir Laura dengan rakus.
"Ahh mas."
Kudengar Laura melenguh, membuatku semakin ingin berbuat lebih.
Kupagut bibirnya lebih dalam lagi, lidahku dan lidahnya bermain dengan lincah. Tanganku tidak tinggal diam, membelai pinggang dan naik keatas. Menemukan gundukan yang cukup besar, meremas pelan.
"Ahh mas emm."
Kugapai kancing kemeja Laura, melepaskan semua kancing tersisa satu paling bawah. Belum selesai membuka kancing terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Aku yang memang kesadarannya sudah tiada, tidak menggubris. Kuremas keras d**a Laura hingga dirinya memekik kenikmatan.
"Ahh pelan sayang."
Laura mendesah dan kuliat tangannya menuju ke bawah perutku, mengelus pelan membuatku mengerang nikmat.
"Lau mmh lau."
Prangg
Seketika aku menoleh kearah suara, mataku membelalak melihat apa yang ada di depan sana.