Seorang pria dan wanita yang masih b******u panas diatas kursi kerja terganggu dengan bunyi telefon tiba-tiba.
Dirinya cukup terkejut mendapati calon istrinya datang ke kantor, dengan adanya seorang wanita diruangannya entah mengapa Gibran merasa gelisah tiba-tiba.
Karena takut dianggap tidak sopan dan mendapat amukan mamanya, akhirnya dia mengatakan agar Aluna suruh keruangannya saja.
Ditatapnya wanita yang masih menunggunya selesai bicara di telepon, Laura kekasihnya duduk diatas pangkuannya memajukan wajahnya seperti berniat melanjutkan kegiatan panas tadi yang tertunda.
Aku yang belum sempat menghindar mendengar seseorang mengetuk pintu ruanganku dari luar, tahu siapa yang mengetuk akhirnya kusuruh masuk.
Meminta agar Laura turun dari pangkuan terlebih dahulu, tetapi wanita tersebut agaknya tidak mau. Aku yang takut dirinya marah lagi akhirnya menyerah.
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan dress simple putih dan hitam, wajahnya yang ayu seakan dapat menghipnotis kapan saja.
"Ah aku ternyata cukup menganggu ya?" Ucapan sakartis berhasil membuatku sadar akan situasi.
"A-aluna duduk." Ucapku sambil menyuruh Laura turun.
"Siapa sih mas?" Tanya Laura yang akhirnya mau turun dari pangkuanku.
Aku yang hendak menjawab pertanyaan Laura tertunda karena suara lain.
"Mas?"
"Maaf lun, ini Laura kekasihku. Lau ini Aluna."
Kulihat Aluna cukup terkejut sesaat tapi kemudian wajahnya langsung berubah biasa-biasa saja.
Entah kenapa aku takut dengan ekspresi Luna yang biasa-biasa saja, padahal aku dan Luna baru bertemu satu hari.
Tapi pikiranku teralihkan saat tanganku di usap pelan oleh kekasihku yang tak lain yaitu Laura, aku menoleh dan mendapatinya berkata "Mas, dia yang dijodohin sama kamu kan mas? Mas jelasin aja sekarang sama dia."
Benar, aku memang sudah merencanakan dengan Laura, bahwa aku akan menceraikan Aluna secepatnya dan setelahnya dirinya akan menikahi Laura.
Aku cukup beruntung memiliki Laura yang mau menungguku cerai dengan Aluna.
Karena Aluna tepat berada disini dan ada Laura, akhirnya aku berencana mengajukan semua tujuanku untuk menceraikan nya berharap Aluna juga akan setuju sehingga mempermudah dia agar cepat menikahi kekasihnya.
"Kebetulan kamu kesini, ada yang mau saya bicarakan."
Kulihat Aluna mengangguk dan tanpa kusuruh dirinya duduk di sofa yang cukup jauh dari keberadanku dan Laura.
"Silahkan."
"Saya ingin kita bercerai setelah kita satu tahun menikah. karena saya akan menikahi wanita yang saya cintai, Laura. Saya harap kamu bisa mengerti keadaanku dengan Laura."
Jawaban dari apa yang keluar dari mulut Aluna ternyata cukup membuatku terkejut.
"Apa untungnya untukku, jikalau aku mengikuti perintahmu? Dan apa ruginya untukku, jikalau aku tidak mengikuti perintahmu?"
"Ah, apapun yang kamu inginkan."
"Begitu?"
"Ya."
"Oke deal."
"Ya?"
"Deal pak Gibran, untuk permintaan nanti saya akan minta setelah semuanya selesai."
"O-oke."
"Oiya ini pak, ini saya dipaksa mama bawa makan siang buat bapak, tapi ternyata bapak sudah makan toh. Yasudah saya bawa pulang lagi ya pak, mari pak Gibran, bu Laura."
Aku terbengong dengan sikapnya, cukup terkejut dengan perubahan gaya bicaranya kepadaku dalam waktu singkat.
Apa aku salah mengajukan permintaan cerai setelah satu tahun menikah dengannya? Aku juga ingin bahagia, ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai saja.
Melihat Laura yang tampak bahagia mendengar keputusan yang Aluna buat, membuatku ikut bahagia.
Berterimakasih karena Aluna mau bekerja sama agar dirinya bisa segera menikahi Laura, walaupun dengan sedikit permintaan. Tapi semua itu tidak masalah selama dirinya bisa melihat Laura tersenyum bahagia.
Semoga keputusanku ini benar.