Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, Aluna bergegas bangun dan bersiap diri.
Setelah dipikirkan secara matang-matang, antara iya atau tidaknya mengantarkan makanan untuk Gibran, akhirnya Aluna memilih untuk mengantarkannya saja. Sekalian pengenalan dan pendekatan juga biar mama ngga rewel pastinya.
Karena dirinya yang diharuskan mengurus butik dahulu, Aluna memilih untuk membeli makan siang saja. Takut jadi ngga enak rasanya kalau bikin makanan sekarang.
Setelah bersiap-siap, Aluna sekarang sudah memakai dress putih polos sepanjang lutut dengan lengan pendek dan luaran hitam, rambutnya yang lurus digerai bebas dengan jepit rambut di sebelah kiri atas telinga, cukup memakai skincare dan pewarna bibir, Aluna tampil memukau walau hanya berangkat kerja.
Turun menuju ruang makan, Aluna menemukan mamanya yang sedang memakan sarapannya.
"Mah, aku mau roti aja ya."
Mendengar suaraku mama menoleh dan berkata. "Nasi ini lun."
"Keburu ah jamnya, dah ma."
Mengambil roti yang sudah di olesi selai, Aluna berlari kecil setelah pamit berangkat kerja tanpa menunggu jawaban sang mama.
Sesampainya di butik, aku langsung disapa oleh salah satu karyawan kepercayaanku, Ani namanya.
"Permisi bu Aluna tadi ada pelanggan datang, mau buat seragaman acara nikahan, datang lagi buat diskusi desain jam 10 nanti bu."
"Oke Ani, Terimakasih."
Karyawanku pun balas mengangguk sopan dan undur diri, memang aku cukup sulit dekat dengan beberapa orang. Jadi bukan hal yang mengejutkan kalau karyawan-karyawanku menggunakan bahasa yang kaku.
Aku memasuki ruangan, duduk dan langsung mengecek beberapa desain sesekali membuat yang baru.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk."
"Permisi bu, clien sudah datang."
"Okey Ani, suruh masuk."
"Baik bu."
Setelahnya Ani datang bersama seorang pria dibelakang nya, aku yang sedang menunduk membereskan buku-buku desainku yang sedikit berantakan tidak melihat wajah pria yang dimaksudkan Ani adalah clienku.
Beres membersihkan buku-buku, aku mendongkak. Seketika pandanganku bersitatap dengan pria didepan, mataku melotot tidak percaya.
Pria di depanku saat ini adalah pria yang sama, pria yang sama yang mencegat mobilku di jalan pintas malam hari dan dengan tidak tahu malunya malah jambak-jambakan.
"Dunia sempit eh?"
Kata-kata mutiara yang sempat akan keluar dari mulutku tertahan, mengusahakan tetap profesional aku dengan sopan berkata sambil tersenyum yang tidak sampai mata.
"Silahkan bapak, duduk."
Pria di depanku langsung duduk, Ani langsung undur diri.
Melihat Ani sudah keluar ruangan, seketika wajahku langsung berubah keruh.
"Ck." Decakan keras keluar dari bibirku.
"Hei saya clienmu, tolong sopan." Ucapnya sambil menaikan sebelah sudut bibirnya.
Menghela nafas, Aluna mengalah. "Oke saya minta maaf, sebelum memulai diskusi saya minta untuk perkenalan dan data dulu ya pak biar nanti makin gampang buat komunikasi juga."
"Oke Aluna, kalo kamu belum kenal saya, saya perkenalkan diri. Saya Airlangga albara livian, panggil saya Bara tidak usah pakai bapak. Ini kartu nama saya."
Aku cukup terkejut pria didepanku alias Bara Bara ini mengatahui namaku, padahal aku dan bara baru bertemu satu kali itu pun kecelakaan.
Meski begitu aku tetap melanjutkan diskusi tentang desain seragaman yang ternyata untuk keluarganya. Berbagai model sudah aku perlihatkan, tapi seperti disengaja, Bara langsung protes dan meminta ganti terus menerus sampai desain modelku habis dan belum ada satupun yang cocok.
Akhirnya Bara meminta bertemu kembali untuk berdiskusi di kantornya, dengan memintaku membuatkan desain yang lain. Aku yang berusaha profesional dan sabar pun mengangguk setuju.
Sudah waktunya makan siang, aku bergegas keluar dan pamit ke Ani titip butik selama aku pergi.
Menuju salah satu restoran Jepang, aku membeli sushi untuk makan siang calon suamiku. Calon suami ya?
Sudah mendapatkan sushi, aku langsung menuju ke tempat kerja Gibran.
Sesampainya di sana, aku langsung masuk ke lobi perusahaan dengan langkah santai dan agak gugup. Kulirik pergelangan tanganku yang ternyata sudah lewat waktu istirahat.
Aku langsung menuju ke meja resepsionis dan langsung disambut sapaan dan senyum ramah.
"Saya ingin keruangan Gib- eh maksud saya pak Gibran. Ruangan pak Gibran."
"Apa anda sudah ada janji, Bu?"
Aku jadi bingung mau menjawab apa, mau menghubungi tapi aku gaada kontaknya sama sekali, aku datang juga kemauanku sendiri. Aku berdehem saat mbak resepsionis sedang menunggu jawabanku. "Apa bisa dihubungi saja ya mbak? bilang Aluna datang?"
Mbak resepsionis tersebut mengangguk dan setelahnya nampak sedang menelfon seseorang.
"Baik bu Aluna, silahkan naik ke lantai dua nanti belok kanan ruangan ke tiga sebelah kanan itu ruangan pak Gibran. "
"Terimakasih."
Aku langsung berjalan mengikuti petunjuk dari mbak resepsionis tadi, jantungku mendadak bertingkah. Gugup menyerang ku, kutarik nafas dan kehembuskan perlahan sebelum mengetuk pintu.
Kudengar dari dalam ruangan menyuruhku masuk, dengan ragu aku pun membukanya.
Hal yang pertama aku lihat adalah pria yang duduk dengan setelan kemeja dan celana bahan yang sudah tampak kusut, serta rambut acak-acakan. Dan yang membuatku kaget dan syok adalah keberadaan seorang wanita dengan pakaian kantor diatas pangkuannya menatapku kaget.