Aluna POV
Sekarang aku sedang membantu mama di dapur yang katanya akan ada teman mama bertamu untuk makan malam bersama, suara berisik perabotan di dapur menemani kegiatan kami.
Sudah lewat satu hari semenjak kejadian kemarin, kejadian dimana aku menjambak seorang pria yang mencegat mobilku untuk meminta bantuan tapi dengan kurang ajarnya merampas ponselku seenak jidat.
Menjambak adalah salah satu reflek buat aku, memang kadang aku sering main tangan. Saat ketawa pun main tangan, kadang kalau lagi ketawa ngga nabok orang di samping tuh rasanya kurang pas gitu.
Karena emosi yang tiba tiba dengan kelancangan nya, otomatis tanganku menarik rambut pria kemarin yang sayangnya sangat lembut huhu.
Siapa sangka kalau responnya malah balas menjambak ku, berakhir dengan kami yang saling jambak-jambakan di tengah jalan malam-malam.
Dengan brutal aku menjambak rambutnya sampai ada beberapa helai yang sudah menempel di tanganku, aku belum mau berhenti, tapi tiba-tiba dia berkata.
"Lepas atau saya telefon polisi, bilang kalau kamu melecehkan saya."
"Telefon aja sana, mana ada hp lu. Kesini aja minjem." Cibirku.
"Saya ada hp." Balas pria tersebut yang dengan santai menunjukan ponselku yang tadi direbut paksa.
Mataku melotot, berusaha ku gapai ponselku yang ada di genggamannya yang sialnya dijunjung tinggi agar aku tidak dapat menjangkaunya.
Dan berlanjut berebut ponsel sampai akhirnya aku diancam lagi dan berakhir aku mengantar pria b******n itu kerumah.
Mengingatnya aku jadi kesel sendiri, pertama liat emang kagum tapi pas udah ngerti sifatnya malah kesel. Aku tarik deh kata-kata ku yang kemarin memuja-muja bagai melihat Jaemin.
"Lun, sup udah mendidih tuh angkat cepet takut nanti kentangnya lembek." Ucap mama yang baru datang entah darimana tiba-tiba.
Terlalu lama melamun sampai lupa aku sedang memasak sup untuk tamu mama nanti malam.
Mengangguk untuk menjawab perintah mama, sambil mengangkat panci berisi sup yang tadi ku buat, menuangkannya ke mangkok besar dan selesai.
Masaknya bukan cuma sup kok, ada ayam rempah, gurame bakar, dessert juga ada buatan mama oreo lumer. Aku cuma bantu buat sup aja yang aku bisa, kalo bantu yang lain nanti bukannya jadi ngebantu malah nyusahin.
Kepalaku mendongkak guna melihat jam yang letaknya 1 meter diatas televisi sebrang dapur, ternyata sudah jam 6 lewat sepuluh.
Ku seret kakiku menuju ruang televisi, menggapai remote lalu menekan tombol power. Seketika layar yang tadinya gelap kini muncul gambar dua ekor makhluk berkepala plontos, merenggangkan otot-ototku sebentar dan merebahkan diri di sofa depan TV.
Lain dengan halnya, mama yang sedang mencuci perabotan yang tadinya kami pakai untuk memasak dibantu bi Siti ART dirumah ini.
Cekikikan sendiri menonton adegan di depanku, tiba-tiba terdengar teriakan mama dari arah dapur. Menyuruhku agar segera mandi dan berdandan.
Ku balas anggukan malas, badanku juga bau bawang jadi aku ingin mandi sekarang, setelah itu bersiap untuk makan malam.
Mematikan TV terlebih dahulu, disusul dengan langkahku menuju tangga arah kamarku di lantai dua.
Setelah mandi, mataku seketika melirik adanya gaun salem yang sudah tergeletak di atas kasurku. Desain sederhana namun terkesan lembut dengan bawaan warnanya.
Aku tidak tau sespesial apa makan malam kali ini, sampai-sampai mama menyiapkan gaun dan menyuruhku berdandan.
Kukenakan gaun sederhana tersebut, lalu menuju meja rias guna memoles wajahku. Tipis-tipis saja, karena memang aku sudah pakai skincare yang bentukannya sudah mirip foundation. Aku cukup menggunakan blush on agar tidak terlalu pucat mengingat kulitku yang terlalu putih, lanjut bibir aku memakaikan creamy tint warna merah muda lalu aku timpa dengan lip tint bewarna merah darah di dalam bibir, ku tap-tap lalu aku aplikasikan juga lip gloss agar terlihat glossy. Untuk alis aku ngga perlu karna emang alisku udah lebat dan ngebentuk, cukup blush on dan pewarna bibir saja.
Perihal rambut, aku memilih untuk menggulungnya. Meninggalkan anak rambut di 2 sisi dekat telinga, simple but elegan.
Setelah dirasa cukup, aku lantas keluar kamar menuju tempat makan malam berada. Disana aku melihat mama yang juga sudah berdandan dan memakai gaun, pikiranku mulai berkelana menarik prasangka-prasangka yang mungkin saja akan terjadi.
Mama baru saja hendak mendekat padaku, sebelum bel pintu rumah kami berbunyi.
"Eh, sepertinya udah datang teman mama. Biar aku yang bukain pintunya."
Baru ingin melangkah, mama sudah mencegahku. Tangan mama kemudian menuju ke helaian rambutku dan sedikit merapikan disana, aku mengernyit heran.
"Kamu duduk aja sana, tunggu di ruang makan. Mama buka pintu dulu."
Aku menurut saja, sementara mama sudah berjalan menuju pintu. Setelah beberapa menit kudengar samar samar ucapan mama kian mendekat ke telinga.
"Ganteng banget anak kamu, mal."
"Iyanih, tapi percuma ganteng kalo belum dapet pasangan kan."
Kudengar mama terkekeh, setelahnya aku melihat ada 2 orang berjalan ke arahku yang salah satunya adalah mamaku, mungkin satunya lagi temannya.
Kusambut dengan senyuman manis yang dibalas senyum lembut dari teman mama, berusaha membuat image baik. Walaupun aslinya ngga gitu sih.
Aku yang tadinya sudah berdiri untuk menyambut mama dan temannya, beranjak akan duduk lagi sebelum pandanganku tertoleh ke arah seseorang lain yang berjalan ke arah kami.
JANGAN LUPA VOTE