Aku yang tadinya sudah berdiri untuk menyambut mama dan temannya, beranjak akan duduk lagi sebelum pandanganku tertoleh ke arah seseorang lain yang berjalan ke arah kami.
Seseorang yang berjalan tersebut tidak lain seorang pria, sebagian besar tebakan kalian mungkin salah. Karena yang sudah ada di depanku sekarang ini bukan pria yang tempo hari main jambak-jambakan denganku, ini orang berbeda tapi sama-sama tampan. Mungkin bedanya yang ini agak pendiam atau dingin lebih tepatnya, muka juga datar banget.
Beda banget sama yang tempo hari, walaupun bicaranya 'saya-kamu' tapi orangnya ngga sekaku gaya bicaranya, kalo dibandingkan dengan yang ada di depanku sekarang mungkin seperti siang dan malam. Yang satu sehangat mentari, yang satu sedingin malam.
"Yuk mal duduk, Gibran juga duduk nak."
Suara mama membuyarkan lamunanku, kutatap mama penuh tanya yang hanya dibalas senyuman penuh arti.
Di depanku, teman mama dan mungkin anaknya itu duduk. Ya anaknya masa iya suaminya.
Tiba-tiba teman mama yang aku ketahui kerap dipanggil mal-mal oleh mama itu menoleh ke arahku, memandangiku dengan senyum hangat yang aku balas senyum juga.
"Aluna, ini tante yang dulu rumahnya di depan rumahmu ini. Tapi dulu sempet pindah, kamu kayanya masih SD waktu itu sekarang udah gede aja ya. Masih inget tante ngga nih?"
"Eh, anu lupa tante." Ucapku sambil nyengir ngga jelas.
"Sorry tante." Buru-buru aku menambahkan karena merasa tidak enak.
"Santai Aluna, kaya sama siapa aja. Dulu kamu sering banget main loh sama Gibran, sempet juga panggil tante mama. Masa sekarang ketemu malah sungkan gini." Ucapnya.
Sontak aku lirik pria yang sedari tadi hanya diam, yang kini kuketahui bernama Gibran. Pria tersebut membalas tatapan mataku dengan muka datar, aku berusaha menyapa dengan tersenyum tapi malah dibalas dengusan keras.
Tante meringis sambil berkata kepadaku. "Sorry Aluna, Gibran emang sekarang gitu. Oiya, tante namanya tante Mala disamping tante ini anak tante namanya Gibran."
Kulihat Gibran yang hanya menatapku dengan pandangan jengah, aku terheran-heran emang aku salah apa ya kak? atau kita pernah saling kenal?
Mama bersuara berusaha mencairkan suasana yang agak canggung ini, dengan aku sebagai tumbal.
"Aluna emang gitu mal, masih muda udah pikun. Eh, ngga muda lagi si udah 27 tapi belum ada pasangan."
"Jangan gitu nar, anak aku juga masih sendiri nih."
Waduh, bau-baunya ngga enak nih.
"Nak Gibran, ini anak tante namanya Aluna."
Kulihat tante Mala menyikut lengan anaknya. Dengan malas, Gibran mengulurkan tangan kepadaku yang kusambut dengan baik.
"Gibran Pradipta, Gibran."
"Aluna Abigail, Aluna." Ucapku ikut memperkenalkan diri dengan singkat.
Setelah acara perkenalan singkat, kami lanjutkan dengan makan malam bersama, perihal papaku dia emang jarang pulang karena beliau bekerja di sebuah rumah sakit negara tetangga, Singapura.
Papaku bukan seorang Dokter, melainkan Apoteker. Papa juga sudah membangun beberapa Apotek di sini yang baru memiliki 5 cabang di daerah terdekat pusat, Apotek diurus oleh orang kepercayaan papa.
Kalau tentang papa Gibran aku kurang tau, karena sedari tadi obrolan saat makan cuma membahas tentang aku dan Gibran.
Dengan perbandingan yang jauh. Kalau tante Mala selalu memuji anaknya layaknya penjual mempromosikan barang, lain halnya dengan mama yang menceritakan aku seperti membongkar aib. Mulai dari aku yang suka mendengkur, melamun, ngga bisa masak daging, tidak bisa bangun pagi, berangkat kerja semaunya dan keburukan-keburukan yang lain.
Si Gibran itu ternyata bekerja di industri pertambangan. Dia kerja di perusahaan milik keluarga sebagai direktur utama. Perusahaan Pradipta yang ternyata di pimpin oleh Gibran sendiri. Berbeda denganku yang usianya masih 27 tahun, ternyata si Gibran itu sudah menginjak 29 tahun, lebih tua 2 tahun dariku tapi aku pantang memanggilnya 'mas.
Mengingat respon-responnya kepadaku dari awal masuk ruang makan sampai sekarang, membuatku kesal setengah mati. Amit-amit deh kalau punya suami model kaya begini, kenyang makan hati.
"Aluna, Tante kesini bertujuan untuk merencanakan perjodohan kalian berdua. Disini tante mau tanya dulu sama kamu terus Gibran, tante tanya setuju atau ngga. Tante sama mama kamu ngga bakal maksa kalau emang kalian udah ada pasangan sendiri-sendiri, tapi jangan salahin mama sama tante kalau kalian belum ada pasangan ngga ada alasan buat nolak perjodohan ini." Ucap mama Gibran panjang lebar.
What the f**k.
Kutatap Gibran, dalam keadaan begini pun mukanya tetap datar.
Berkebalikan denganku, yang tentu jelas terkejut. Aku cukup kecewa sama mama, dengan tiba-tiba mama ngga bicara apapun terlebih dahulu sama aku, sekiranya kode-kode kek biar ngga jantungan gini. Tapi aku ngga sampai meninggalkan ruang makan, aku ngga selebay itu.
Akhirnya aku berkata dengan tegas sambil menatap Gibran lekat-lekat. "Akuu-
JANGAN LUPA VOTE