Hari ke-70 berlalu dengan dua pekerjaan yang sama-sama belum selesai. Nomad memeriksa log, sementara Kesatuan menyusun jawaban atas komentar warga. Aku bangun sebelum sirene pergantian giliran, lalu duduk di tepi ranjang cukup lama untuk memastikan kepalaku tidak berputar. Siluet biru di ambang pintu bergerak ketika Jayen masuk membawa dua cangkir air.
'Belum ada laporan tertulis?' tanyaku.
'Belum. Nomad minta satu jam lagi untuk mencocokkan versi perangkat.'
Aku mengangguk. Tidak ada gunanya mendesak hasil yang belum diperiksa. Namun, kru yang menunggu juga berhak tahu apa yang sedang dilakukan. Kami menempelkan jadwal kerja Nomad di papan: log mentah, perbandingan waktu, pemeriksaan pesan terlambat, lalu laporan. Tak ada tanggal persetujuan yang dicantumkan.
Pukul sepuluh, Yoon An mengajak aku ke ruang kontrol. Nomad menunjukkan dua rekaman. Satu mencatat pesan konfirmasi pada detik yang benar, satu lagi menampilkan keterlambatan setelah sistem menyelaraskan ulang waktu. Belum jelas apakah keterlambatan itu berasal dari terminal atau cara ekspor log. Ia tidak menyebutnya kegagalan, tetapi juga tidak mau menghapusnya sebagai kesalahan tampilan.
'Kita bisa mengulang di simulasi tanpa beban,' katanya. 'Tapi sebelum itu, aku ingin tahu persis apa yang direkam.'
'Apakah pengulangan tersebut akan mengubah status uji?'
'Tidak. Itu hanya pemeriksaan tambahan. Uji mesin tetap memerlukan keputusan terpisah.'
Aku meminta pernyataan itu dimasukkan ke notulen. Nomad setuju. Jayen lalu membacakan ringkasan dengan keras, agar aku bisa menangkap setiap istilah. Kami sepakat menyebutnya pemeriksaan log, bukan pengujian mesin dan bukan latihan berawak.
Di ruang warga, Kyaa menerima satu komentar baru tentang pendamping. Seorang warga ingin membawa anaknya saat inspeksi karena ia tidak bisa meninggalkan anak sendirian. Pertanyaannya sederhana: apakah tim mengizinkan pendamping tambahan dan menyediakan ruang tunggu yang aman? Kesatuan belum memikirkan kebutuhan itu.
Kyaa tidak menjawab atas nama mereka. Ia mencatat permintaan tersebut dan meminta izin warga untuk menyampaikan pertanyaan tanpa nama. Warga itu menyetujuinya. Yoon An menambahkan kebutuhan akses keluarga ke daftar, terpisah dari aturan teknis inspeksi.
Kesatuan mengirim tabel awal pasokan. Satu barang klinik sudah memiliki tanggal pengiriman, tetapi tanggal itu masih bergantung pada kondisi jalur. Barang kedua menunggu tanda tangan. Mereka juga memberi angka stok pangan, namun tidak menyertakan asumsi konsumsi untuk bulan berikutnya.
Kyaa mengangkat alis saat mendengar bagian itu. 'Jumlah stok tanpa lama pemakaian bukan jawaban tentang ketahanan.'
Aku meminta agar pertanyaan itu dikirim tertulis. Kesatuan perlu menyebut berapa lama persediaan diperkirakan cukup, rentang ketidakpastiannya, serta siapa yang menanggung pembaruan bila pengiriman terlambat. Kami tidak akan meminta warga memilih relokasi berdasarkan angka yang tak bisa ditafsirkan.
Tidak semua orang setuju menunggu. Seorang kru berkata bahwa kami menambahkan pertanyaan terus-menerus, sementara dome dan kapal sama-sama punya batas waktu. Aku memahami kecemasannya. Aku juga tahu bahwa pertanyaan yang ditunda dapat berubah menjadi keputusan paksa bagi orang yang paling sedikit punya pilihan.
'Kita bisa bekerja cepat dan tetap transparan,' kata Nomad. 'Dua hal itu tidak saling meniadakan.'
Perdebatan berhenti, tetapi ketegangan tidak hilang. Jayen membacakan daftar tugas sampai semua orang tahu siapa yang memegang salinan dan kapan pembaruan berikutnya diberikan. Aku menambahkan bahwa tak seorang pun boleh menjanjikan hak kembali sebelum Kesatuan menjawab secara tertulis.
Aku duduk sendiri di lorong. Aku teringat Cherry dan ingin memastikan ia baik-baik saja. Tanganku sempat bergerak ke alat komunikasi, lalu berhenti. Kabar pemeriksaannya sudah kuterima pada panggilan keluarga kami. Ia tidak meminta laporan perjalanan dariku; ia meminta ruang dari topik itu. Menahan diri terasa seperti berdiri di depan pintu yang tidak boleh diketuk, tetapi aku memilih tetap di tempat.
Pia belum menjawab permintaan lanjutan. Tidak ada kabar baru tentang Kaburu maupun Alia. Jayen menyimpan undangan yang pernah kami kirim dan menulis 'belum ada tanggapan', bukan 'menolak'. Aku ingin tahu apakah mereka aman. Keinginan itu tidak mengubah fakta bahwa kami tidak tahu.
Seorang kru bercerita bahwa keluarganya tinggal dekat ruang penyangga dan telah beberapa malam tidur dengan pakaian lengkap, takut keadaan berubah tanpa peringatan. Aku tidak membantah kecemasannya. Kami meminta Kesatuan memperbarui prosedur pemberitahuan darurat dan menjelaskan perbedaan bunyi alarm dari pemberitahuan rutin. Nomad bersedia membantu memeriksa jangkauan pengeras suara, tetapi menegaskan pemeriksaan alarm dome tidak sama dengan simulasi kabin.
Kru itu tetap ingin keputusan segera, bukan daftar pertanyaan tambahan. Aku berkata kami akan meminta tenggat untuk setiap jawaban dan menempelkan nama jabatan penanggung jawab. Itu bukan kepastian yang ia cari, tetapi waktu tunggu tidak akan disamarkan sebagai persetujuan. Sebelum pulang, Jayen membacakan notulen. Ia hampir melewatkan satu baris tentang bantuan yang tak bersyarat; kami mengulanginya dan memastikan kalimat itu tercatat jelas.
Di lorong, Jayen mengingatkanku bahwa aku belum makan sejak pagi. Ia tidak bertanya tentang Cherry, hanya menyodorkan roti dan membacakan jadwal esok hari. Aku menerima bantuannya. Malam itu aku bisa memikirkan Cherry tanpa menjadikan rasa khawatir sebagai alasan untuk menerobos batas yang ia minta.
Aku meminta Jayen membacakan ulang jadwal jawabannya. Nomor surat tentang hak akses tidak boleh tertukar dengan surat pasokan. Kami menandai masing-masing dengan warna berbeda pada papan, lalu menulis tanggal pembaruan terakhir. Aku tak bisa mengandalkan warna, jadi Jayen menambahkan bentuk kecil yang berbeda di samping setiap judul. Kami memastikan cara itu juga dijelaskan kepada siapa pun yang bertugas memperbarui papan.
Kyaa menyimpan satu salinan bagi warga dan satu salinan untuk arsip bersama. Jika ada koreksi, kedua salinan harus diperbarui pada hari yang sama. Ia tidak ingin warga melihat janji yang sudah berubah, sementara tim tetap memakai versi terbaru. Aku mengerti bahwa keteraturan kecil seperti ini menjaga kepercayaan lebih baik daripada kalimat meyakinkan yang tak bisa dilacak.
Hari ke-71, Kesatuan mengirim dua petugas untuk membicarakan inspeksi dome. Mereka membawa rancangan jadwal, daftar titik pengukuran, dan formulir kehadiran. Kali ini Kyaa hadir bersama warga yang telah memilih pendamping. Aku duduk di dekat panel suara agar dapat mendengar siapa yang berbicara. Jayen menjelaskan bahwa ia akan membaca ulang setiap bagian yang tidak terdengar jelas.
Pertemuan dimulai dengan hal praktis. Pemeriksaan akan dimulai dari lorong luar, lalu berlanjut ke ruang penyangga dan titik ventilasi. Warga dapat memilih pendamping, meminta jeda, dan menolak dokumentasi foto pribadi. Namun, ketika Kyaa bertanya apakah pendamping boleh meminta penghentian jika prosedur berubah, petugas Kesatuan menjawab bahwa penghentian hanya berlaku bila ada ancaman keselamatan langsung.
'Bagaimana kalau perubahan itu tidak membahayakan saat itu, tetapi membuat hasil tidak bisa diperiksa?' tanya Kyaa.
Petugas tersebut membuka mapnya, mencari halaman lain, lalu mengakui bahwa rancangan belum mengatur keadaan itu. Ia tidak mencoba menutup kekosongan dengan jawaban spontan. Aku menghargainya, tetapi masalahnya tetap ada.
Nomad mengusulkan dua jenis jeda: jeda keselamatan yang menghentikan seluruh kegiatan, dan jeda prosedural untuk memanggil penanggung jawab ketika langkah pemeriksaan menyimpang dari daftar. Jeda prosedural tidak otomatis membatalkan inspeksi, tetapi hasil titik yang dipersoalkan tidak boleh disahkan sampai ada penjelasan.
Warga meminta agar aturan tersebut diuji pada simulasi meja sebelum inspeksi nyata. Kesatuan menyanggupi untuk membawa usulan itu ke panel peninjau. Mereka tidak menetapkan siapa yang berhak mengesahkan hasil akhir. Kyaa menulis 'belum dijawab' di sisi formulir, lalu meminta semua pihak membubuhkan paraf bahwa pertanyaan itu diterima, bukan disepakati.
Seorang warga lain menanyakan apakah ia bisa menolak masuk ke ruang tertentu tanpa kehilangan akses bantuan. Petugas Kesatuan menjawab bahwa bantuan pangan dan medis tidak terkait dengan kehadiran inspeksi. Ia bersedia menuliskan jawaban itu di surat resmi. Warga tersebut tampak lega, tetapi masih meminta jaminan bahwa catatan inspeksi tidak akan digunakan sebagai daftar minat pindah.