Tempat yang dimaksud Pak Gunawan adalah ruang arsip di lantai tiga.
Ruangan itu tidak punya jendela ke luar—hanya satu ventilasi tinggi di dinding—dan pintunya dari besi tebal, peninggalan zaman ketika rumah sakit ini masih menyimpan rekam medis di atas kertas. Di dalamnya berderet rak-rak logam penuh map berdebu. Satu meja, satu kursi, satu lampu darurat yang menyala redup. Tidak nyaman. Tapi bisa dikunci dari dalam, dan itulah satu-satunya kemewahan yang penting sekarang.
Mereka masuk satu per satu. Pak Gunawan terakhir, mengunci pintu dengan kunci besar dari ikat pinggangnya, lalu menggeser sebuah rak untuk mengganjalnya. Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Mereka hanya berdiri di sana, tujuh orang asing yang dipertemukan oleh kiamat, mendengarkan napas masing-masing.
Tujuh. Dika menghitung. Dirinya, Sari, Pak Gunawan. Lalu keluarga itu: bapak yang tadi memeluk anaknya, istrinya yang lengannya luka, dan anak perempuan bernama Bila. Dan satu lagi—seorang laki-laki muda yang sedari tadi diam di sudut, mengenakan jas dokter, tapi yang sejak masuk belum mengucapkan sepatah kata pun. Dika baru menyadarinya sekarang.
"Ada yang luka," kata Sari, memecah keheningan. Ia sudah berlutut di depan istri si bapak, memeriksa lengannya. "Ibu, ini luka apa?"
Perempuan itu—namanya Lina, Dika tahu kemudian—menggigit bibir. "Kena pecahan kaca. Pas kami lari dari ruang tunggu bawah. Bukan... bukan gigitan." Ia menambahkan cepat, terlalu cepat. "Bukan gigitan, sumpah."
Ruangan menegang. Dika merasakannya seperti perubahan tekanan udara. Semua mata berpaling ke lengan Lina, ke kain merah itu.
"Tunjukkan," kata si dokter muda. Itu kata pertamanya. Suaranya datar.
"Sudah saya bilang—"
"Tunjukkan." Ia melangkah maju. "Kalau itu gigitan, kita semua mati dalam beberapa jam. Saya berhak lihat."
Suami Lina, Rahmat, berdiri menghadang. "Jaga mulutmu. Itu istriku."
"Dan ini nyawaku," balas dokter itu. "Nyawa kita semua. Sentimen nggak menyelamatkan siapa pun di sini."
Sari berdiri di antara mereka, telapak tangan terangkat ke dua arah. "Cukup. Semua. Saya yang periksa, oke? Saya perawat. Saya bisa bedakan luka kaca dan luka gigitan." Ia menatap dokter muda itu tajam. "Dan kamu, siapa namamu?"
Dokter itu ragu sepersekian detik. "Reza. Dokter umum. Jaga di lantai empat."
Sari menahan tatapannya sedetik lebih lama dari yang perlu, lalu berbalik ke Lina. Dengan lembut ia membuka kain itu. Dika menahan napas bersama yang lain. Luka di lengan Lina memanjang, tepinya bersih, lurus.
"Ini kaca," kata Sari akhirnya, dan Dika merasakan seluruh ruangan menghembuskan napas. "Lurus, tepinya rapi. Gigitan itu robek, nggak beraturan. Ini bukan gigitan."
Rahmat memeluk istrinya. Bila menyusup di antara keduanya. Pak Gunawan duduk di lantai dengan punggung ke pintu, memejamkan mata sejenak.
Tapi Dika memperhatikan dokter Reza. Lelaki itu tidak ikut lega. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mundur ke sudutnya, dan ketika ia mengira tidak ada yang melihat, ia menyentuh sesuatu di balik jasnya—di sisi perutnya—lalu menariknya cepat. Hanya sekejap. Tapi Dika melihatnya.
Ia tidak berkata apa-apa. Belum. Tapi ia menyimpannya, kerikil kecil di dalam sepatu pikirannya, dan ia tahu ia tidak akan bisa berhenti memikirkannya.
"Sekarang apa?" tanya Rahmat pelan. "Kita tunggu di sini sampai kapan?"
"Sampai bantuan datang," kata Sari.
"Kalau bantuan nggak datang?"
Tidak ada yang menjawab. Lampu darurat berkedip sekali, lalu menyala lagi. Di luar, jauh di bawah, sesuatu menggedor pintu besi—satu kali, lalu berhenti. Mereka semua mendengarkan diam itu yang mengikutinya, dan untuk pertama kalinya, Dika menyadari betapa tipisnya garis antara di dalam dan di luar.
(bersambung)