Jam pertama berlalu seperti air yang menetes dari keran rusak—lambat, dan setiap tetes terasa keras.
Mereka membagi tugas tanpa banyak bicara. Pak Gunawan menjaga pintu. Sari merobek seprai dari lemari arsip untuk membalut luka Lina dengan benar. Rahmat menenangkan Bila, yang akhirnya tertidur kelelahan di pangkuannya. Dika berkeliling rak, mencari apa saja yang berguna—dan menemukan sekotak air mineral kadaluwarsa yang lupa dibuang, beberapa biskuit kaleng dari laci, sebuah senter, dan obeng panjang yang ia selipkan ke ikat pinggang tanpa alasan jelas selain bahwa benda tajam terasa menenangkan.
Reza duduk di sudut, sendiri.
Dika mendekatinya, pura-pura mencari sesuatu di rak terdekat. Dari dekat, ia melihat keringat di pelipis Reza, padahal ruangan ini dingin. Dan ia melihat tangan Reza, sesekali, menekan sisi perutnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dika pelan.
Reza menoleh cepat. "Saya baik."
"Kamu pegang perutmu terus dari tadi."
"Saya bilang saya baik." Suaranya tajam, lalu melunak, sadar telah terlalu keras. "Maag. Stres. Hari yang panjang." Ia mencoba tersenyum. Senyum itu gagal.
Dika mengangguk seolah percaya, lalu menjauh. Tapi di kepalanya, kerikil itu berputar. Maag tidak membuat orang menyembunyikan sisi tubuhnya seperti orang yang melindungi luka.
Ia menunggu sampai Sari sendirian di dekat meja, lalu mendekat dan berbisik. "Aku perlu ngomong sama kamu. Pelan."
Sari membaca wajahnya dan mengangguk. Mereka berpura-pura memeriksa kotak air bersama, kepala mendekat.
"Reza," kata Dika. "Dia nyembunyiin sesuatu. Di perut sebelah kanan. Dia kesakitan tapi nggak mau ngaku. Tadi pas kita semua khawatirin luka Bu Lina, dia malah nggak ikut lega. Aku lihat dia raba perutnya."
Sari diam sebentar. Mata profesionalnya bergerak ke arah Reza, menilai dari jauh—warna kulit, keringat, postur. Wajahnya berubah.
"Dia pucat," katanya pelan. "Bibirnya juga. Itu bukan stres."
"Kamu pikir dia—"
"Aku nggak mau menuduh tanpa bukti." Sari menatap Dika tajam. "Kamu juga jangan. Di ruangan ini, tuduhan bisa bunuh orang lebih cepat dari wabahnya. Kalau aku bilang keras-keras 'Reza mungkin kena gigit,' kamu tahu apa yang terjadi? Pak Gunawan akan mau dia keluar. Rahmat akan dukung, demi anaknya. Dan kita akan dorong manusia yang masih hidup ke koridor itu cuma berdasarkan tebakan." Ia menggeleng. "Aku harus lihat dulu. Tapi diam-diam. Jangan bikin panik."
Dika menelan ludah. "Gimana caranya lihat diam-diam?"
Sari memikirkannya. "Lukanya di lengan Bu Lina perlu dicek lagi tiap setengah jam. Itu alasanku jalan-jalan keliling, periksa semua. Aku akan tawarin periksa semua orang, satu-satu. Pemeriksaan rutin. Kalau aku tawarin ke semua, Reza nggak akan curiga dia yang disasar." Ia menatap Dika. "Tapi kalau ternyata dia memang kena... kita harus mikir cepat. Dan kita harus mikir manusiawi. Janji sama aku kamu nggak akan main hakim sendiri."
Dika ingin menjanjikan itu. Tapi di kepalanya ada geraman di balik pintu radiologi, suara yang dulu ibunya. Dan ia tahu, dengan jujur yang menyakitkan, bahwa ia tidak yakin bisa menepati janji itu.
"Aku usaha," katanya akhirnya. Itu yang paling jujur yang bisa ia berikan.
Sari memandangnya lama. Lalu mengangguk, menerima kejujuran itu sebagai ganti janji yang bohong.
(bersambung)