Sari memulai dari Bila.
"Cuma cek suhu, ya, Sayang," katanya, menempelkan punggung tangan ke dahi anak itu, memeriksa matanya, menggulung lengan bajunya untuk memastikan tidak ada luka tersembunyi. Bila terlalu mengantuk untuk protes. Lalu Lina. Lalu Rahmat, yang mengangguk patuh, mengerti maksudnya. Lalu Pak Gunawan, yang membuka kancing seragamnya tanpa diminta dan berkata, "Periksa yang teliti, Nak. Aku nggak mau jadi beban kalau ternyata aku yang bahaya."
Lalu Dika, yang membiarkan Sari memeriksa lengan dan lehernya, dan yang tahu ini hanya panggung untuk satu pemeriksaan yang sebenarnya penting.
Lalu Reza.
"Sekarang kamu," kata Sari, suaranya ringan, terlalu ringan. "Biar adil. Semua diperiksa."
Reza tidak bergerak dari sudutnya. "Saya dokter. Saya bisa periksa diri sendiri. Saya sehat."
"Kalau gitu nggak ada ruginya dong saya lihat," kata Sari, tetap tersenyum, tapi sudah melangkah mendekat. "Buka jasmu, Za. Sebentar saja."
"Nggak perlu."
Ruangan menjadi sunyi. Semua mata, satu per satu, berpaling ke Reza. Bahkan Bila bangun, merasakan perubahan di udara seperti binatang kecil merasakan badai.
"Kenapa nggak mau?" Itu Pak Gunawan, suaranya pelan tapi sudah berdiri. Tongkat besinya di tangan, ujungnya menyentuh lantai.
Reza memandang ke sekeliling ruangan, dari satu wajah ke wajah lain, dan Dika melihat momen ketika lelaki itu mengerti bahwa ia sudah kalah. Bahwa rahasianya sudah berat terlalu lama, dan ruangan ini terlalu kecil untuk menyembunyikannya.
Pelan, Reza membuka jasnya. Lalu menarik kaosnya ke atas, di sisi kanan.
Di sana, di atas pinggang, ada perban yang dibebat sendiri, sudah merembes. Dan ketika Sari berlutut dan dengan lembut membukanya, semua melihat luka itu—setengah lingkaran, tepinya robek, bekas gigi manusia.
Lina menjerit tertahan dan menarik Bila ke belakangnya. Rahmat berdiri. Pak Gunawan mengangkat tongkatnya. Dika merasakan tangannya sendiri bergerak ke obeng di ikat pinggangnya tanpa ia menyuruhnya.
"Tunggu!" Reza mengangkat kedua tangannya, suaranya pecah. "Tunggu. Dengarkan saya. Tolong."
"Kamu digigit." Suara Pak Gunawan dingin seperti besi. "Berapa lama yang lalu?"
"Empat jam." Reza menelan ludah. "Hampir empat jam."
Sari, masih berlutut, mengangkat wajah. Dika melihat pikiran berlari di matanya. "Empat jam," ulangnya pelan. "Pasien pertama berubah dalam satu jam. Dokter jaga, satu jam juga. Tapi kamu..." Ia berhenti. "Kamu masih kamu."
"Itu yang saya coba bilang." Reza berbicara cepat sekarang, putus asa. "Saya digigit empat jam lalu di lantai empat. Saya seharusnya sudah berubah tiga jam lalu. Tapi saya nggak. Kalian lihat? Saya masih bicara. Masih mikir. Masih takut—orang yang sudah berubah nggak bisa takut lagi." Air matanya jatuh sekarang, dan ia tidak menyekanya. "Saya nggak tahu kenapa. Tapi ada sesuatu yang beda dengan saya. Dan kalau kalian bunuh saya sekarang, kalian membunuh satu-satunya orang di gedung ini yang mungkin—mungkin—kebal."
Hening yang mengikuti kata itu lebih berat dari segala suara.
"Bohong," desis Pak Gunawan, tapi tongkatnya turun satu inci. "Kau cuma cari alasan supaya nggak kami buang."
"Lalu kenapa saya belum berubah?" Reza menantang balik, suaranya gemetar. "Hitung sendiri. Empat jam. Pak, kalau saya seperti yang lain, saya sudah menerkam anak itu dari tadi. Tapi saya di sini, di sudut, sendirian, supaya kalau saya salah—kalau saya berubah—saya jauh dari kalian." Ia menunduk. "Saya nggak ngumpet karena saya jahat. Saya ngumpet karena saya tahu persis apa yang kalian lakukan begitu tahu. Dan kalian benar untuk takut. Tapi tolong... beri saya waktu. Beberapa jam lagi. Kalau saya berubah, kalian boleh lakukan apa pun. Tapi kalau saya nggak..."
Ia tidak menyelesaikannya. Ia tidak perlu.
Dika berdiri di antara dua hal: tangannya di obeng, dan kata-kata Reza yang menggantung di udara seperti tali yang bisa menyelamatkan atau menggantung mereka semua. Ia memandang Sari. Sari memandangnya balik. Dan untuk pertama kalinya sejak pukul tiga lewat sebelas menit, Dika menyadari bahwa monster paling berbahaya di gedung ini mungkin bukan yang ada di balik pintu.
Melainkan keputusan yang harus mereka ambil sekarang, dengan tangan gemetar, tentang siapa yang layak dipercaya.
(bersambung)