"Kita keluarkan dia," kata Pak Gunawan. "Sekarang. Selagi dia masih nurut."
"Nggak." Sari berdiri. "Kalau dia benar, kita buang harapan satu-satunya."
"Kalau dia salah," balas Pak Gunawan, "kita buang nyawa anak kecil itu." Ia menunjuk Bila dengan dagunya. "Aku jaga gedung ini dua puluh tahun, Sari. Aku sudah lihat orang baik berubah jadi binatang dalam hitungan menit. Aku nggak akan pertaruhkan anak itu demi tebakan dokter yang ngumpetin gigitannya dari kita."
"Dia ngumpetin karena tahu ini yang akan terjadi," kata Dika. Ia sendiri kaget mendengar dirinya membela Reza. "Coba kita di posisinya. Kita juga akan ngumpet."
"Itu justru alasannya nggak bisa dipercaya," kata Rahmat. Suaranya tenang, tapi ada baja di dalamnya, baja seorang bapak. "Orang yang bohong sekali akan bohong lagi. Maaf, Dok. Aku nggak benci kamu. Tapi aku punya anak. Dan aku nggak bisa tidur di ruangan yang sama dengan bom waktu."
Ruangan terbelah. Dika bisa merasakannya secara fisik—garis tak terlihat di lantai arsip itu. Di satu sisi, Sari dan dirinya. Di sisi lain, Pak Gunawan dan Rahmat. Lina di tengah, memeluk Bila, matanya melompat dari satu wajah ke wajah lain. Dan Reza di sudut, diam sekarang, menyerahkan nasibnya ke ruangan, karena ia tahu memohon lagi hanya akan membuatnya terlihat lebih berbahaya.
"Begini," kata Sari akhirnya, suaranya dipaksa tenang. "Kita nggak buang dia ke koridor—itu sama dengan menghukum mati. Tapi Pak Gunawan juga benar, kita nggak bisa abaikan risiko. Jadi kompromi: kita pisahkan dia. Di pojok sana ada ruang kecil, dulu tempat simpan map rusak. Pintunya bisa dikunci. Reza masuk situ. Kita bisa lihat dia lewat kaca kecil di pintu. Kalau dia berubah, dia terkurung, kita aman. Kalau dia nggak berubah sampai pagi—" ia menatap Pak Gunawan lurus, "—kita semua minta maaf, dan kita dengarkan apa yang dia tahu tentang kenapa dia kebal."
Hening. Pak Gunawan mengunyah usulan itu dengan rahangnya yang keras.
"Kacanya kecil?" tanyanya.
"Sekepalan tangan. Dia nggak bisa keluar lewat situ."
"Dan pintunya kokoh?"
"Besi. Sama kayak pintu utama."
Pak Gunawan memandang Reza lama. Lalu Bila. Lalu, perlahan, ia menurunkan tongkatnya sepenuhnya.
"Sampai pagi," katanya. "Tapi kalau dia mulai berubah—satu geraman saja—aku nggak akan ragu. Dan nggak ada satu pun dari kalian yang boleh menghalangiku. Setuju?"
Mata semua orang berpaling ke Dika dan Sari. Ini harga kompromi itu.
"Setuju," kata Sari pelan.
Dika ragu sedetik. Lalu, "Setuju."
Reza berdiri sendiri. Ia memandang mereka semua, satu per satu, dan ada sesuatu yang menyerupai rasa terima kasih di matanya, dan sesuatu yang lain juga—ketakutan yang dalam, ketakutan bahwa mungkin ia sendiri tidak yakin apakah ia akan bertahan.
"Terima kasih," katanya serak. Lalu, sambil melangkah ke ruang kecil itu, ia berhenti. "Kalau saya berubah," katanya pada Sari, suaranya rendah supaya Bila tidak dengar, "darah saya tetap beda. Ambil. Sebelum atau sesudah. Mungkin ada yang bisa belajar dari saya. Jangan sia-siakan."
Pintu kecil itu menutup. Kunci berputar. Dan tujuh menjadi enam, ditambah satu pertanyaan yang dikurung di balik kaca sekepalan tangan.
(bersambung)