Malam—kalau bisa disebut malam di ruangan tanpa jendela—datang dengan caranya sendiri: lewat kelelahan, lewat lampu darurat yang makin meredup, lewat keheningan yang berubah dari menakutkan jadi melelahkan.
Mereka bergiliran tidur. Rahmat dan Lina mengapit Bila di antara mereka di lantai beralas seprai. Pak Gunawan menolak tidur, duduk di kursi menghadap pintu, tongkat di pangkuan, matanya setengah terpejam tapi telinganya jelas tidak. Dika dan Sari duduk berdampingan di dekat ventilasi, berbicara dengan suara serendah napas.
"Kamu beneran percaya dia?" tanya Dika. "Reza."
Sari memandang ke arah pintu kecil di ujung ruangan, ke kotak kaca redup tempat siluet Reza duduk, hidup, masih manusia. "Aku percaya pada apa yang aku lihat," katanya. "Dan yang aku lihat, sudah hampir enam jam dia digigit, dan dia masih ngomong sama kita kayak manusia. Itu nggak pernah terjadi. Kalau ada satu persen kemungkinan tubuhnya melawan wabah ini..." Ia tidak menyelesaikannya. "Kamu?"
Dika memikirkan ibunya di balik pintu radiologi. "Aku pengen percaya," katanya. "Karena kalau dia bisa kebal, mungkin ada orang lain yang bisa juga. Mungkin ini nggak akan menelan semua orang." Ia menelan ludah. "Tapi aku takut percaya. Karena tiap kali aku percaya sesuatu hari ini, sesuatu itu hilang."
Sari tidak menjawab. Tapi tangannya, di lantai dingin di antara mereka, bergeser sedikit lebih dekat ke tangan Dika. Bukan menggenggam. Hanya cukup dekat agar ia tahu ia tidak sendiri.
Lalu Dika mendengarnya.
Mula-mula ia kira itu napas Reza, atau gesekan seprai. Tapi suara itu datang dari atas. Dari ventilasi. Goresan. Pelan, ritmis. Cakaran logam ke logam.
Ia membeku. Sari mendengarnya juga; ia merasakan tubuh perempuan itu menegang di sampingnya. Mereka mendongak bersamaan ke ventilasi tinggi di dinding—kisi-kisi logam, gelap di baliknya. Goresan itu berhenti. Lalu mulai lagi. Lebih dekat.
"Pak Gunawan," bisik Dika.
Satpam tua itu sudah berdiri, tongkat terangkat, matanya terpaku ke ventilasi. Ia mengangkat satu jari ke bibir. Diam.
Sesuatu bergerak di balik kisi-kisi. Dika melihat kilauan—mata, memantulkan cahaya redup lampu darurat. Lalu wajah, sebagian, terhimpit di balik logam. Wajah manusia yang bukan manusia lagi, kulitnya kelabu, mulutnya bergerak tanpa suara mengunyah udara. Tangannya, jari-jarinya berdarah karena merangkak lewat saluran ventilasi sempit dari entah lantai berapa, mencakar kisi-kisi yang memisahkannya dari daging hangat di bawahnya.
"Mereka bisa naik lewat ventilasi," bisik Sari, ngeri. "Ya Tuhan. Kita nggak seaman yang kita kira."
Kisi-kisi itu bergetar. Sekrupnya tua, karatan. Satu sekrup terlepas, jatuh berdenting ke lantai. Bila terbangun dan mulai menangis. Rahmat menutup mulut anaknya dengan tangan, matanya liar ke atas.
"Tongkat nggak akan sampai," kata Pak Gunawan, gigi terkatup. "Terlalu tinggi. Kalau kisi itu jebol, dia jatuh ke tengah kita."
Dika memandang sekeliling—rak logam, meja, kursi. Pikirannya berlari. Ventilasi terlalu tinggi untuk dijangkau, tapi tidak terlalu tinggi kalau—
"Rak," katanya. "Kita dorong rak ke dinding di bawah ventilasi. Tutup. Sumbat dari luar."
"Kalau dia keburu jebol?"
"Maka kita harus lebih cepat dari dia."
Dan di sudut ruangan, di balik kaca sekepalan tangan, suara Reza tiba-tiba terdengar, mendesak, jernih: "Pakai map! Tumpuk map ke kisi dari sini, ganjal pakai gagang sapu—saya lihat ada sapu di pojok kanan rak ketiga. Tutup celahnya. Mereka ngejar bau napas. Tutup celahnya, kurangi udara yang lewat, dia bakal pindah cari mangsa lain!"
Sejenak, semua membeku—suara itu datang dari orang yang mereka kurung sebagai ancaman. Lalu Dika bergerak, karena ide itu masuk akal, karena tidak ada waktu untuk gengsi.
Mereka bergerak bersama untuk pertama kalinya tanpa membelah diri: Dika dan Rahmat mendorong rak, Pak Gunawan menyodok kisi dengan tongkat untuk menahan wajah itu mundur, Sari menumpuk map dan menyumbat celah, gagang sapu mengganjal kuat. Suara cakaran itu berlanjut, marah, lalu—pelan-pelan—menjauh. Berpindah. Mencari napas lain di tempat lain.
Ketika akhirnya hening kembali, mereka berdiri terengah, berkeringat, berdempetan di bawah ventilasi yang tersumbat. Dan tanpa ada yang mengucapkannya, mereka semua tahu: ide yang baru saja menyelamatkan mereka datang dari mulut orang yang ingin mereka buang.
Dika menoleh ke kotak kaca. Reza memandang balik, lelah, pucat, masih manusia.
"Makasih," kata Dika pelan, lewat kaca.
Reza hanya mengangguk. "Saya juga pengen hidup," katanya. "Sama kayak kalian."
(bersambung)