Jam-jam berikutnya mengubah sesuatu di ruangan itu, pelan, seperti es yang mencair.
Tidak ada yang mengumumkannya. Tapi setelah ventilasi, Pak Gunawan membawa sebotol air ke pintu kecil dan menyelipkannya lewat celah di bawah untuk Reza. Lina, yang tadi menarik Bila menjauh dari dokter itu, sekarang membiarkan anaknya menggambar di selembar kertas arsip dan menyelipkannya untuk Reza lewat celah yang sama—gambar tujuh orang berdiri di bawah atap, salah satunya di kotak kecil, tapi tetap masuk dalam gambar. Bagian dari mereka.
Reza memandang gambar itu lama sekali.
"Berapa jam sekarang?" tanya Sari, memecah keheningan. Ia bertanya pada Reza, lewat kaca.
Reza melirik jam tangannya. "Hampir delapan jam sejak saya digigit." Suaranya gemetar, tapi bukan ketakutan—sesuatu yang lebih mirip takjub. "Delapan jam, Sari. Saya masih di sini."
Sari menempelkan dahinya ke pintu besi sejenak, lega bercampur lelah. "Kalau kita keluar dari sini hidup-hidup," katanya, "darahmu harus sampai ke orang yang bisa pelajari. Kamu paham? Kamu mungkin bukan cuma yang beruntung. Kamu mungkin jawabannya."
"Kalau kita keluar," kata Reza. Ada "kalau" yang berat di sana.
Lalu, seperti dunia ingin menguji kepercayaan yang baru tumbuh itu, terdengar suara dari pintu utama.
Bukan geraman. Ketukan. Berpola. Tiga kali, jeda, tiga kali.
Semua membeku. Pola itu manusiawi. Disengaja.
"Halo?" Suara laki-laki, teredam pintu besi. "Ada orang di dalam? Tolong. Saya nggak digigit. Saya cuma kepisah dari yang lain. Tolong buka."
Ruangan menegang ke arah lain sekarang. Pak Gunawan mengangkat tangan, isyarat diam. Ia mendekat ke pintu, telinga menempel.
"Berapa orang di luar?" tanyanya, suara rendah.
"Cuma saya. Sumpah. Tolong, mereka di lorong, mereka dengar kalau saya kelamaan—"
Dika melihat keraguan di wajah semua orang. Membuka pintu berarti mungkin menyelamatkan nyawa. Atau mungkin mengundang maut—seseorang yang digigit, atau lebih buruk, seseorang yang sehat tapi panik, yang akan membawa kekacauan, atau yang berbohong tentang sendirian.
"Kita nggak bisa buka," bisik Rahmat. "Kita nggak tahu dia siapa."
"Itu manusia di luar sana," balas Sari. "Kita dengar dia. Dia mohon."
"Kita juga dengar Reza mohon," kata Pak Gunawan pelan, dan ironinya menggantung di udara. "Dan kali itu kita benar untuk hati-hati."
Dika berdiri di tengah ruangan, dan ia merasakan beban itu pindah ke pundaknya—karena ia, entah bagaimana, telah menjadi orang yang dipandang ketika keputusan harus diambil. Ia memandang pintu kecil tempat Reza. Delapan jam. Sebuah taruhan yang ternyata benar.
"Tanya dia sesuatu," kata Dika tiba-tiba. "Sesuatu yang cuma orang yang masih mikir bisa jawab. Yang udah berubah nggak bisa jawab pertanyaan."
Pak Gunawan menatapnya, lalu mengangguk perlahan. Ia berbicara ke pintu. "Kalau kau masih manusia, jawab: kau lari dari lantai berapa, dan apa yang kau lihat di sana?"
Hening sejenak. Lalu suara itu, gemetar tapi jernih, menjawab dengan detail—lantai lima, ruang operasi, mayat, dua orang berubah, ia sembunyi di gudang linen tiga jam. Cerita yang masuk akal. Cerita yang hanya bisa diceritakan oleh otak yang masih bekerja.
Dika dan Sari bertukar pandang. Pak Gunawan menghela napas panjang, napas seorang lelaki tua yang lelah memikul keputusan.
"Kita pernah hampir buang satu manusia hari ini," kata Pak Gunawan akhirnya, suaranya berat. "Dan ternyata kita salah. Aku nggak mau salah dua kali ke arah yang sama." Ia memandang Rahmat. "Tapi anakmu di sini. Jadi kau yang putuskan. Aku ikut."
Semua mata ke Rahmat. Lelaki itu memandang Bila, lalu gambar yang ia selipkan untuk Reza, lalu pintu.
"Buka sedikit," katanya akhirnya, suaranya parau. "Pak Gunawan di depan dengan tongkat. Aku di sisi. Kalau dia bohong, kita tutup lagi. Tapi kalau dia benar manusia..." Ia menelan ludah. "Aku nggak mau jadi orang yang membiarkan manusia mati di balik pintu karena aku terlalu takut."
(bersambung)