Mereka membongkar rak pengganjal pelan-pelan. Pak Gunawan berdiri tepat di depan, tongkat besi diangkat setinggi bahu. Rahmat di sisi kiri pintu. Dika di kanan, obeng tergenggam, jantung menabuh di telinga. Sari menarik Lina dan Bila ke pojok terjauh, di dekat pintu kecil Reza.
"Begitu terbuka," bisik Pak Gunawan, "kalau ada lebih dari satu, kalau ada satu saja yang matanya kosong, aku banting lagi. Jangan ada yang menghalangi."
Dika mengangguk. Tangannya basah.
Kunci berputar. Pintu besi terbuka satu jengkal.
Di luar berdiri seorang laki-laki, mungkin tiga puluhan, baju kerja kotor oleh debu dan darah kering, wajahnya kuyu karena takut. Matanya—Dika mencari di sana hal yang ia takutkan, dan tidak menemukannya. Mata itu penuh: penuh kelegaan, penuh air mata, penuh kemanusiaan yang putus asa.
"Terima kasih," lelaki itu terisak. "Terima kasih. Ya Tuhan, terima kasih—"
Lalu Dika melihat lengannya.
Lengan kiri lelaki itu disembunyikan sedikit di balik tubuh, dan di sana, baru terlihat saat pintu cahaya jatuh ke atasnya, ada balutan kain yang basah merah. Sama persis seperti yang ditunjukkan Reza. Sebuah luka yang ditutupi.
"Lenganmu," kata Dika, suaranya hampir tak terdengar. Tapi di ruangan sekecil itu, semua mendengarnya. Pak Gunawan menggeser tongkatnya. Rahmat menegang.
Lelaki itu membeku. Matanya melebar. "Ini—ini bukan—" Suaranya runtuh. Lalu, karena ia sudah terlalu lelah untuk berbohong, atau karena ia melihat di wajah mereka bahwa berbohong tidak akan menyelamatkannya: "Iya. Iya, saya digigit. Satu jam lalu. Tapi tolong—saya masih saya, kalian lihat, saya masih bisa ngomong—"
"Satu jam," kata Sari pelan dari belakang, dan ada kengerian yang dingin dalam suaranya. "Satu jam, bukan delapan. Yang lain berubah dalam satu jam."
Dunia melambat. Dika melihatnya seperti dalam mimpi: lelaki di ambang pintu, kelegaan di wajahnya berubah jadi keputusasaan, lalu—saat ia membuka mulut untuk memohon lagi—sesuatu bergeser di matanya. Sebuah kabut. Cahaya yang padam di rumah yang penghuninya pergi. Tubuhnya menyentak, lehernya tertarik, dan suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi kata.
"TUTUP!" teriak Pak Gunawan.
Tapi lelaki itu—yang baru sedetik lalu manusia—sudah menerjang celah pintu. Pak Gunawan menghantamnya dengan tongkat, sekali, dua kali. Rahmat membanting bahunya ke pintu. Dika mendorong dengan seluruh tubuhnya. Untuk satu detik mengerikan, tangan kelabu itu menyelinap di celah, mencakar udara, mencari daging. Bila menjerit. Lina menutupinya dengan tubuhnya sendiri.
"Pintunya nggak nutup!" teriak Rahmat. "Tangannya ngeganjal!"
Dika tidak berpikir. Ia menghunjamkan obeng ke lengan yang mencakar itu—sekali, keras—dan makhluk itu menarik tangannya cukup lama untuk pintu membanting tertutup. Kunci berputar. Rak didorong kembali. Dan di balik besi, gedoran itu berlanjut, marah, lapar, tanpa akal—suara seseorang yang satu jam lalu menangis dan berterima kasih dan ingin hidup, sama seperti mereka.
Mereka merosot ke lantai, satu per satu, terengah, gemetar. Tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama.
Bila menangis pelan di pelukan ibunya. Pak Gunawan duduk dengan tongkat berdarah di pangkuan, menatap tangannya sendiri seolah tak mengenalinya. Dan Dika duduk dengan obeng yang masih basah di genggamannya, dan satu kebenaran mengerikan tertanam di dadanya:
Mereka benar untuk membuka pintu. Dan mereka benar untuk menutupnya. Belas kasih dan kewaspadaan, dua hal yang ia kira berlawanan, ternyata harus dipegang bersamaan dengan tangan yang sama gemetarnya. Dan kadang, meski kau melakukan semuanya benar—mendengarkan, ragu, mengambil risiko untuk kemanusiaan—jawabannya tetap saja kehilangan.
Dari balik kaca kecil, suara Reza terdengar lirih. "Itu bukan salah kalian," katanya. "Kalian kasih dia kesempatan. Lebih dari yang dunia kasih ke kebanyakan orang hari ini."
Dika tidak menjawab. Tapi ia menggenggam erat obeng itu, dan ia tidak menangis, karena ia tahu sekarang air mata adalah kemewahan yang harus ia simpan sampai mereka benar-benar keluar dari sini.
(bersambung)