Suara pertama yang berbeda datang menjelang fajar—meski tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat fajar dari ruangan tanpa jendela itu.
Bukan geraman. Bukan gedoran. Sebuah suara mekanis, jauh, berirama, tumbuh dari kesunyian: baling-baling helikopter. Lalu, melalui ventilasi yang masih tersumbat map, samar tapi pasti, suara pengeras suara dari luar gedung.
"...zona karantina... tim evakuasi memasuki gedung... bertahan di tempat aman... tunggu petugas berseragam hazmat..."
Sari adalah yang pertama menangis, dan ia tertawa di tengah tangisnya, dan itu menular. Lina memeluk Bila terlalu erat. Rahmat menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pak Gunawan hanya memejamkan mata dan berbisik sesuatu yang Dika tidak dengar, mungkin doa, mungkin nama seseorang yang ia harap masih hidup di luar sana.
Tapi euforia itu tidak utuh, dan mereka semua tahu kenapa.
Reza.
Dika berdiri di depan pintu kecil itu. Di baliknya, dokter muda yang sudah hampir sepuluh jam tidak berubah, yang darahnya menolak wabah, duduk dengan punggung ke dinding.
"Mereka pakai hazmat," kata Dika pelan. "Mereka bakal periksa kita semua. Kalau mereka lihat gigitanmu, mereka nggak akan tanya udah berapa jam. Mereka cuma lihat luka gigitan, dan mereka tarik kamu pergi. Mungkin mereka bunuh kamu di tempat."
"Aku tahu," kata Reza tenang. Anehnya tenang. "Aku dokter, Dika. Aku tahu prosedur wabah. Begitu ketemu yang tergigit, kau eliminasi. Nggak ada waktu buat pengecualian."
"Kalau gitu kita sembunyikan lukamu—"
"Nggak." Reza menggeleng. "Dengar. Kalau kalian sembunyikan aku, dan ternyata aku salah, dan aku berubah di tengah orang-orang yang menyelamatkan kalian, aku jadi pembunuh kalian semua. Aku nggak mau ambil risiko itu. Tapi ada cara lain."
Ia mengangkat tangannya ke kaca. Di telapaknya ada sesuatu—sebuah selang kecil infus dan kantong yang ia ambil dari kotak medis arsip berjam-jam lalu, terisi merah gelap.
"Darahku," katanya. "Aku udah ambil sendiri, sebanyak yang aman. Sari—" ia mencari wajah perawat itu, "—kamu yang bawa. Bukan aku. Kalau mereka tarik aku, mereka mungkin nggak akan repot bawa orang tergigit. Tapi kamu, kamu sehat, kamu perawat, kamu akan ikut evakuasi. Bawa darah ini. Kasih ke siapa pun yang ngurusin wabah ini. Bilang: ada orang yang digigit dan nggak berubah selama sepuluh jam. Bilang ada sesuatu di darah ini yang melawan. Itu mungkin nggak nyelametin aku. Tapi mungkin nyelametin orang berikutnya. Orang yang ke-seribu. Orang yang ke-sejuta."
Ruangan hening. Bahkan Bila diam.
Sari mengambil kantong darah itu dari celah pintu dengan tangan gemetar. "Aku akan bawa," katanya. "Aku janji. Dan aku akan teriak nama kamu sampai ada yang dengar. Aku akan bilang kamu yang nemu ini. Bukan korban. Penemu."
Reza tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu tidak gagal. "Itu lebih dari cukup."
Pintu utama bergetar. Bukan gedoran makhluk—ketukan terstruktur, lalu suara teredam orang berseragam. "Tim medis! Ada yang hidup di dalam? Buka pelan-pelan, tangan terlihat!"
Pak Gunawan berdiri, melangkah ke pintu kecil Reza lebih dulu, sebelum membuka yang utama. Lelaki tua itu menatap dokter muda di balik kaca, dan dengan kaku, formal, penuh hormat, ia berkata: "Aku salah menilaimu di awal, Nak. Maafkan orang tua ini. Kau lebih berani dari kami semua. Kau memilih dikurung supaya kami aman, padahal kau yang paling punya alasan untuk lari."
"Bapak menjaga anak itu," kata Reza. "Itu bukan kesalahan. Itu tugas. Saya nggak pernah marah sama Bapak."
Lalu pintu utama dibuka. Cahaya senter putih membanjir masuk. Sosok-sosok berbalut hazmat, masker, sarung tangan tebal—tidak menakutkan, untuk pertama kalinya hari itu, sebuah penampilan asing terasa seperti keselamatan.
Mereka keluar satu per satu, tangan terangkat, diperiksa, dibungkus selimut darurat. Dika menggenggam tangan ibunya di kepalanya—bukan tangan sungguhan, hanya ingatan, tapi cukup. Sari menyembunyikan kantong darah di dekat dadanya, di balik selimut, dan menatap mata salah seorang petugas dan berkata, "Saya perawat. Saya punya sesuatu yang harus dilihat tim riset. Sekarang. Penting."
Dan Reza—Reza diperiksa, dan lukanya ditemukan, dan dua petugas memegangnya dengan lembut tapi tegas, dan ia tidak melawan. Saat ia dibawa melewati Dika, ia berhenti sebentar.
"Hei," kata Reza. "Kamu yang pertama curiga aku. Dan kamu juga yang pertama bela aku. Lucu, ya, bisa dua-duanya sekaligus."
Dika menahan agar suaranya tidak pecah. "Mereka bakal pelajarin darahmu. Sari janji. Aku juga janji. Kamu nggak akan jadi cuma satu nama di daftar korban."
Reza mengangguk, lalu dibawa pergi ke koridor yang dulu penuh maut, sekarang penuh lampu dan langkah orang yang datang untuk menyelamatkan—terlambat untuk banyak orang, tepat waktu untuk segelintir.
Di luar, langit memang sedang berganti warna. Dika berdiri di pelataran rumah sakit yang dikepung garis kuning karantina, selimut di pundaknya, Bila menggenggam ujung bajunya tanpa alasan selain bahwa ia perlu menggenggam sesuatu. Pak Gunawan berdiri tegak di sampingnya seperti penjaga yang belum mau pensiun. Sari, beberapa langkah di depan, sedang berbicara cepat dan keras kepada seorang petugas, dan petugas itu memanggil yang lain, dan kantong darah itu berpindah ke tangan yang lebih besar dari mereka semua.
Wabah belum berakhir. Kota di belakang mereka masih menyimpan ribuan suara yang kehilangan akal. Entah berapa banyak yang mereka kenal sudah hilang. Ibunya. Mungkin orang-orang Reza. Mungkin keluarga Sari.
Tapi di tangan seseorang, sekarang, ada darah yang melawan. Sebuah kemungkinan. Sebuah "mungkin" yang ditebus dengan kepercayaan yang nyaris tidak mereka berikan.
Dika menarik napas pagi yang dingin, napas pertama yang terasa seperti miliknya sejak pukul tiga lewat sebelas menit kemarin. Dan ia berpikir, bukan tentang yang hilang—itu nanti, itu akan datang sendiri di malam-malam panjang ke depan—tapi tentang satu pelajaran yang ia bawa keluar dari ruang arsip itu, satu kebenaran yang ia bayar mahal:
Bahwa di ruangan yang dikepung maut, hal paling sulit bukanlah bertahan dari yang di luar.
Melainkan memutuskan, dengan tangan gemetar dan tanpa kepastian, siapa di dalam yang masih layak dipercaya—dan tetap memilih untuk percaya, meski dunia memberinya seribu alasan untuk berhenti.
Lalu dua hal terjadi nyaris bersamaan.
Yang pertama, di seberang pelataran, di mulut truk medis tempat Reza dinaikkan, terdengar bentakan. Dika menoleh tepat waktu untuk melihat dua petugas hazmat menahan sesuatu di dalam—gerakan menyentak, terlalu cepat, terlalu kuat untuk tubuh yang lelah. Sebuah suara yang ia kenal, suara Reza, memanggil namanya satu kali. Hanya satu kali. Lalu suara itu berubah, retak di tengah, menjadi sesuatu yang tidak lagi punya kata. Pintu truk dibanting tertutup dari luar. Sepuluh jam. Bukan kekebalan, bisik sesuatu yang dingin di dada Dika. Hanya penundaan.
Yang kedua, di samping Dika, seorang petugas berbicara pelan ke radio di bahunya, mengira tak ada yang mendengar. Dika mendengar. "...konfirmasi sampel darah anomali dari subjek di gedung tujuh. Bawa ke pusat. Dan satu lagi—" jeda, statis, "—zona karantina meluas. Mereka sudah lewat sungai. Bandara tutup satu jam lalu. Ini... ini nggak akan bisa dibendung."
Dika menggenggam erat ujung selimutnya. Di depan sana, Sari masih berbicara, masih menyerahkan satu kantong kecil "mungkin" ke tangan-tangan yang lebih besar—tidak tahu bahwa orang yang darahnya ia bawa baru saja berhenti menjadi manusia, tidak tahu bahwa garis kuning karantina yang melingkari mereka mungkin sudah lama tak berarti apa-apa.
Dika tidak memberitahunya. Belum. Ia hanya menatap matahari yang naik di atas kota yang sekarat, satu kantong darah berpindah ke arah yang tak ia ketahui, dan untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya apakah "mungkin" itu cukup—atau apakah mereka baru saja menyelamatkan diri ke dalam dunia yang tak lagi punya tempat untuk diselamatkan.
(tamat)