Anya menunduk, memainkan jemarinya di atas meja. Dari cara dia menghela napas berulang kali, aku tahu pikirannya sedang berkecamuk. Dia tahu ini salah. Dia tahu seharusnya dia tidak berada di sini, berbicara denganku, membiarkan aku memasuki ruang pribadinya lebih dalam. Tapi di saat yang sama, dia **tidak bisa** pergi.
Aku melihat bagaimana matanya sedikit berkaca-kaca, bagaimana dia berkali-kali menggigit bibirnya sendiri. Ada perang dalam dirinya, antara akal sehat dan perasaan yang semakin sulit dia kendalikan.
“Adit…” suaranya hampir seperti bisikan.
Aku menatapnya lekat-lekat. “Ya?”
Dia menggelengkan kepala pelan, seperti tidak yakin dengan apa yang ingin dia katakan. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, dia mengangkat wajahnya dan menatapku lurus-lurus.
“Apa kamu pernah merasa… terjebak dalam hidupmu sendiri?” tanyanya pelan.
Aku tersenyum kecil. “Setiap hari.”
Dia terkejut dengan jawabanku. “Benarkah?”
Aku mengangguk. “Kita semua punya bagian dalam hidup yang terasa seperti jebakan. Kita mencoba bertahan, berpura-pura semuanya baik-baik saja, karena itulah yang diharapkan orang lain dari kita.”
Dia terdiam, mencerna kata-kataku. Lalu, dengan suara yang lebih lirih, dia berkata, “Aku lelah berpura-pura.”
Aku mencondongkan tubuh ke depan, menatapnya dengan lembut. “Lalu kenapa kamu masih melakukannya?”
Dia menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Karena itu lebih mudah daripada menghadapi konsekuensinya.”
Aku memahami maksudnya. Jika dia mengakui apa yang dia rasakan, itu berarti dia harus melakukan sesuatu tentang itu. Dan jika dia melakukan sesuatu, maka akan ada orang yang tersakiti.
Aku tidak ingin menekannya lebih jauh, jadi aku hanya berkata, “Kadang-kadang, hal yang lebih sulit justru lebih benar.”
Dia menatapku lama. Aku bisa melihat bagaimana pikirannya bekerja, bagaimana dia menimbang setiap kata yang aku ucapkan.
Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berkata, “Adit… aku takut.”
Aku mengulurkan tanganku, membiarkan jemariku menyentuh jemarinya. Aku tidak menggenggamnya, tidak memaksanya, hanya memberi kehangatan yang mungkin dia butuhkan.
“Apa yang kamu takutkan?” tanyaku lembut.
Dia menatap tangan kami yang hampir bersentuhan, lalu menutup matanya sesaat sebelum berkata, “Aku takut kehilangan kendali. Aku takut jika aku terus seperti ini… aku tidak akan bisa berhenti.”
Aku bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya sedikit gemetar, tapi dia tidak menariknya. Dia membiarkan sentuhan kecil itu ada di sana, membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang selama ini dia coba tolak.
Aku mengencangkan rahangku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. “Mungkin, yang kamu butuhkan bukan berhenti. Mungkin, yang kamu butuhkan adalah jujur pada dirimu sendiri.”
Dia menarik napas dalam, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Aku bisa melihat bagaimana dia berusaha keras melawan perasaannya, tapi aku juga bisa melihat bagaimana pertahanannya mulai runtuh.
Aku menatapnya lekat-lekat. “Anya…”
Dia mengangkat wajahnya perlahan, matanya kini berkaca-kaca, penuh dengan emosi yang tidak lagi bisa dia sembunyikan.
Aku tahu ini adalah momen penentuan.
Jika dia pergi sekarang, maka dia masih memiliki kesempatan untuk mundur, untuk kembali ke hidupnya yang dulu. Tapi jika dia tetap di sini… jika dia tetap menatapku seperti ini… maka dia sudah melewati batas yang tidak bisa lagi dia kembalikan.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia menoleh ke jendela, menatap jalanan yang mulai sepi.
“Aku harus pulang,” katanya pelan.
Aku mengangguk, tidak ingin memaksanya. “Aku mengerti.”
Dia bangkit dari kursinya, mengambil tasnya, lalu menatapku sekali lagi. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Sebuah keputusan.
Tapi aku tidak tahu keputusan seperti apa yang dia buat.
Lalu, sebelum dia benar-benar pergi, dia berkata dengan suara yang begitu pelan, hampir seperti gumaman, “Aku tidak tahu apakah aku bisa menjauh darimu, Adit.”
Dan saat dia melangkah keluar dari kafe, aku tahu satu hal pasti.
**Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa lagi dihentikan.**