Anya terdiam cukup lama setelah kata-kataku. Dia menatap ke arah meja, jari-jarinya masih menggenggam cangkir yang sudah mulai dingin. Aku bisa melihat dadanya naik turun, seolah dia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Aku tidak terburu-buru. Aku membiarkan dia tenggelam dalam pikirannya, membiarkan setiap kata yang telah kuucapkan menggema di kepalanya.
Akhirnya, dia mendesah panjang. “Aku merasa seperti orang jahat.”
Aku tersenyum kecil. “Kenapa?”
Dia mendongak, menatapku dengan ekspresi terluka. “Karena aku di sini bersamamu, sementara di rumah ada seseorang yang menungguku.”
Aku menatapnya dalam, lalu berkata dengan tenang, “Kalau kamu merasa bersalah, kenapa kamu tetap datang?”
Dia terdiam, bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Aku tahu dia sedang mencari alasan, mencari pembenaran, tapi pada akhirnya, dia tahu tidak ada jawaban yang benar.
Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya tanpa ragu. “Anya, aku tidak memaksamu untuk datang. Kamu yang memilih ada di sini.”
Dia menggigit bibirnya, menundukkan kepala. “Aku tahu.”
Aku bisa melihat air matanya menggantung di pelupuk mata. Dia benar-benar tersiksa oleh perasaannya sendiri, terjebak di antara dua dunia yang bertentangan—dunia di mana dia adalah istri yang setia, dan dunia di mana dia bisa merasa bebas bersamaku.
Aku menarik napas pelan. “Anya...”
Dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan penuh kebingungan.
“Apa yang benar-benar kamu inginkan?” tanyaku.
Dia terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Adit.”
Aku tersenyum kecil, menatapnya dengan lembut. “Kalau begitu, kenapa kita tidak berhenti berpikir dan hanya mengikuti apa yang kita rasakan?”
Dia menelan ludah, seolah berusaha memahami maksud dari kata-kataku.
Aku melanjutkan, “Kita tidak perlu memberi label pada ini. Kita tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Kita hanya... membiarkan segalanya mengalir.”
Anya menggelengkan kepala dengan lemah. “Tapi kalau aku terus seperti ini... aku takut aku tidak bisa kembali.”
Aku menatapnya dalam. “Mungkin karena bagian dari dirimu memang tidak ingin kembali.”
Dia menutup matanya sesaat, menghembuskan napas berat. “Aku tidak ingin menyakiti siapa pun, Adit.”
Aku menyentuh jemarinya, hanya sebentar, tapi cukup untuk membuatnya merasakan bahwa aku ada di sini. “Terkadang, kita hanya perlu memilih kebahagiaan kita sendiri.”
Dia menatap tanganku yang menyentuhnya, lalu mengangkat wajahnya kembali ke arahku. Ada sesuatu yang berbeda di matanya kali ini. Bukan hanya kebimbangan, bukan hanya ketakutan.
Ada **keinginan**.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku membiarkan dia mengambil keputusan sendiri.
Dan ketika dia akhirnya menghela napas panjang dan berkata dengan suara lirih, “Aku tidak tahu apa yang aku lakukan,” aku tahu satu hal pasti...
**Dia tidak lagi berusaha melarikan diri.**