Anya menatapku lama. Tatapan itu berisi kebingungan, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang dia sendiri mungkin belum siap akui. Aku bisa melihat napasnya yang sedikit berat, bagaimana jari-jarinya mencengkeram cangkirnya dengan erat, seolah benda itu satu-satunya hal yang bisa menahannya tetap waras.
“Adit...” suaranya nyaris berbisik.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tenang, membiarkan dia berjuang dengan pikirannya sendiri. Aku tahu dia sedang mencari alasan untuk tetap berada di jalur yang benar, mencari pegangan agar tidak terjerumus lebih jauh.
Tapi masalahnya, **dia sudah terjerumus**.
Dia menghela napas panjang, menunduk, lalu kembali menatapku dengan mata yang dipenuhi kebimbangan. “Kenapa kamu selalu ada di sini?”
Aku tersenyum tipis. “Karena mungkin, tanpa kamu sadari, kamu yang selalu mencariku.”
Dia terkesiap, bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Aku bisa melihat bagaimana pikirannya bekerja keras, bagaimana dia mencoba menyangkal sesuatu yang sudah terlalu jelas untuk diabaikan.
Aku menyandarkan tubuhku ke kursi, menyesap kopi dengan santai. “Anya, kita hanya berbicara. Tidak ada yang salah dengan itu.”
Dia tertawa kecil, getir. “Kamu selalu mengatakan itu.”
Aku mengangkat bahu. “Karena itu benar.”
Dia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang mulai gelap. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Dia memikirkan Bayu, suaminya. Memikirkan kehidupan yang telah dia bangun, janji yang telah dia buat, dan bagaimana semuanya mulai terasa seperti beban yang menghimpitnya.
“Aku mencintai Bayu,” katanya tiba-tiba.
Aku tidak terkejut. Aku tahu dia akan mengatakan itu.
“Tentu saja,” jawabku santai.
Dia menatapku, seolah tidak percaya dengan reaksiku. “Aku serius.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
Dia mengerutkan kening. “Lalu kenapa kamu tetap di sini?”
Aku meletakkan cangkirku, menatapnya dengan mata yang tajam. “Karena mencintai seseorang tidak selalu berarti kamu bahagia bersamanya.”
Hening.
Aku bisa melihat kata-kataku menghantamnya. Bisa melihat bagaimana dia menelan ludah, bagaimana napasnya menjadi tidak beraturan.
“Aku bahagia dengan Bayu,” katanya, tapi suaranya terdengar lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada berbicara kepadaku.
Aku tersenyum kecil. “Kalau benar begitu, kenapa kamu ada di sini sekarang?”
Dia terdiam.
Matanya mencari ke mana-mana, ke arah jendela, ke arah pelayan yang sedang berjalan, ke arah cangkirnya. Tapi dia tidak melihatku.
Karena dia tahu aku benar.
Aku tidak perlu mendesaknya lebih jauh. Aku sudah cukup lama bermain di dalam pikirannya, membiarkannya mengisi celah itu sendiri.
Akhirnya, dia menghela napas panjang, hampir seperti menyerah. “Aku tidak tahu.”
Aku menatapnya dalam. “Mungkin karena di sini... kamu bisa menjadi dirimu sendiri.”
Dia mengangkat wajahnya dengan cepat, menatapku dengan mata yang melebar.
Aku melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. “Di sini, kamu tidak perlu menjadi istri yang sempurna. Tidak perlu berpura-pura bahagia. Kamu hanya bisa menjadi Anya.”
Aku melihat bagaimana matanya sedikit berkaca-kaca. Aku tidak tahu apakah itu karena aku menyentuh sesuatu yang benar-benar dalam, atau karena dia akhirnya sadar betapa kesepiannya dia selama ini.
“Adit... aku takut.”
Aku menyentuh jemarinya, hanya sebentar, hanya sekelebat, tapi cukup untuk membuatnya merasakan kehangatan yang aku tawarkan.
“Apa yang kamu takutkan?” tanyaku.
Dia menarik napas dalam, menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu.”
Aku tersenyum tipis. “Kalau kamu tidak tahu apa yang kamu takutkan, mungkin itu artinya... kamu hanya takut menghadapi perasaanmu sendiri.”
Dia menatapku lama, dan aku tahu...
**Celah itu bukan lagi sekadar jurang. Dia sudah mulai melangkah ke dalamnya.**