Aku tidak langsung menghubungi Anya setelah pertemuan itu. Aku ingin tahu apakah dia akan mencari aku lebih dulu. Jika dia melakukannya, itu berarti dia sudah melewati batas dalam pikirannya sendiri, bahkan jika dia belum mengakuinya secara langsung.
Dua hari berlalu. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Aku tahu dia sedang berusaha menjaga jarak, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini tidak berarti apa-apa.
Tapi aku juga tahu sesuatu yang lebih penting.
Jika seseorang harus **meyakinkan diri sendiri** bahwa sesuatu **tidak berarti apa-apa**, itu berarti **sesuatu itu sudah mulai berarti**.
Hari ketiga, ponselku bergetar.
Dari Anya.
_Apa kamu ada di kafe sore ini?_
Aku tersenyum tipis. Aku bisa membayangkan bagaimana dia mengetik pesan itu, mungkin menimbang-nimbang selama beberapa menit sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Aku tidak langsung membalas. Aku membiarkannya menunggu, membiarkannya merasa sedikit gelisah. Aku ingin dia benar-benar menyadari bahwa **dia yang membutuhkan aku lebih dari aku membutuhkan dia**.
Lima belas menit kemudian, aku mengetik balasan.
_Ada. Kamu mau bicara?_
Beberapa detik kemudian, dia menjawab.
_Aku tidak tahu. Aku hanya merasa butuh teman._
Aku menatap pesan itu, lalu mengambil kunci mobilku.
---
Ketika aku tiba di kafe, dia sudah ada di sana. Duduk di sudut yang agak tersembunyi, jemarinya menggenggam cangkir kopi yang masih penuh. Dari cara dia duduk, aku tahu dia tidak benar-benar menikmati minumannya.
Aku berjalan mendekat, sengaja tidak langsung menyapanya. Aku ingin dia melihat aku lebih dulu.
Dan benar saja, saat aku hampir sampai di mejanya, dia mengangkat kepala dan menatapku.
Matanya penuh dengan sesuatu yang tidak ada di pertemuan sebelumnya.
Sebuah **penyerahan**.
Sebuah **kesadaran** bahwa dia tidak bisa lagi menghindar dari ini.
Aku menarik kursi dan duduk di depannya. “Hai.”
Anya tersenyum kecil, tapi lelah. “Hai.”
Aku tidak ingin terburu-buru, jadi aku membiarkan keheningan mengisi ruang di antara kami. Aku ingin dia berbicara lebih dulu, ingin dia yang membuka dirinya lebih dalam lagi.
Dan akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia berkata pelan, “Aku lelah, Adit.”
Aku mengangkat alis. “Dengan apa?”
Dia menghela napas panjang. “Dengan semuanya. Dengan kehidupan yang terasa kosong, dengan perasaan bersalah yang selalu menghantuiku, dengan fakta bahwa aku merasa lebih nyaman berbicara denganmu daripada dengan suamiku sendiri.”
Aku tetap diam, membiarkannya mengungkapkan semuanya.
Dia menatapku, seolah mencari jawaban dalam ekspresi wajahku. “Aku seharusnya tidak di sini, kan?”
Aku tersenyum samar. “Kenapa tidak?”
Dia menggigit bibirnya, lalu tertawa kecil—tawa yang penuh kegetiran. “Karena aku tahu ini salah.”
Aku menatapnya dalam, lalu berkata dengan suara yang lembut, “Kalau ini salah, kenapa rasanya begitu benar?”
Aku melihat dia menelan ludah, tangannya mengepal di atas meja. Dia tahu aku sedang bermain-main dengan pikirannya, tapi dia tidak bisa menghindarinya.
Karena jauh di lubuk hatinya, dia ingin percaya bahwa **aku benar**.
Aku meraih cangkir kopiku dan menyesapnya perlahan, menunggu reaksinya.
Dan saat dia tidak segera menjawab, aku tahu...
**Celah itu bukan lagi sekadar retakan. Itu sudah menjadi jurang yang siap menelannya kapan saja.**