Anya terdiam cukup lama setelah kata-kataku meluncur. Matanya menatap kosong ke dalam cangkirnya, seolah mencari jawaban di dalam cairan hitam pekat itu. Aku bisa melihat dadanya naik turun lebih cepat, pertanda bahwa pikirannya berkecamuk.
Aku tidak menekan. Aku tidak berbicara lagi. Aku membiarkan keheningan itu bekerja, membiarkan pikirannya berputar dengan sendirinya. Jika aku mengatakan terlalu banyak, dia mungkin akan tersadar dan melangkah mundur. Tapi jika aku membiarkannya memikirkan semuanya sendiri, dia akan jatuh lebih dalam ke dalam perangkap yang—tanpa sadar—sudah dia ciptakan sendiri.
Lalu, perlahan, dia mendongak dan menatapku. Ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Adit...” suaranya lirih.
Aku menunggu.
“Aku…” Dia menggigit bibirnya, lalu menggelengkan kepala kecil. “Aku tidak tahu kenapa, tapi... aku merasa nyaman berbicara denganmu.”
Aku menahan senyumku, menjaga ekspresiku tetap tenang. “Itu hal yang baik, kan?”
Dia tertawa kecil, tapi terdengar getir. “Aku tidak tahu apakah ini baik atau justru berbahaya.”
Aku bisa merasakan ketakutan dalam suaranya—bukan takut padaku, tapi takut pada perasaannya sendiri. Dia menyadari bahwa dia telah membiarkan seseorang masuk terlalu jauh ke dalam ruang pribadinya. Tapi yang lebih penting, dia menyadari bahwa dia **tidak ingin aku pergi**.
Dan itulah celah yang selama ini aku tunggu.
Aku menarik napas pelan, berpura-pura ragu sebelum berkata, “Kita hanya berbicara, Anya. Tidak ada yang salah dengan itu.”
Dia menatapku, mencoba mencari kepastian dalam kata-kataku. Aku tahu bahwa dia ingin percaya bahwa ini semua memang sesederhana itu—bahwa pertemuan-pertemuan kami hanyalah obrolan biasa, bahwa tidak ada yang berubah dalam dirinya sejak aku hadir.
Tapi dia tahu itu bohong.
Aku tahu itu bohong.
Dia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku... aku harus pulang.”
Aku mengangguk, tidak ingin membuatnya merasa bersalah. “Tentu. Aku juga harus pulang.”
Tapi sebelum dia berdiri, aku meletakkan tanganku di atas meja, tidak menyentuhnya, hanya cukup dekat untuk membuatnya merasakan keberadaanku.
“Anya.”
Dia berhenti, menoleh ke arahku.
Aku tersenyum samar. “Jangan terlalu banyak berpikir, ya?”
Dia tidak menjawab, hanya menatapku sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan pergi.
Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, lalu menarik napas dalam.
**Aku baru saja mengambil satu langkah kecil menuju sesuatu yang jauh lebih besar.**
Dan aku tahu…
**Dia juga telah melangkah ke arah yang salah.**