Aku bisa merasakan atmosfer di antara kami berubah. Ini bukan lagi sekadar perbincangan ringan antara dua orang asing yang kebetulan akrab. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih personal, dan lebih berbahaya.
Anya masih menunduk, jemarinya menggenggam cangkir di depannya, seolah sedang mencari pegangan di tengah badai pikirannya sendiri. Aku tidak berkata apa-apa, membiarkannya bergulat dengan perasaan yang mungkin selama ini dia coba abaikan.
Keheningan di antara kami berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Aku memperhatikannya dengan saksama—gerakan kecil di bibirnya saat dia menggigit bagian dalam pipinya, cara napasnya sedikit lebih berat, dan bagaimana tatapannya sesekali melirik ke arahku sebelum buru-buru menghindar.
Aku tahu aku tidak bisa terburu-buru. Tapi aku juga tahu, jika aku tidak mengambil langkah sekarang, celah itu bisa menutup kembali.
Jadi aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mempertahankan nada suara yang tenang, hampir berbisik.
“Anya...”
Dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan sorot mata yang penuh kebimbangan.
“Apa?” suaranya hampir tak terdengar.
Aku menatapnya dalam, membiarkan keheningan kembali mengisi ruang di antara kami sebelum akhirnya berkata, “Kamu tidak perlu merasa sendirian.”
Sederhana, tapi aku tahu itu menghantamnya tepat di titik terlemahnya.
Anya menarik napas dalam, menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—seakan di antara keinginan dan ketakutan.
Dan saat dia tidak langsung menjawab, aku tahu...
**Dia sedang mempertimbangkan sesuatu yang seharusnya tidak dia pertimbangkan.**