Aku tahu bahwa sesuatu telah berubah dalam diri Anya. Semakin sering kami bertemu, semakin aku melihat caranya menatapku berbeda. Ada keraguan di matanya, ada kebingungan yang tak bisa dia sembunyikan. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain—sebuah keinginan yang mungkin bahkan dia sendiri belum berani akui.
Hari itu, kami bertemu di tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian kafe tempat kami biasa berbincang. Aku memilih restoran kecil dengan pencahayaan remang-remang, suasana yang lebih tenang, lebih personal. Aku ingin menciptakan ruang di mana dia bisa merasa lebih nyaman—atau justru lebih gelisah dengan kehadiranku.
Anya datang sedikit terlambat, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Aku memperhatikan bagaimana dia menarik napas sebelum duduk di hadapanku, seolah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah pertemuan biasa.
Tapi aku tahu lebih dari itu.
Percakapan kami mengalir seperti biasa, ringan pada awalnya. Tapi seiring waktu berlalu, nada suaranya berubah. Aku mendengar keluhan tersirat tentang bagaimana rumahnya semakin terasa sunyi, bagaimana Bayu semakin sibuk, bagaimana dia sering merasa sendirian meskipun ada seseorang di sampingnya.
Dan saat dia menatapku, aku melihatnya—**celah yang semakin lebar itu**.
Aku tidak perlu berkata banyak. Aku hanya mendengarkan, sesekali menanggapi dengan tatapan yang penuh pengertian. Aku tahu bahwa diamku lebih berbicara daripada ribuan kata.
Lalu, di tengah percakapan, sesuatu terjadi.
Dia berhenti berbicara, menatapku sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kamu selalu ada di sini, ya?”
Aku bisa merasakan ketegangan dalam suaranya, sebuah pengakuan tersirat yang tidak dia sadari.
Aku tersenyum tipis. “Mungkin karena aku menikmati berbicara denganmu.”
Dia menunduk, mengaduk minumannya perlahan, seolah sedang berjuang dengan pikirannya sendiri.
Dan saat itu, aku tahu...
**Aku hanya tinggal selangkah lagi.**