Hari-hari berikutnya berjalan sesuai dengan yang aku rencanakan. Aku tidak pernah memaksanya untuk bertemu, tidak pernah mendesaknya untuk berbicara lebih banyak. Aku hanya menjadi seseorang yang ada di sana, seseorang yang selalu menyambutnya dengan senyum ramah, dengan percakapan ringan yang semakin lama semakin dalam.
Aku membiarkannya yang mencari aku. Aku membiarkannya yang mengirim pesan lebih dulu. Aku membiarkannya merasa bahwa ini bukan aku yang mengejarnya, tapi dia yang mulai mendekat.
Dan itu berhasil.
Dia mulai mengeluh tentang suaminya—tentang bagaimana Bayu semakin sibuk, tentang bagaimana mereka hampir tidak pernah makan malam bersama lagi, tentang bagaimana dia mulai merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Aku tidak memberikan pendapat. Aku tidak mengatakan hal-hal seperti, "Mungkin dia memang tidak peduli padamu," atau "Kalau aku jadi suamimu, aku tidak akan membiarkanmu merasa seperti itu."
Tidak.
Aku hanya mendengarkan.
Dan semakin aku mendengarkan, semakin dia terbuka.
Aku mulai melihat perubahan dalam caranya memandangku. Awalnya dia hanya melihatku sebagai seorang teman bicara, seseorang yang bisa dia ajak berbagi cerita. Tapi perlahan, aku melihat sesuatu yang lain dalam tatapannya—sesuatu yang lebih dalam, lebih personal.
Aku melihat bagaimana dia mulai membandingkan aku dengan suaminya. Aku melihat bagaimana dia mulai tersenyum sedikit lebih lama saat berbicara denganku. Aku melihat bagaimana dia mulai mencari alasan untuk tetap berada di dekatku.
Aku tahu saat itu aku sudah memenangkan setengah permainan ini.