Aku tidak langsung menghubunginya setelah pertemuan pertama itu. Aku ingin dia yang terlebih dahulu memikirkan aku, membiarkan percakapan kami terngiang dalam benaknya. Aku ingin dia mulai bertanya-tanya, ingin dia mulai merasakan sesuatu yang mungkin belum pernah dia sadari sebelumnya—sebuah kekosongan yang perlahan mulai terisi oleh kehadiranku.
Dua hari berlalu. Aku menahan diri untuk tidak menghubunginya. Aku tahu, jika seseorang cukup penasaran, mereka sendiri yang akan mencari jalan untuk bertemu lagi.
Dan benar saja, hari ketiga, aku kembali ke kafe yang sama. Bukan karena aku yakin dia ada di sana, tapi karena aku ingin memberinya kesempatan untuk merasa bahwa ini bukan kebetulan.
Ketika aku membuka pintu dan melihatnya duduk di tempat yang sama, aku tahu bahwa aku sudah mulai masuk ke dalam pikirannya.
Anya melihat ke arahku sejenak. Ada sedikit keterkejutan di matanya, tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Aku tersenyum tipis, cukup untuk menunjukkan bahwa aku tidak sengaja datang ke sini untuknya (meskipun itu jelas kebohongan).
Aku berjalan ke meja sebelahnya, duduk, dan memesan kopi. Aku tidak langsung menyapanya. Aku membiarkannya merasa ingin berbicara lebih dulu.
Dan benar saja.
“Sering ke sini, ya?” tanyanya, membuka percakapan.
Aku menoleh dan tersenyum. “Cukup sering. Tempatnya nyaman, kopinya enak. Dan ternyata aku bukan satu-satunya yang berpikir begitu.”
Dia tertawa kecil, kali ini lebih lepas dibanding pertemuan pertama. Itu tanda yang bagus.
Kami kembali berbicara. Kali ini, dia lebih terbuka. Dia mulai bercerita tentang pekerjaannya, tentang bagaimana dia merasa bosan dengan rutinitas yang sama setiap hari. Aku mendengarkan, menanggapi dengan tepat, membuatnya merasa bahwa apa yang dia katakan penting.
Lalu, akhirnya, aku mendapatkan celah itu.
Aku bertanya dengan nada santai, “Suamimu tidak keberatan kamu sering ke sini sendirian?”
Dia terdiam sejenak. Aku bisa melihat matanya berubah, seperti seseorang yang tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang telah lama dia abaikan.
“Dia... sibuk,” katanya akhirnya, suaranya sedikit lebih pelan. “Akhir-akhir ini dia lebih sering bekerja lembur.”
Aku mengangguk mengerti, tapi tidak memberikan tanggapan langsung. Aku ingin dia sendiri yang melanjutkan, ingin dia yang mengungkapkan lebih banyak lagi.
“Kami jarang punya waktu bersama,” lanjutnya. “Kadang aku merasa... aku tidak tahu. Seperti ada jarak yang semakin lebar di antara kami.”
Aku tetap diam, membiarkannya berbicara. Aku tidak perlu mengatakan apa pun. Aku hanya perlu menjadi seseorang yang mendengar.
Karena terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah solusi. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam kebingungan mereka.
Dan di sinilah aku berada.